
"Setelah ini kamu mau tinggal di mana, Zell?" tanya Indri.
"Kalau belum ada tempat tinggal, aku punya beberapa rumah kosong yang ada di desa Arum Baru," sela Alvin.
Sedesa sama Taufik? Ini menambah masalah, bukan mengurangi masalah, batin Zella.
"Kalau tinggal di desa Arum baru, jaraknya ke sekolah Tifa tidak jauh. Walau kamu punya masalah, pendidikan Tifa tidak akan terganggu. Terus Tifa juga suka di sana, karena banyak teman, iya kan, Tifa?" ucap Alvin, pandangan matanya tertuju pada Tifa.
"Iya aku suka, di sana banyak teman main petak umpet, rumah-rumahan. Jarang sekali aku bisa main itu karena temanku sepulang sekolah hanya Fiqri."
Indri membisu, Zella tinggal sedesa Taufik, itu bukan ide bagus. Tapi jika menolak ide itu, dia juga bingung harus ke mana, tempat yang nyaman bagi Zella, tapi juga tidak mengganggu sekolah Tifa. Tidak terasa mereka sampai di rumah Zella. Indri turun lebih dulu untuk membuka pintu rumah itu.
"Aku nggak akan ke mana-mana. Rumah ini milikku." Zella menatap rumah di depannya.
"Tifa sayang, kamu istirahat dulu ya, kamar kamu sudah Nenek beresin," ucap Indri. Dia tidak ingin Tifa merekam lebih banyak obrolan mereka.
"Kan aku sudah kasih saran. Jangan gugat harta gono-gini kalau mau perceraianmu cepat selesai!" tegur Alvin.
"Kita bicara di dalam," sela Indri
Mereka semua masuk ke dalam rumah. Alvin masih kesal dengan keputusan Zella. Tetap tinggal di rumah ini tentu membuat Aksan leluasa mendatangi Zella. Alvin hanya berusaha melindungi Zella, karena dia menganggap Zella keluarganya.
"Nak Alvin benar, Zella. Kalau kamu menginginkan rumah ini, sama saja ada urusan harta gono-gini di perceraian kamu," ucap Indri.
"Pergi membawa badan dan Tifa saja? Aku nggak sebaik itu ma. Mama sendiri sudah cerita ke aku tentang tujuan Shamil menjerat Akhsan. Akan ku buat dia tidak mudah meraih tujuannya itu!" Zella berjalan menuju lemari, dan mengambil sesuatu.
"Ini, keterangan hukum kalau aku pemilik rumah ini. Orang Tua Akhsan yang memberikan rumah ini untukku. Karena jika harta itu atas namaku, Akhsan masih bisa menikmatinya. Tapi jika atas nama Akhsan, dipastikan dalam waktu yang singkat, properti itu akan pindah kepemilikan menjadi milik Ranti."
"Tapi Akhsan pastinya tidak akan memberikan rumah ini begitu saja, tentu dia ingin memiliki rumah ini, Zella!" Indri hanya ingin proses cerai itu berjalan mudah tanpa urusan lain yang membuat semua berjalan lambat.
"Dia tahu kalau rumah ini milikku, jika dia tidak terima, dia sendiri juga tersiksa karena tertahan untuk bisa meresmikan hubungan mereka. Jika dia ingin bercerai cepat, tentu akan merelakan rumah ini untukku dan anaknya."
"Terserah kamu saja, Zella. Aku hanya memberikan saran." Indri mengurut pelipisnya yang mulai berdenyut.
Di sisi lain.
Shamil masih dijamu di rumah Ranti. Keributan sebelumnya seperti tidak berkesan untuk mereka. Shamil dan Ranti terus berbincang banyak hal, dari pekerjaan hingga hobi mereka. Terselip tawa ditengah obrolan keduanya. Hanya Akhsan yang terlihat berbeda. Dia membisu, pandangan matanya tertuju pada foto keluarga, di mana ada dirinya dan Zella, ada Ranti, dan juga kedua orang tua mereka. Akhsan terbayang kebahagiaan keluarga mereka saat Ayahnya masih ada.
