
Zella berusaha meredam segala kobaran kemarahan yang menyala melihat Shamil yang berlaku lembut padanya. Sedang di belakangnya, dia berbahagia dengan suaminya, lebih parahnya, dia adalah istri kedua suaminya.
Ya Rabb, kuatkan aku agar aku tidak marah, kuatkan aku agar bisa menutupi rasa sakitku. Aku sangat ingin menganggap pernikahan kedua suamiku hanya sebuah mimpi buruk, tapi rasa sakitnya begitu menyiksaku di alam sadar bahkan alam bawah sadar. Batin Zella.
Ceklak! Pintu ruang penanganan itu kembali terbuka. Terlihat seorang laki-laki paruh baya mengenakan jas putihnya.
"Keluarga bu Mayang."
"Kami berdua anak bu mayang." Akhsan mendekati dokter itu bersama Ranti.
"Bu Mayang harus menjalani pemeriksaan lanjutan, semoga tidak ada masalah serius pada kesehatan beliau. Karena saat ini beliau kesulitan bicara, beruntung beliau masih bisa menggerakan anggota badannya, tadinya kami khawatir beliau mengalami stroke. Semoga ini bukan tanda penyakit serius yang belum diketahui."
"Lakukan yang terbaik untuk ibu kami, dok." ucap Akhsan.
"Sebentar lagi bu Mayang akan dipindahkan ke ruang perawatan, silakan urus keperluan lainnya." setelah menjelaskan keadaan Mayang, dokter dan perawat itu pergi.
"Zella! Semua tabungan ibu kan kamu yang pegang, kamu urus semuanya!" perintah Ranti.
"Maaf, aku tidak pegang uang sendiri dan juga nggak pegang uang ibu, semua uang ibu aku simpan di bank. Kamu kan punya finansial yang berlebih dari Kak Akhsan, mengapa nggak kamu saja yang talangin biaya pengobatan ibu?"
Ranti salah tingkah, dia bingung menolak dan menghindar dengan cara apa.
"Tinggal ke ATM sebentar tarik uang tabungan ibu apa susahnya?" ucap Akhsan tertuju pada Zella.
"Aku abis jualan, nggak bawa ATM ibu, mana bisa aku narik cepat, apa aku harus pulang dulu, ambil ATM terus balik lagi?" balas Zella.
"Maaf menyela. San bagaimana kalau aku saja yang bantu pembayarannya?" sela Shamil.
"Tapi--" Akhsan bingung menolak dengan keinginan Shamil.
"Ide bagus, Kak Akhsan temani Shamil untuk mengurus ruangan dan pembayaran jika ada yang harus dibayar. Nanti kita ganti uang Shamil," sela Ranti.
Akhsan segera pergi bersama Shamil. Zella membuang pandangannya ke arah lain, dia takut hatinya tidak mampu lagi menahan segalanya.
"Harusnya perempuan hebat seperti Shamil yang menjadi istri Kak Akhsan, bersama Shamil kehidupan Kakakku pasti akan lebih baik."
"Ku rasa keinginanmu itu sudah jadi kenyataan."
"Maksudmu?"
"Bukan apa-apa." Zella mengabaikan Ranti.
"Kalau ngomong yang benar! Cukup hidupmu saja tidak benar karena jadi benalu dalam kehidupan Kakakku," omel Ranti.
"Ya ... aku cuma bantu do'a semoga harapanmu supaya Kakakmu hidup lebih baik segera jadi nyata!"
"Akan jadi nyata, jika teman hidup Kakakku nggak cuma numpang makan kayak kamu!" maki Ranti.
"Dalam pandanganmu, kehidupan Kakakmu akan lebih baik jika tidak ada aku, semoga itu benar terjadi. Karena ada yang hanya baik dalam khayalan, tapi pahit pada kenyataan. Siapa tahu hidup Kakakmu lebih sulit saat tidak bersamaku," balas Zella.
__ADS_1
"Apa maksudmu, heh!?" Ranti tidak terima dengan ungkapan Zella.
"Keluarga bu Mayang, atas nama Zella!" panggil salah satu perawat.
"Saya sus." Zella segera mendekati perawat yang memanggilnya.
"Anda dicari bu Mayang, lebih baik Anda temani beliau di dalam," pinta perawat.
"Baik sus."
Ranti semakin geram mengetahui ibunya hanya mencari Zella. "Nggak Bapak, nggak ibu, Zella aja! Kayak nggak punya anak saja!"
***
Seminggu berlalu. Zella tidak bisa berjualan, karena mengurus mertuanya. Tidak ada yang mengkhawatirkan, Mayang hanya tidak bisa berbicara, diagnosa dokter, Mayang kelelahan dan stress. Karena kesehatan lain tidak bermasalah, setelah 3 hari berada di Rumah Sakit, Mayang diperbolehkan pulang.
Selama di Rumah Sakit dan yang menemani Mayang di rumahnya hanya Zella yang ada untuknya. Seperti yang telah lalu, Ranti sibuk bekerja, begitu juga Akhsan. Wajar saja jika Mayang sangat menyangi Zella. Karena hanya Zella yang begitu perhatian padanya.
Sedang Indri, masih sibuk mencari tahu kebenaran dari salah satu warga yang sangat membenci Taufik dan Nadi. Bahkan Indri meminta bantuan Alvin untuk mencari tahu informasi yang tidak bisa dia korek sendiri.
Pagi minggu. Seharusnya Ranti dan Akhsan ada di rumah, tapi sejak pagi keduanya menghilang. Beruntung ada Tifa dan Fiqri di rumah itu, suara tawa mereka seketika memecah kesunyian.
