
"Kau mulai berani padaku ya, Jia," gemas Gara mencekal tangan gadis itu ke belakang.
"Tolong, jangan ganggu aku malam ini, kembalilah ke sana," ulang Jia menatap dengan matanya yang basah.
"Kembali? Untuk apa aku ke sana lagi?" tanya Gara menyeringai.
"Aku hanyalah budak, sedangkan di sana ada istri yang menunggumu, tolong mengertilah, tuan," mohon Jia menangis.
"Sudah kubilang, aku tidak butuh dia, Jia," ucap Gara mengangkat dagu Jia sedikit.
"Terus, mengapa kau menikah dia hari ini?" isak Jia.
"Dia hanyalah pajangan, tidak lebih dari itu," bisik Gara ke telinga Jia. "Kau yang tetap menggoda di mataku, Jia." Jia menunduk lalu memekik.
"Hentikan, aku tidak mau lagi, aku tidak mau lagi! Pergi saja ke istrimu yang itu, dan lakukan itu saja kepadanya! Jangan ganggu aku hari ini!" bentak Jia melotot tajam.
Bugh! Gara yang ikut emosi pun menonjok tembok di dekat wajah Jia. Kemudian menarik gadis itu, melemparnya ke sofa, membuat pinggang Jia kesakitan hebat.
"Oh jadi kau tidak mau melayaniku, begitu?" tatap Gara mendekat ke Jia yang gemetar.
"Ya, aku ini bukan istri sahmu! Aku tidak berhak melakukannya!" tolak Jia bersikeras. Sontak saja Gara menariknya berdiri.
"Kau sungguh menyebalkan, malam ini aku akan menyadarkan tentang statusmu ini, Jia," geram Gara dengan paksa menariknya ke kamar.
"Tidak, lepaskan aku, brensk!" ronta Jia mengumpat. Telinga Gara membara dan langsung menghempaskan Jia ke tembok. Gadis itu mengerang saat tubuhnya membentur cukup keras.
"Kau membuat kesabaranku habis, malam ini, mau berhak atau tidak, kau yang tetap akan melayaniku," cengkram Gara ke dagu Jia yang sedang terduduk gemetar di lantai.
"Tidak, ku mohon, aku capek," rintih Jia memeluk tubuhnya. Tapi Gara yang sudah tiga hari tidak bersinggama, ia dengan tidak berperasaan menyeret Jia ke dalam kamar dan memaksa Jia melayaninya. Gadis itu yang awalnya menikmati, malam ini menjadi ranjang yang menyakitkan. Gara tidak peduli rintihan Jia, yang jelas dia senang menggoyangkan adik kecilnya dan menyalurkan gairahnya malam ini. Menyemprot benihnya ke dalam rahim Jia sampai tumpah keluar.
__ADS_1
"Ahh, ampun, ah, tuan, hiks."
'Ω''Ω''Ω''Ω''Ω''Ω'
Tiga hari berlalu, pernikahan Celin dan Gara masih hangat dan tranding. Apalagi hari ini Celin mengunggah sebuah postingan yang menarik dan ditunggu-tunggu penggemarnya.
@Celinbabys
Tiga hari di hotel bersamanya, jadi makin cinta♡
Penggemarnya yang baca story instagram Celin, mereka histeris melihat potret Celin yang hanya memakai jubah mandi dan berdiri di tengah-tengah balkon. Nampak juga di belakangnya ada punggung seorang pria hanya memakai kaos dan sedang tidur membelakangi.
"Gila banget, komentar dan like meledak terus nih," kaget asistennya Celin yang menyamar sebagai Gara di story itu.
"Cih, aku muak membaca storyku sendiri," risih Celin mengganti jubah mandinya.
"Hahaha, tapi ini sangat bagus, popularitasmu semakin naik pesat, Nona Celin." Tawa asistennya melepaskan wig palsu dan merapikan rambut panjangnya.
"Kalau pengamat yang melihat ini, mereka pasti langsung sadar orang yang sedang tidur ini adalah seorang wanita, bukan Gara," lanjut Celin duduk di kursi dan meneguk winenya.