Bapak merasa, Zella adalah wujud dari do'a-do'a kami yang selalu kami panjatkan. Kami meminta anak yang perhatian, penyayang, dan penuh cinta. Semua itu tidak ada pada kamu atau Ranti. Tapi Bapak melihat dan merasakan semua itu dari Zella.
Allah kabulkan do'a kita, dengan memberi kita menantu seperti Zella, Pak.
Kedua orang tuanya tidak pernah protes pada Zella. Yang ada hanya pujian yang terus mereka ucapkan karena bahagia dengan adanya Zella di tengah keluarga mereka. Mengingat bagaimana hancur dan kecewanya perasaan ibunya barusan, Akhsan menarik napasnya begitu dalam. Selama ini dia tidak pernah melihat kekecewaan ibunya seperti tadi.
Sejenak pandangan Akhsan tertuju pada Shamil dan Ranti.
Hanya demi memperjuangkan cintaku, aku menggores luka di hati banyak orang, termasuk wanita yang melahirkan dan membesarkanku.
Akhsan kembali mengehela napasnya dalam-dalam.
Shamil nggak akan pergi, dia akan tetap menjadi bidadariku.
Andai ibu memintaku memilih antara ibu dan Shamil, maaf aku tetap mempertahankan Shamil, apalagi jika pilihannya Zella dan Shamil, tentu aku memilih Shamil.
Akhsan merasa sesak, dia baru menyadari ucapannya pada ibunya sangat kelewatan. Tapi bagaimana bisa dia menarik ucapannya?
Api penyesalan karena menyakiti ibunya mulai menyala di batin Akhsan. Akhsan menahan napasnya, berharap bisa memundurkan waktu dan tidak membentak ibunya, juga tidak berteriak padanya.
Ibu ... maafin aku, aku sangat keterlaluan menyakiti ibu. Jerit hati Akhsan.
"Aba ...." Shamil memanggil Akhsan, tapi laki-laki itu masih tenggelam dengan pemikirannya.
"Aba ...." panggil Shamil lagi, tapi sama.saja tidak ada respon.
Ranti mengikuti arah yang Akhsan pandang, seketika dia geram menyadari Akhsan menatap foto keluarga mereka. Dia segera berjalan ke arah Akhsan, dan berdiri di depan Kakaknya itu.
"Aku tau Kakak nggak suka dengan foto itu, karena ibu sudah nggak ada di rumah ini, foto itu akan aku turunkan." Ranti melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah Akhsan.
__ADS_1
"Maaf menyela kalian, Aba ...." panggil Shamil.
"Iya Amma?"
"Amma dapat telepon, atasan Amma mengundang kita untuk makan malam."
"Amma yakin bisa hadir? Wajah amma." Akhsan mengisyarat wajah Shamil.
"Kita pulang dulu, ntar aku obatin lagi terus tutup dengan make-up ntar ketutupan kok."
"Maafin ibu kami, ya Shamil." sesal Ranti.
"Ibu kalian cuma syok, suatu saat dia akan luluh karena melihat kebahagiaan Akhsan bersamaku. Kebahagiaan seorang ibu itu adalah kebahagiaan anaknya," ucap Shamil.
"Aku nggak sabar menunggu waktu itu tiba, aku saja sangat bahagia karena pernikahan kalian." Ranti langsung menggandeng Shamil. "Nanti jadi belanja bareng?"
"Aku kabarin lagi kalau dekat waktu. Aku mau ajak Akhsan ketemu bos aku, siapa tahu Akhsan menarik perhatian bos dan diberi jabatan yang lebih tinggi." Shamil memberi senyuman termanisnya.
"Ya sudah, sana kalian berangkat. Aku bangga sama kamu!" Pandangan Ranti berpindah pada Akhsan. "Harusnya dari dulu kamu tuh cari istri kayak Shamil, wanita yang meringankan bebanmu!"