"Ibu mikirin apa sih sampai ibu bisa begini?" Zella memijat kaki mertuanya.
Sorot mata Mayang memancarkan kesedihan, tapi dia tidak bisa mengutarakan kesedihannya lewat lisan. Hanya air mata yang memperlihatkan kesedihan dan rasa sakitnya.
Zella mengusap air mata Mayang yang terus menerus menetes. "Bu ... kalau ada sesuatu yang ingin ibu katakan, tulis saja di kertas atau ketik di handphone, jangan ditahan dan di pendam terus menerus."
Mayang tidak merespon, dia membuka kedua tangannya meminta Zella untuk masuk ke pelukannya. Zella tersenyum, dia memahami hal itu dan langsung memeluk mertuanya.
"Kalau ini aku tahu, tanpa ibu katakan pun aku tahu ibu sayang aku."
Namun kehangatan itu harus terhenti, karena deringan handphone Zella. Zella mengintip layar benda pipih persegi panjang itu, melihat ibunya yang memanggil, Zella izin menerima panggilan itu pada Mayang.
"Iya ma." sapa Zella.
"Mama sudah menemukan apa tujuan Shamil mendekati Akhsan!"
Merasa ini bahasan sensitif bagi kesehatan mertuanya, Zella izin untuk keluar kamar, alasannya suara ibunya terdengar tidak jelas. Merasa berada di tempat aman, Zella kembali berbicara pada ibunya.
"Terus bagaimana ma?"
"Kita harus temui Shamil, kita bicara sama dia."
Fokus Zella terbagi, karena sebuah mobil memasuki rumah mertuanya, terlihat Shamil dan Akhsan keluar dari mobil yang sama.
Mulai berani terang-terangan mereka! Batin Zella.
"Mama mau bicara apa? Saat ini orangnya ada di rumah mertua aku." Tanpa mengucap salam, Zella memutus sambungan teleponnya. Dia langsung menghampiri Akhsan dan Shamil.
__ADS_1
"Kok bisa kalian datang bareng?" tanya Zella.
"Bisa lah! Kita baru selesai rapat kerja, nggak kayak kamu senin sampai senin lagi rebahan mulu di rumah!" tiba-tiba Ranti juga keluar dari mobil Shamil.
Wah, makin akrab mereka, sepertinya aku tidak bisa sabar lagi, kata hati Zella.
"Langsung masuk aja Mil, anggap rumah sendiri," ujar Ranti.
Mereka bertiga beriringan memasuki rumah orang tua Akhsan. Zella mengekori mereka paling belakang, sengaja ingin melihat seberani apa mereka. Saat di dalam rumah, ibu Akhsan sudah duduk di sofa, sorot matanya yang tertuju pada Shamil, sangat tidak bersahabat.
"Oh iya bu, aku, Akhsan, dan Ranti habis rapat, selesai rapat kami belanja sebentar, ini ada buah-buahan segar, buat ibu." Shamil memberikan kantong belanja yang berisi aneka buah pada Mayang.
Brakkkk!
Kantong itu memang diterima Mayang, namun sedetik kemudian Mayang melempar semuanya, membuat buah-buahan itu berserakan di lantai. Ingin rasanya Mayang melontarkan sumpah serapah untuk wanita itu, tapi dia tidak kuasa menggerakan lidahnya.
Melihat hal itu, rasanya Zella memahami sesuatu, karena ibu mertuanya sangat membenci Shamil. Apa ibu sudah tahu tentang mereka? Batin Zella.
"Ibu!" Ranti syok dengan perbuatan ibunya. "Maafin ibuku ya Mil, pasti ibu begini ada yang menghasut," sesal Ranti.
"Aku?" sambar Zella.
"Bagi yang merasa aja!" balas Ranti sinis.
"Zella nggak mungkin begitu Ran, aku dan Zella teman semasa kecil," bela Shamil.
"Kamu terlalu baik Mil, orang begitu aja di puji!" Ranti tetap sinis pada Zella.
"Bukan aku yang baik, Zella yang baik, aku merasa hutang jasa pada dia dan ibunya," ucap Shamil.
"Tapi aku tidak merasa melakukan apa-apa untuk hidupmu," sambar Zella.
"Ada, Zell. Kalau bukan kamu dan ibumu yang meyakinkan Nenekku agar membiarkan aku kuliah, aku tidak akan sampai di posisiku saat ini. Karena Nenekku akan mengekangku," jelas Shamil.
"Keberhasilanmu saat ini, aku tidak punya andil, karena semuanya berkat kerja kerasmu dan bantuan dari kedua orang tuamu." balas Zella.
"Ada, kalau bukan kamu dan ibumu, Nenekku tidak akan membiarkanku kuliah, dia akan kekeh dengan keinginan dia."
"Owh, jadi aku turut berjasa dalam hidupmu?" ucap Zella.
"Iya, rasanya aku tidak bisa membalas jasamu, Zell."
Mendengar hal itu, Mayang semakin murka, rasanya api menyala di bola matanya.
Zella berjalan mendekati Shamil, hingga saat ini keduanya saling berhadapan. "Kamu merasa aku dan ibuku ada jasa dalam hidupmu?"
"Ya." Shamil tersenyum, membuat Akhsan semakin terpesona padanya.
"Tapi mengapa kamu tega mengambil apa yang telah Tuhan berikan untukku." Tatapan Zella tertuju pada Akhsan.
__ADS_1