Bukan Sebatas Istri Gelap

Bukan Sebatas Istri Gelap
6. Pilihanku Tidak Salah


__ADS_3

Esok paginya di toko bunga, Jia sudah datang membuka toko itu. Sambil berberes-beres, karyawan lainnya mulai berdatangan. Tiga karyawan yang masuk tidak lupa menyapa Jia, mereka pun ikut berberes-beres. Tiba-tiba salah satu dari mereka berteriak kegirangan, membuat Jia spontan menoleh.


"Hei, kenapa kau histeris pagi-pagi begini sih?" 


"Iya tuh, bikin telinga hampir pecah tahu,"


Dua karyawan jadi sewot dan kesal. Sedangkan satunya menjinjit saking bahagianya mendapat sebuah berita yang sedang trending.


"Huhuhu... idolaku mau menikah," tangisnya tiba-tiba.


"Menikah? Siapa itu?" Dua karyawan yang penasaran pun mendekatinya. Sementara Jia diam-diam menguping di dekat lemari sambil mengelap fas bunga kecil di tangannya.


"Nona Celin, dia mau menikah, dan tiga hari kedepan akan menyelenggarakan pesta pernikahannya."


Mata Jia membelalak mendengar kabar itu. 


"Wah, serius? Ini berita bukan hoax kan?"


"Bukan, ini langsung keluar dari stasiun televisi miliknya,"


"Sumpah, ini yang sangat aku tunggu-tunggu. Akhirnya dia menjadi seorang mempelai wanita sungguhan."


Mereka sama-sama bahagia dan menangisi idolanya yang sering menjadi pengantin wanita di film, sekarang bisa merasakan di posisi itu dalam hidupnya. Jia memegang dadanya dan tersenyum ikut bahagia. Akibat senyumnya yang merekah dan jarang terlihat itu membuat tiga teman kerjanya cukup terkejut.


"Hei, Jia!" Jia tersentak sudah ketahuan.


"Wah, kau kenapa berdiri di sini?" tanya mereka.


"Lagi menguping ya?" tebak mereka.

__ADS_1


"Eh, jangan-jangan kau ini salah satu hatersnya Nona Celin?" tuduh mereka lagi-lagi bikin Jia tersentak kaget.


"Bukan! A-aku bukan hatersnya!" pekik Jia jujur.


"Kalau bukan haters, kenapa berdiri di sini?" tatap mereka curiga. Jia menunjuk ponsel teman kerjanya lalu terbata-bata menjawab mereka.


"Aku juga mengidolakan dia," kata Jia agak malu mengakuinya. Mereka diam lalu saling menatap, kemudian seketika tersenyum bersama. "Sungguh?" tanya mereka kompak.


"Ya, sungguh. Nona Celin idolaku, dia sangat keren dan cantik. Punya talenta action yang hebat," tutur Jia menjawab.


"Kyaaaa, ini luar biasa sekali. Kita punya idola yang sama," riang mereka punya teman pengagum lagi.


"Aduh Jia, seharusnya bilang dari awal dong," rangkul mereka ke Jia. "Yoi, kalau saja kau bilang ke kami dari awal, kami pasti akan mengajakmu bergabung," senggol mereka ke bahu Jia.


"Hehehe, aku juga tidak tahu kalian menyukai Nona Celin," cengir Jia merasa senang mereka mendadak akrab. "Bukan cuma menyukai saja, kami ini mencintai Nona Celin," ucap mereka berbinar-binar. "Beliau ini titisan dewi keberuntungan, semua kesialan yang akan terjadi padamu, Nona Celin bisa singkirkan itu," kata mereka mulai memuji-muji Celin.


"Ca-caranya bagaimana?" tanya Jia tiba-tiba tertarik ingin tahu.


"Katanya kau tinggal jalan berdua dengannya," jawab mereka kompak. "Berarti harus berada di sisinya terus?" tanya Jia lagi.


"Yosh, itu benar sekali. Kami pengen banget berdiri dan berjalan di sisi Nona Celin, tapi sekarang ini pasti akan sulit, orang yang hadir di pernikahannya nanti pasti sangat beruntung," keluh mereka menunduk bersamaan karena masih menjomblo sampai sekarang. Namun tiba-tiba, ada kesempatan dari Bosnya yang baru datang itu.


