
"Hei, sialan, jangan ikut campur kau!" kelakar preman menunjuk pria itu yang santainya berdiri di sana.
"Awalnya sih aku tidak mau ikut campur, tapi kelakuan kalian itu cukup menyebalkan. Dari pada kasar ke yang lemah, bagaimana kalau kalian lawan aku saja?" tantang pria itu sok kuat.
Mendengar lagaknya yang sombong itu, entah kenapa Jia mau tertawa. Karena wajah pria itu tampan tapi menggemaskan. Tidak seperti pria yang kuat, melainkan pria berandalan yang santai.
"Sombong sekali kau-"
DUAK! Belum juga sampai preman itu bicara, tendangan keras melayang ke wajahnya. Jia melongo pria itu begitu cepat melompat dan menghantamkan kakinya.
"Hei, keterlaluan sekali! Beraninya main serang duluan!" geram mereka bertiga menunjuk pria itu yang sekarang berdiri di dekat Jia.
"Hei, nona, punya permen karet, nggak?" pinta pria itu ke Jia dan pura-pura tidak dengar preman di depannya.
"Ma-maaf, aku tidak punya," geleng Jia jadi tambah takut.
"Aih, tidak keren kalau aku tidak makan permen dulu," cemberutnya lalu menatap tiga preman itu.
"Hei, bagi permen kalian dong," ulurnya meminta tanpa dosa. Jia lagi-lagi melongo melihat pria itu amat santai. Tidak seperti tiga preman yang membara dan langsung mengeluarkan chutter.
"Ya ampun, aku minta permen, bukan pisau, G0BLOK!"
DUAK! Belum juga menyerang, tiga preman diserang habis-habisan. Mulut Jia terbuka lebar-lebar melihat gerakan dan serangan pria itu tidak bisa dibaca sama sekali. Tentu karena ada banyak celah yang sangat menguntungkan bagi pria itu. Tiga preman lari terbirit-birit, pergi dari pada jadi badut di jalan itu.
"Huft, dasar sialan, bikin suasana hatiku yang tadi bahagia jadi rusak melihat mereka," decaknya lalu menatap Jia yang gemetar ketakutan.
__ADS_1
"Wah, sepedamu rusak nih, bagaimana jika kau perbaiki dulu?" senyum pria itu menunjuk ke sepeda Jia.
"Kau siapa?" tanya Jia.
"Eh, hahaha," tawa pria itu membuat Jia mengernyit.
"Kupikir kau mau bilang terima kasih, rupanya tanyain siapa aku," tawanya lagi.
"Apa jangan-jangan kau langsung tertarik padaku?" kedipnya mendekati Jia.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu, tolong jangan bercanda!" pekik Jia mundur.
Pria itu menunduk murung lalu bertingkah sedang patah hati. "Malangnya nasibku, datang cuma ingin menolong, tapi dia mengira aku bercanda, segitunya kah nasibku di mata orang?" Tingkah yang lucu membuat Jia menahan tawa lagi.
"Maaf, tadi aku pikir kau jahat, tapi melihatmu seperti ini aku sudah yakin kau orang yang baik," ucap Jia lalu membungkuk setengah badan.
"Nah, begitu dong, aku kan jadi senang lagi," balas pria itu senyum-senyum malu.
"Tapi kenapa kau bisa ada di sini? Apa itu hanya kebetulan saja?" tanya Jia. "Atau keberuntunganku?" tebak Jia mulai kepikiran rumor Celin yang memang bisa memberi keberuntungan saat sedang sial.
"Emh, sepertinya ini bisa dibilang dua-duanya," ucap pria itu lalu kembali menjelaskan kalau tadi tidak sengaja lewat di balik tembok dan mendengar suara preman itu sedang mencegat Jia. Ia yang barusan dari tempat latihan taekwondonya pun mencoba mengasah kemampuan ke tiga preman itu.
"Wah, rupanya kau jago bela diri," puji Jia.
"Oh mesti harus jago dong, sebagai pria sejati, dan calon suami buat kekasihku nanti, aku harus belajar bela diri untuk menjaga keluargaku," ucapnya sok keren lagi. Jia menunduk, sifatnya beda sekali dengan Gara yang suka menyiksa orang.
__ADS_1
"Oh ya, dari tadi kita mengobrol saja dan belum saling mengenal," ucap pria itu mengulurkan tangan. "Namaku, Zen, nama kau siapa?"
"Aku Jia," balas Jia menjabat tangan Zen.
"Hari sudah sore, bagaimana kalau aku antar kau ke bengkel? Siapa tahu sepedamu bisa diperbaiki di sana," saran Zen.
"Boleh, terima kasih dan maaf sudah merepotkan," setuju Jia pun jalan di samping Zen yang membawa sepeda Jia. Sesampainya di bengkel, Jia dan Zen pun menunggu rantai dan ban sepeda Jia diperbaiki.
"Ngomong-ngomong, kau kerja di mana?" tanya Zen yang sedikit gugup bicara ke Jia. "Toko bunga di kota ini," jawab Jia yang juga gugup duduk di dekat Zen.
"Toko bunga yang di pinggir jalan itu?" tebak Zen sedikit kaget.
"Ya, kau kenapa langsung tahu?" tanya Jia.
"Soalnya seragam kau itu pernah aku lihat, dan juga tempat latihanku dekat dari sana," jawab Zen menunjuk seragam di balik sweater Jia.
Jia sedikit berbalik badan, karena Zen menunjuk pas ke dadanya yang semok. "Eh, sorry, aku salah tunjuk," ucap Zen baru sadar tunjuk ke dada Jia.
"Ya tidak apa-apa," senyum Jia melipat tangan di dadanya. Zen menggaruk kepala merasa bodoh dengan tatapan Jia yang agak tidak enak. Serasa dirinya sama seperti preman yang suka lirik ke bagian itu. Tidak lama menunggu, sepeda Jia selesai diperbaiki.
"Mau aku temani sampai ke toko, nggak?" tawar Zen berdiri.
"Tapi aku masih ada urusan," tolak Jia tidak mau Gara marah sudah dekat dengan pria lain.
"Ya sudah, hati-hati di jalan," ucap Zen mengerti.
__ADS_1
"Terima kasih, Zen. Kapan-kapan aku akan traktir kau," senyum Jia. "Wih, aku jadi tidak sabar." Keduanya tertawa bersama lalu Jia pun pergi duluan. Zen melambai lalu menatap datar punggung Jia.
"Yakin atau tidak yakin, aku harap dia orangnya." Zen pergi dari bengkel itu. "Tapi sebelum membawanya, aku harus mencari pria bajingan itu." Kepal Zen memendam amarah besar di hatinya.