"Aku dan Akhsan dari dulu juga udah pacaran, cuma kami harus berbelok menjalani jalan kami masing-masing, hingga cinta kami membuat kami bisa bergandengan dan berjalan bersama di jalan yang sama," sahut Shamil.
"Aku terharu dengan kisah kalian," Ranti kembali memeluk Shamil.
Shamil melepaskan pelukan mereka. "Kami pulang ya Ran, sampai jumpa lagi." Shamil berjalan lebih dulu.
Melihat Shamil sudah menuju pintu, Akhsan mulai mengayunkan kakinya. Namun langkahnya terhenti karena cengkraman tangan Ranti di lengannya.
"Jangan menyesal karena melepaskan Zella!" tegur Ranti.
"Aku tidak menyesal melepaskan Zella, aku hanya menyesal karena menyakiti hati ibu dan berani membentaknya."
"Dengar kata Shamil, suatu saat ibu akan mengerti jika ibu melihat kamu bahagia hidup dengan Shamil. Ibu seperti itu hanya menjaga perasaan Zella. Nikmati kebahagiaanmu, ini sebuah keajaiban, wanita yang lebih hebat darimu, dia mau hidup bersamamu!"
Akhsan merasa ucapan Ranti memang benar. "Aku pergi dulu, semoga harapan Shamil untukku, agar aku mendapat posisi juga terkabul."
"Ranti itu perempuan apa bukan?"
"Entahlah bu, dia manusia atau bukan juga masih misteri."
"Setuju, bukannya berpihak pada Zella, malah dukung pelakor!"
Ranti berdecak kesal, melihat Akhsan sudah pergi, dia masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan keras. Sontak membuat para tetangga terperanjant dengan suara bantingan pintu itu.
"Heran sama laki-laki zaman sekarang, istri kerja, malah selingkuh sama penghuni kasur, alasan istri nggak ada waktu buat dia."
"Bener bu, sudah istri mau duduk manis di rumah, ngurus anak dan ngurus suami sepenuh hati, malah selingkuh sama wanita yang memiliki pekerjaan."
"Mungkin karena Zella miskin, makanya Akhsan cari bini dari keluarga tajir. Lihat aja itu istri mudanya punya mobil!"
"Ada juga bu, laki-laki yang punya istri kaya selingkuh sama wanita nggak punya. Alasannya selingkuhan lebih menghargai dirinya, sedang sama istri dia merasa harga dirinya diinjak."
"Alasan mah bisa dibikin sendiri sesuai keadaan. Itu yang rumah di ujung jalan, alasan dia nikah lagi pengen punya anak, udah punya anak dari istri kedua, tetep aja nikah lagi, entah apa alasannya. Intinya mereka yang selingkuh tidak bisa bersyukur dan tidak bisa ikhlas dengan kehidupan yang ditakdirkan untuknya."
Perbincangan tetangga Ranti, mereka berkumpul di teras rumah yang berdekatan dengan rumah Ranti, sehingga mereka mendengar sebagian pertengkaran yang terjadi sebelumnya. Melihat kepergian Zella bersama ibunya. Juga menyaksikan langsung kepergian Mayang dengan membawa koper besar.
***
Waktu berjalan begitu cepat. Shamil dan Akhsan terlihat begitu menawan. Shamil dengan dress panjang, dan bagian dada setengah terbuka. Sedang Akhsan, dia mengenakan setelan jas yang Shamil sewakan. Keduanya memasuki mobil dan segera menuju tempat makan malam.
"Amma terlalu cantik!" gerutu Akhsan. Sebenarnya dia tidak suka Shamil sedikit terbuka seperti itu jika untuk hadir di tempat umum.
"Harus cantik, biar aba bangga sama amma."
"Tapi aba jadi nggak bisa konsentrasi, bagaimana aba fokus lihat jalan? Matanya aba betah terarah pada dada amma."
"Bukannya tadi sudah di rumah? Masa mau lagi?"