"Sudahlah jangan marah, yang penting kau sudah meyakinkan mereka dan mertuamu kalau tiga hari ini kau selalu bersamanya." Tepuk asistennya itu ke bahu Celin.
"Sebenarnya, kemana dia selama ini? Malam pertama yang harusnya kalian lewati bersama, malah disia-siakan, apa dia memang tidak sedikit pun tertarik padamu?" Tunjuk asistennya heran.
"Jangan dipikirkan, mau dia tertarik atau tidak, yang jelas aku tidak sudi melakukan itu bersamanya, sekarang aku mau pulang, antarkan aku ke rumah mertuaku," pinta Celin berdiri.
"Eh, serius? Kau mau pulang ke sana tanpa suamimu? Apa yang akan kau katakan nanti?" Susul asistennya jalan di sebelah dan menuju ke lift hotel.
"Aku punya alasan, kau diam saja." Celin tersenyum lalu serius menatap ke depan. 'Mau bagaimana pun caranya, aku tetap akan berusaha merusak hubungan ini.' Kepal Celin bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Memang tiga hari ini, Celin hanya tidur sendirian di hotel, karena Gara selalu berada di rumah Jia. Pria itu masih kesal pada keluarganya sehingga amarahnya dilampiaskan ke Jia yang sedang terduduk tidak berdaya di tembok. Kedua tangannya diikat ke atas, lalu kakinya diborgol rantai. Keadaannya kembali seperti awal Gara membelinya. Hanya memakai baju compang-camping dan dengan rambut acak-acakan.
"Air, tolong airnya, tuan." Rintih Jia yang kehausan dengan mata sendu dan bibirnya yang kering. Namun Gara yang sedang makan di dapur tidak menghiraukan permohonan Jia. Gadis itu pun hanya menelan ludah terus menerus sampai perutnya pun mulai keroncongan. Tetapi Gara tetap cuek mendengar bunyi perut Jia.
'Tolong airnya,' lirih Jia antara setengah sadar dan lelah menahan kelaparan dari kemarin. Karena tidak kuat memohon terus, Jia kembali pingsan. Bagi Jia, ini belum seberapa yang dia rasakan di kehidupannya dulu. Jia sering kali tidak diberi makan selama seminggu oleh ayah angkatnya dan dikurung di dalam gudang. Mendengar suara jatuh, Gara baru menoleh.
"Ck, sialan!" kacau Gara menggebrak meja lalu menghampiri Jia, berjongkok di depan gadis itu.
"Sayang sekali, aku tidak bisa membunuhmu, kau aset yang langka ku dapatkan di kota ini."
Begitulah Gara, jika kesal pada keluarganya, ia bisa kapan saja menyiksa orang di sekitarnya. Tapi sejak awal, dia sudah berjanji pada dirinya tidak akan membunuh Jia. Gara pun melepaskan ikatan tangan dan borgol Jia, kemudian membawanya ke dalam kamar mandi.
Sontak saja, Jia kembali sadar saat diguyur shower dari atas. Gadis itu terkejut berada di dalam bakhtub berisi air yang penuh.
"Tadi kau minta air, kan? Nih aku kasih yang banyak," seringai Gara kembali mengguyur Jia makin kencang, membuat gadis itu basah kuyup.
Trang! Gara membuang shower lalu mendekati wajah Jia dan tangannya mencengkram rahang gadis itu.
"Hiks, ampun, aku minta maaf," tangis Jia ketakutan.
"Senang sekali akhirnya kau sadar dengan statusmu, lain kali tolong layani aku lebih baik lagi, mengerti?" tatap Gara seram.
"Me-mengerti, tuan." Jia terpaksa mengangguk.
"Ya sudah, aku mau pulang, kau mandi sendiri!"
"Dan satu lagi, jangan mendekati wanita itu! Jika aku melihatmu lagi, toko bunga itu akan aku hancurkan. Camkan itu baik-baik!"
Brak! Jia tersentak melihat Gara menutup pintu dengan keras. Air matanya kembali pecah setelah mendengar mobil Gara meninggalkan rumah. Jia memukul tubuhnya yang memiliki lebam dan bekas gigitan Gara. Menangis pilu sendirian.
__ADS_1
"Hiks, apa salahku."