
"Juwi, pulang yuk aku udah capek jalan-jalan, ini juga sudah hampir malam". Rania dan Juwita memang, setelah makan di restoran tadi, memilih untuk jalan-jalan di pantai. Saking asyiknya jalan-jalan mereka sampai lupa kalau ini sudah hampir malam.
"Ahhh iaa ayo Ran, aku juga udah capek".
Rania dan Juwita kembali ke parkiran dan mengambil mobil masing-masing. Rumah mereka berbeda arah karena itu mereka memilih membawa mobil masing-masing ketika bertemu seperti pada saat ini.
Dirumah Rania
"Selamat malam maa, paa" Rania setelah memasukkan mobilnya ke garasi langsung melangkah masuk ke pintu rumah memberi salam. Rania diajarkan oleh kedua orang tuanya, jika keluar atau kembali kerumah harus memberi salam, karena itu Rania terbiasa memberi salam sebelum masuk kerumah.
"Eh ada kak Ben juga" lanjutnya
"Selamat malam sayang, selamat malam dek" jawab mereka serempak
"Rania duduk sebentar ada yang ingin papa sampaikan ke kamu" lanjut papa Andrian setelah menjawab salam dari anaknya.
"Ia pa ada apa?" Rania bertanya sambil mendudukkan pantatnya dikursi sofa dekat sang papa.
"Begini Rania, papa, mama sama kakak kamu sudah sepakat untuk mencarikan kamu seorang bodyguard" kata papa Adrian dengan wajah datar. Rania tahu jika papanya sudah berwajah datar begini maka papanya pasti serius berbicara.
"Ahkk maksud papa? Rania tidak mau paaa, Rania sudah besar dan Rania tau cara menjaga diri sendiri. Dengan muka terkejut Rania menjawab papanya karena ia memang tidak mau memiliki seorang bodyguard. Rania berpikir bahwa jika ia memiliki seorang bodyguard maka ia tidak akan bebas, kemana-mana harus diikuti oleh bodyguardnya dan ia juga merasa kalau ia bukan anak kecil lagi yang harus dijaga karena ia bisa menjaga dirinya sendiri.
"Rania ini demi keselamatan kamu sebagai pemegang warisan keluarga Aksoro" papa Andrian yang mulai sedikit emosi melihat kekerasan kepala anaknya.
__ADS_1
"Ia sayang ini demi kebaikan kamu karena papa, mama dan kak Ben tidak akan selalu ada di samping kamu untuk menjaga kamu, kamu tau sendirikan kalau kami sibuk bekerja untuk kamu" mama Meira memberi nasehat kepada putri satu-satunya itu.
"Tapi maa ak......"Rania mencoba membantah namun sebelum ia selesai berbicara papanya sudah memotong pembicaraannya
"Tidak ada tapi-tapian Rania pokoknya besok kamu harus ditemani oleh seorang bodyguard" tegas papa Andrian kepada Rania. Sebenarnya papa Andrian sangat menyayangi putrinya itu dan tidak ingin memarahinya tapi demi keamanan anak perempuan satu-satunya, ia harus terlihat tegas.
Rania yang dibentak seperti itu akhirnya menangis, ia berlari sekencang mungkin ke kamarnya menaiki tangga. Setibanya dikamar, Rania menangis lebih keras karena tidak habis pikir terhadap pemikiran sang papa
"Kenapa sih papa tidak mengerti, akukan bisa jaga diri sendiri, aku sudah besar" katanya kepada diri sendiri
Terdengar pintu diketuk
"Dek maafin papa yang sudah bentak kamu yaa, papa ngelakuin ini semua demi kebaikan kamu, papa tidak mau terjadi sesuatu sama kamu" Ben berusaha menenangkan sang adik yang masih dalam tangisnya.