__ADS_1
"Karena melihat ya pengen terus, apa nggak bisa ditutup saja?"
"Menepi!"
Akhsan gelagapan melihat reaksi Shamil, dia merasa Shamil marah karena dia seolah mengatur pakaian Shamil. "Amma ... maafin aba yang tidak bisa menahan diri." Akhsan berhasil menepikan mobil mereka.
"Masih pengen kan? Ya udah sini puasin dulu." Shamil menepikan kain yang menutup bagian dadanya.
Akhsan merasa lega, dia pikir Shamil marah. Ternyata ingin memberinya jatah. "Tapi, bagaimana kalau aba pengen lagi pas di tempat acara, nggak ada tempat buat amma kasih."
"Ya tahan aba."
"Nggak bisa nahan kalau masih lihat." Puncak gunung empuk itu tenggelam dalam mulut Akhsan.
"Sepertinya kita harus mampir ke butik, daripada aba menggila seperti ini di tempat umum."
Akhsan bersorak dalam hati, keinginan sesungguhnya agar Shamil memakai pakaian yang lebih tertutup terwujud. Jatah lain juga dia dapat.
Entah berapa lama waktu berjalan, Akhsan masih betah menjadi bayi yang terus menempel pada sumber kehidupannya.
"Aba, sudah ya."
"Emm!" Akhsan menggelengkan kepalanya.
"Nanti kita telat, aba."
Akhsan melepaskan kesenanganya. "Salah amma sendiri, mengapa sengaja membuka seperti ini."
Shamil meraih kemeja Akhsan yang ada di bagian belakang, dan mengenakannya. "Sudah tertutup! Ayo kita ke butik."
"Yah ...." Akhsan memasang raut kekecewaan.
Mobil perlahan melaju menuju butik. Sesampai di sana, Shamil kesal karena gaunnya kusut karena perbuatan Akhsan. Dia segera membeli gaun yang bagian dada lebih tertutup, agar tidak membuat Akhsan menggila. Setelah mengenakan pakaian baru, Shamil kembali ke mobil.
"Bagaimana otak aba kalau amma begini?"
"Bisa diajak damai dia." Akhsan tersenyum puas.
****
Di tempat acara makan malam.
Para petinggi perusahaan itu terlihat asyik membahas kerjasama mereka.
"Setiap kali, lahan yang kita butuhkan dekat dengan suku pedalaman, membelinya sangat sulit, walau semua izin sudah kita kantongi, tapi kita harus melakukan pendekatan pada orang yang membuat mereka percaya."
"Betul sekali, beberapa waktu ini, cuma Johan yang berhasil membujuk mereka atas lahan yang sulit dibeli."
"Kalau yang di desa Batu Kali bagaimana?"
"Ku dengar anaknya Johan yang akan melakukan pendekatan."
"Anaknya Johan? Shamil?" sela salah satu Asisten petinggi perusahaan itu.
"Aku tidak tahu namanya, dia berjanji membuat para penduduk setuju menjual lahan mereka, dan dia hanya ingin posisinya di perusahaan, aman."
"Oh begitu cara anak Johan bekerja. Jujur dari dulu itu teka-teki bagi saya, bagaimana seorang yang tidak becus seperti dia bisa sampai di posisi yang tinggi. Sedang atasannya yang sebelumnya, selalu mengeluhkan kinerja Shamil.
"Pak Bagas bagaimana bisa tahu banyak tentang Anak Johan?"
"Saya berasal dari desa yang sama, terus saya juga pernah bekerja sebagai keamanan di perusahaan yang sama."
"Wah, selain membahas lanjutan proyek kita, Pak Bagas juga bisa nostalgia sama Anak Johan. Katanya dia akan datang bersama suaminya."
Ceklak!
Pintu ruang makan VIP itu terbuka, menampakan sosok Shamil dan Akhsan.
__ADS_1
"Nah itu dia anak Johan, dan menantu Johan!" Salah satu petinggi perusahaan itu menyambut Shamil dan Akhsan.