
Pagi harinya Rania terbangun dan tidak terburu-buru karena hari ini ia hanya memiliki 1 mata kuliah pada jam 11. Rania bermalas-malasan ditempat tidurnya. Ia yang kedinginan karena diluar sedang turun hujan gerimis, memakai kembali selimutnya yang sempat ia kibaskan
"uhh dingin sekali yaa, untung hari ini tidak ada kuliah pagi jadinya aku bisa dengan bebas berbaring dan bermalas-malasan
"non, sudah bangun?tuan memanggil nona" bi Ati datang mengetuk pintu dan memanggil Rania untuk menghadap sang papa yang memanggilnya
"huffttt ngapain sihh papa manggil, ganggu aja tidurku" sungut Rania dengan suara pelan yang tidak di dengar oleh bi Ati. Rania yang tadinya sudah senang karena akan bermalas-malasan akhirnya dipanggil oleh sang papa
"ia bii sebentar aku turun" jawab Rania kemudian
"ia non, bibi turun dulu ya mau masak" bi Ati sambil kembali kedapur.
"kenapa ya papa panggil" Rania akhirnya keluar dan turun menemui sang papaa
"paa ada apa panggil Rania?" Rania bertanya kepada papanya, setelah tiba di ruang tengah
"Rania ada yang ingin papa sampaikan sama kamu, kalau mulai hari ini kamu tidak akan mengendarai sendiri mobilmu tapi yang akan mengantarmu jika ingin keluar yaitu Zein
"Ahhhh?" Rania kaget mendengarkan sang papaaa..
__ADS_1
"ais aku bakalan semakin tidak bebas ni"sungut Rania yang tentu hanya dia ucapkan dalam hati, takut sang papa kembali memarahinya
"ia pa" jawabnya kemudian
"yasudah kalau begitu, itu saja yang ingin papa katakan" setelah itu papa Andrian langsung pergi meninggalkan sang anak dan memanggil istrinya untuk bersama-sama berangkat bekerja
Ben yang turun dari kamarnya langsung menghampiri sang adik
"hahahahaha kamu kenapa dek" kok mukanya ditekuk begitu? sampai kakak takut lihatnya, ihhhh" kata Ben sambil mengejek adiknya dan bersikap seolah-olah takut.
"nyenyenyeee kakak ini taunya ejek aku terus, keselek liur sendiri tau rasa"
Rania yang memang belum cuci muka langsung lari kekamarnya melihat wajahnya namun apa yang dikatakan kakaknya itu ternyata tidak benar
"ihh kak Bennnnnnnn, tunggu yaa aku balas nanti" teriak Rania dari kamarnya
"hahahahahahah" Ben yang mendengar itu akhirnya tertawa dengan keras. "makanya kalau bangun tuh cuci muka dan jangan pasang wajah memelas begitu" lanjutnya kemudian
Rania yang ditertawakan oleh kakaknya hanya bisa menggerutu di dalam kamar karena ia tahu dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kakaknya yang cerewet itu
__ADS_1
"huft aku harus segera kekampus, berlama-lama dirumah akan membuatku semakin panas" Rania beranjak kekamar mandi dan bersiap-siap ke kampus
Setelah semua persiapannya selesai dia turun dari kamarnya dan langsung menuju mobilnya,
"selamat siang nona, apa nona akan segera berangkat ke kampus?" tanya Zein yang siap siaga mengikuti nonanya itu
"yailah, emang kamu mau aku telat datang ke kampus" jawab Rania merasa jengkel terhadap bodyguardnya itu
"Baik nona, ayo" Zein membuka pintu mobil belakang bagi Rania
Rania langsung masuk ke dalam mobil setelah Zein membukakannya pintu,
Zein memang sudah diberitahu lebih dahulu oleh papa Andrian bahwa ia yang akan mengantar Rania dan harus dia yang mengemudi, tidak mengendarai motornya lagi
"ayo jalan" perintah setelah Zein sudah berada di bagian kemudi
"Huftt harus banyak sabar hadapi nona pemarah seperti ini" kata Zein yang tentu hanya bisa mengucapkannya di dalam hati
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan apapun, karena Rania yang fokus melihat pemandangan kota dari jendela dan Zein yang sibuk mengemudi
__ADS_1