"Tapi seharusnya papa tanya sama aku dulu apa yang aku inginkan, kenapa mesti memaksa" Rania yang masih tersedu itu menjawab sang kakak
"papa sangat khawatir sama kamu dek dan papa pasti tau kalau kamu tidak akan setuju kalau tanya kamu lebih dulu karena itu papa memutuskan untuk mencarikan seorang bodyguard tanpa memberi tahu
Rania yang mendengar itu hanya diam saja
"Yasudah sekarang kamu tidur ya besok kamu sudah harus masuk kuliah kan? sambil mengusap kepala Rania, Ben menampakkan senyumnya
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu Rania memang mengikuti masa pengenalan kampus barunya dan besok Rania akan masuk hari pertama kuliah setelah beberapa bulan lalu menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA. Rania lulus dengan nilai terbaik. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus belajar karena itu dia memperoleh nilai terbaik. Rania adalah siswa berprestasi di sekolahnya dulu dan selalu mendapatkan peringkat satu.
"Kakak kekamar dulu, selamat tidur dek" Ben sambil berjalan keluar dari kamar Rania. Ben memang tidur dilantai dua bersamaan dengan lantai tempat adiknya tidur, karena itu dia setelah dari ruang tengah tadi langsung menghampiri adik kesayangannya itu. Kamar Ben dan kamar Rania berdampingan. Dilantai dua itu memang ada beberapa kamar namun cuman dua yang ditempati yaitu kamar Rania dan Ben. Orang tua mereka tidur di kamar lantai satu dan para ART tidur di ruangan belakang rumah besar keluarga Aksoro.
"Ia kak, selamat tidur juga" jawab Rania
Rania dan Ben memang sangat dekat, Ben yang cerewet menjadi lembut jika adik perempuan satu-satunya itu sedih dan menangis. Mereka sangat menyayangi satu sama lain karena itu juga Ben tidak mempermasalahkan soal warisan yang diberikan kepada Rania adiknya itu.
Seperti biasa Rania bangun di Jam 7, tapi hari ini ada yang baru yaitu Rania harus berkuliah. Dia yang memang suka belajar, akhirnya tersenyum saat mengingat ini adalah hari pertamanya masuk kuliah dan itu artinya ia akan kekampus yang ia sangat idamkan.
Rania bangun dan mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kampus
Rania turun dari kamarnya dan melihat seorang pria memakai pakaian serba hitam dan juga kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya
"Rania kesini nak" sang papa yang melihat kebingungan anaknya melihat orang yang berdiri di samping ayahnya.
"Ia paa, Rania menghampiri papanya yang ada dimeja makan bersama mama Meira dan Ben
"Kenalkan ini Zein, bodyguard baru yang papa carikan buat kamu.
"Selamat pagi nona, perkenalkan saya Zein yang akan menjadi bodyguard pribadi nona" Zein memperkenalkan dirinya kepada Rania
"Paaa aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau" Rania berbicara kepada papanya menghiraukan Zein yang memperkenalkan dirinya. Rania yang matanya sudah berkaca-kaca dan hampir menangis itu menjawab sang papa yang menurutnya terlalu seenaknya saja
"Pokoknya Zein akan menjadi bodyguard kamu dan tidak boleh ada penolakan. Titik" papa Andrian yang berbicara tegas kepada sang anak karena tak habis pikir dengan sang anak yang terlalu keras kepala.
"Zein akan selalu ada disamping kamu selama 24 jam mulai dari sekarang"
"Ahk apa pa 24 jam?" itu tandanya dia akan ikut ke kampus? Rania yang kaget dengan perkataan sang papa
"Ia Zein akan menjaga kamu dimana pun kamu berada"
Rania hanya bisa diam mendengar papanya mengatakan itu, menolak pun dia tidak akan mampu menolak ucapan sang ayah, atau ayahnya akan marah. Rania makan bersama keluarganya tanpa mengucapkan sepatah kata. Setelah itu Rania berpamitan kepada kedua orang tuanya lalu berangkat ke kampus.
__ADS_1
Diluar rumah Rania mengatakan kepada Zein kalau Rania ingin membawa mobilnya sendiri, Zein menuruti dan dia membawa motor miliknya sendiri untuk dia gunakan mengantar Rania dengan cara mengikutinya dari belakang.