Billionaire Baby'

Billionaire Baby'
not abort>


__ADS_3

Di tempat lain suara isakan yang terdengar putus asa dari bibir ranum Maria yang bergetar, begitupun dengan tangannya yang Tidak kalah bergetar hebat memegang sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis....


"I-ini salah"Isak Maria menyangkal melemparkan alat tes itu ke sudut kemar mandi


Sementara tangan nya yang bergetar membuka alat tes ya baru untuk mengecek yang kedua kalinya


"Jangan dua...jangann...aku mohon"


Tapi sayangnya garis merah samar samar kembali muncul


"Jangan tinggal di perutkuuuu!!!!"tangis Maria semakin pecah meremas dengan kuat perut datarnya


Di sisi lain Nina kembali membuka pagar rumah Maria,ia meninggal kan handphone nya di rumah Maria dan berniat untuk mengambilnya


"Loh gak di kunci udah malem padahal, ceroboh deh"Gumam Nina segera membuka handle pintu dan masuk


Ia kembali menutup pintu,tapi alisnya tertekuk sempurna saat mendengar isakan dan teriakan Maria di iringi tangisan


Sontak rasa khawatirnya langsung menyerang Nina,kakinya Segera melangkah menuju kamar mandi Di mana suara itu berasal


"Maria...apa yang terjadi"Nina begitu terkejut melihat wanita itu terduduk di lantai kamar mandi dengan wajah sembab dan tangan yang terus meremas perut


"Tenang Maria... tenang"Nina segera mendekap tubuh Maria ke dalam pelukannya


"Mbaa... Ini gimana"tangis Maria


Dengan perasaan khawatir Nina mengusap punggung Maria yang terasa bergetar karna masih menangis


Matanya melirik pada alat tes kehamilan yang tergeletak di lantai


'bagaimna mungkin Maria hamil'batinnya kaget tapi berusaha menenangkan Maria yang masi menangis


"Jangan remas perut kamu seperti itu Maria"dengan ngeri Nina melepaskan tangan itu dari sana


"Gamau... Maria gamau bayii ini mbak"Isak Maria kembali hendak melukai perutnya

__ADS_1


"Tenang sayang tenang ada mbak di sini jangan sakiti tubuh kamu seperti itu"Nina berusaha menjauhkan tangan Maria lagi


Kembali memeluk erat berusaha menenangkan Maria yang masih menangis sesenggukan


___


"Sebenarnya apa yang terjadi Maria"Nina bertanya pelan menatap Maria yang tengah tertidur di ranjang,dirinya setia duduk di samping ranjang menggenggam tangan Maria


"Mbak ini sudah malam,aku tidak ingin mengganggu mbak"


"Tidak mbak ingin mendengarkan ceritamu,kau butuh teman sekarang"


Jujur saja Nina tidak ingin meninggalkan Maria saat melihat kejadian tadi,di mana wanita itu terus menyakiti perutnya, bagaimana jika Maria melakukan hal tidak tidak bila dia meninggalkan nya


"A-apakah kau keberatan bercerita Maria"tanya Nina


"Itu..."jawab Maria pelan dengan air mata Panas yang kembali mengalir


"Katakan pelan pelan saja"lirih Nina mengusap punggung tangan Maria


Maria kini harus bercerita untuk menerima nasihat dari Nina yang lebih tua,pada siapa lagi dia harus minta nasihat kalau bukan pada Nina


Nina yang mendengar itu menghela nafas dia sudah mewanti-wanti agar Maria tidak mengganti kan lagi pekerjaan si liliy wanita nakal itu,tapi kali ini dia harus tahan emosi dulu dia harus mendengarkan kali ini


"Kau di manfaatkan pria bejat saat sedang di bawah pengaruh alkohol sayang"tanya Nina sendu


"Tidak Nina"Maria menggeleng menghapus air mata Nina


"T-idak ada paksaan di antara kita"


"A-apa"Maria sedikit terkejut bahkan tidak percaya mendengar itu


"Lalu kenapa kau berusaha melukai perutmu Maria jika di antara kalian tidak ada paksaan"


"Karna aku tidak tahu nama pria itu,aku juga tidak yakin bisa merawat bayi ini Nina"

__ADS_1


"Kita bisa mencari pria itu terlebih dahulu"


"Bagaimana jika dia tidak mau bertanggung jawab"


"Kenapa berfikir pesimis seperti itu coba dulu saja, katakan padanya -pseorang pria itu harus berani bertanggung jawab bukan mau enaknya saja"


"Aku tidak mau tinggal bersama pria seperti dia aku tidak menyukai dia,saat itu aku sedang mabuk Nina"


Nina menautkan alisnya


"Jangan berpikir untuk membunuh janin itu Maria"


Maria menggigit bibir,dia merasa sangat jahat saat mendengar kata membunuh itu


"Kau akan menyesal,Hidupmu tidak akan tenang bila melakukan dosa itu tanpa mencari ayahnya terlebih dahulu Maria"


"Bagaimana jika pria itu mau bertanggung jawab kau sudah melenyapkan nyawa tidak berdosa"ucap Nina serius


"Jangan berpikir bayi itu sebagai kesialan yang harus di singkirkan,tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan bayi sepertimu,contohnya mba nikah sudah lebih dari 7 tahun belum di karunia buah hati"


"Nina..."Maria kembali menangis mendudukan tubuh lalu memeluk wanita itu


"Aku jahat sakali sudah berpikir untuk melukainya"Isak Maria


"Berhenti menangis cantik"Maria melepaskan pelukan dan membersihkan wajah Maria dari air mata


"Mba juga bentar lagi pasti bakal hamil kok percaya deh sama Maria"senyum Maria merekah


"Masa sih"Nina ikut tersenyum mengusap pipi lembut Maria


"Huum"


Nina sedikit tenang melihat Maria kini sudah bisa tersenyum kembali setidaknya tidak seperti tadi


________

__ADS_1



Arthur L.Bashil


__ADS_2