"Ehm, aku merasa kalian bisa menemuinya," cakap Bosnya yang dari tadi mendengar obrolan karyawannya itu. "Eh, selamat datang, bu Bos. Maaf kami jadi tidak sopan membicarakan ini di jam kerja," kompak mereka membungkuk setengah badan.


"Hahaha, aku bisa memakluminya, santai saja," tawa Bosnya itu duduk di meja kerjanya lalu melihat satu demi satu karyawannya.


"Oh ya, kalian harus banyak-banyak bersyukur hari ini," ucap Bosnya tersenyum. "Eh, sepertinya Ibu senang banget, apa ada sesuatu yang terjadi, Bos?" tanya mereka selain Jia yang cuma diam.


"Ya, seperti yang tadi aku katakan, kalian punya kesempatan bertemu idola kalian," jawab Bosnya berdiri lagi."Bagaimana caranya, Bu?" tanya mereka ingin tahu, begitu pula Jia.

__ADS_1


"Asisten Nona Celin kemarin malam menghubungi ibu, dia mengajukan untuk menyiapkan hiasan, jadi tiga hari nanti, kuharap kalian lebih bekerja keras dan mempersiapkannya diri membawa hiasan itu ke tempat pesta pernikahannya."


Rupanya bukan kabar biasa, ini kabar yang ditunggu-tunggu Jia dan teman kerjanya. Mereka kembali histeris bahagia, sedangkan Jia tersenyum lega. "Kyaa... aku tidak sabar hadir di pestanya langsung." Mereka secepatnya bekerja, mulai memilah bunga-bunga hiasan Nona Celin.


Sementara Jia yang mau ikut membantu, tiba-tiba dipanggil Bosnya. "Ada apa, Bu?" tanya Jia menghadap.


"Jia, Ibu mendapat keluhan dari konsumen, katanya kau kemarin hampir pingsan di jalan, apa itu benar?"


Jia terkejut lalu menunduk. "Maaf, kemarin aku agak kurang sehat, tapi sekarang sudah baikan, bu," ucap Jia semangat.


"Tapi kenapa jalanmu aneh hari ini? Pinggangmu baik-baik saja, kan?" tanya Bosnya curiga. Jia yang kemarin malam habis melayani Gara, ia memang sulit menormalkan langkahnya, karena pinggang dan selang kangannya masih sakit.


"Itu aku kemarin-" gugup Jia memegang lehernya yang ditutupi syall karena ada bekas gigitan Gara di sana.


"Kau habis jatuh?" terka Bosnya asalan.


"Ya, Bu, kemarin waktu antar pesanan, aku tidak sengaja terpeleset, jadinya pinggang ku terbentur tanah," bohong Jia terpaksa demi lolos dari pertanyaan berat itu.


"Serius? Jatuh atau kemarin kau bersama-"


"Aku serius jatuh, bu," sentak Jia serius. Bosnya pun menahan tawa melihat tingkah lucu Jia, apalagi pipi gadis itu langsung memerah.


'Dasar anak muda, tingkah dan penampilanmu itu sangat mudah dibaca olehku yang sudah berpengalaman, hahaha,' tawa Bosnya dalam hati.


"Ya sudah, kalau begitu pergi bantu yang lain di luar," perintah Bosnya. "Baik, Bu." Hormat Jia lalu bergegas meninggalkan ruangan Bosnya. Gadis itu bukannya keluar, ia malah masuk ke dalam toilet.


"Huh, Bos sepertinya tahu kalau aku tadi bohong, hais, semoga saja aku tidak dipecat, itu tidak boleh terjadi, aku harus bertemu Nona Celin dulu." Harap Jia mengepal tangannya lalu menutup wajahnya merasa malu berhadapan dengan Bosnya yang peka atas tingkahnya yang beda hari ini. Setelah merapikan bajunya dengan benar, Jia pun bergabung dengan teman kerjanya. Gadis itu nampak senang bisa ikut membantu. Beda dengan Gara yang sedang mengantar Ibunya, terlihat selalu cemberut dan tidak enak ditatap.


"Ck, buang-buang waktu saja." Gara mendecak dalam hati, saking kesalnya, ia mau membanting stir mobilnya, tapi ia tidak mau mati konyol sekarang. Sedangkan nyonya Vera nampak senang sekali pagi ini mendengar berita pernikahan Celin dan Gara jadi trending.

__ADS_1


"Memang pilihanku tidak salah, dia titisan dewi." Senyum nyonya Vera bangga bisa menarik Celin ke dalam pernikahan ini.  


__ADS_2