
Melihat Gara dan Zen saling bertatap, kaki Jia tidak bisa berhenti bergetar. Zen pun melepaskan cengkraman Gara lalu tersenyum tidak ada takut-takutnya. "Sepertinya ada kesalahpahaman di sini," ucap Zen melihat Jia dan Gara bergantian.
"Mau kesalahpahaman apa itu, yang jelas kau siapa?" Gara masih mengepal tangannya. "Seperti yang kau lihat, aku juga karyawan di toko ini." Zen menunjuk seragam Jia lalu ke dirinya yang memakai baju yang sama. Jia pun tersadar Zen sudah ganti baju. 'Sejak kapan dia pakai baju karyawan?' pikir Jia. 'Apa jangan-jangan dia tadi ke ruang Bos dan mengambil satu seragam di lemari?' Jia pun mengerti kalau Zen tidak bersembunyi dari tadi.
"Oh, karyawan baru?" tatap Gara masih curiga.
"Ya begitulah." Zen tersenyum, tapi terpaksa. Kepalan Gara pun melemah lalu melirik Jia, ia mendekatinya dan bertanya, "Apa benar dia karyawan di sini, Jia?"
Zen sedikit terkejut, Gara tahu nama Jia. 'Oh, apa mungkin pria yang dimaksud Jia tadi adalah orang ini?' batin Zen menyipitkan mata dan memperhatikan Gara dari atas ke bawah. 'Tidak salah lagi, pergerakannya memang seperti pria brensek. Dibalik wajahnya yang tampan dan setelan yang mahal, dia tidak bisa menyembunyikan sifatnya yang buruk.' Zen bagai detektif yang bisa menganalisa orang.
"Jawab, Jia!" desak Gara menekan bahu Jia.
'Aduh, aku harus jawab apa?' desis Jia masih saja berpikir.
'Kalau aku jawab iya, takutnya tuan Gara menelpon Bos. Kalau aku jawab bukan, ini jelas akan membuatnya marah besar, aku harus bagaimana?'
"Sepertinya aku perlu menghubungi Bosmu." Gara mengambil ponselnya di dalam saku. "Untuk apa kau repot-repot seperti itu?" tahan Zen menghentikan Gara.
"Untuk menanyakan siapa pria yang mencurigakan sepertimu." Sinis Gara menepis tangan Zen. "Oh, aku rasa yang harus dicurigai itu kau." Tunjuk Zen. Jia dan Gara saling mengernyit.
"Aku? Hahaha, apa yang perlu kau curigai. sialan?" tawa Gara menatap remeh. "Karena kau datang-datang main tuduh, dan juga kau pasti punya niat tidak baik kepadanya," ucap Zen nunjuk Jia.
Gara menggertakkan giginya, mengepal tinju dan siap menonjok Zen, tetapi Jia segera menangkap tangan Gara sebelum tinju itu melayang. "Tenang tuan Gara, dia itu hanya karyawan baru di sini," tutur Jia terpaksa memilih bohong. "Tiga hari yang lalu, karyawan di sini berhenti, dan dia direkrut jadi karyawan di sini," lanjutnya setengah jujur.
Gara pun mengamati seluruh isi toko, dan memang tidak ada karyawan lain selain Jia dan Zen. 'Jia sepertinya dekat dengan orang brensek ini,' batin Zen karena Jia tahu nama Gara.
__ADS_1
"Tuan Gara tidak perlu mencurigai kami, aku dan dia ini hanya sebatas karyawan," terang Jia lagi. Gara diam sejenak lalu melotot ke Zen. "Hei, jangan kira aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu berbuat di sini,"
"Memangnya kau siapa sampai menekanku seperti itu!" balas Zen tidak ada takutnya sama sekali. "Tidak perlu kau tahu siapa aku, yang jelas di kota ini ada banyak mata yang mengawasimu, dan jika aku sampai mendapat laporan hal aneh di sini, kau akan mati terpuruk," ancam Gara membuat Jia yang di belakangnya menelan ludah susah payah.
'Sudah aku duga, dia bukan dari kota ini, jika dia berasal dari sini, dia tidak akan melontarkan pertanyaan bodoh itu. Aku tidak akan biarkan kau menyentuh sedikitpun milikku,' batin Gara lalu menggandeng tangan Jia pergi ke sudut toko dan berbicara hanya kepada Jia.
Zen dalam hati cemberut melihat Jia dekat-dekat dengan Gara, pria berandalan itu pun duduk saja dan melihat Jia dan Gara mengobrol. "Tuan Gara, tidak perlu marah begitu padanya, dia hanya anak baru di sini dan aku rasa tadi itu tuan tidak usah mengancamnya," lirih Jia lalu memberikan bunga yang ditunjuk Gara. Sontak saja, gadis itu tertegun kepalanya dibelai.
"Bodoh, aku melakukan itu untuk melindungimu," ucap Gara dari lubuk hatinya. 'Eh, aku pikir tadi dia mau pukul kepalaku,' batin Jia grogi.
"Memang bagimu dia anak baru kemarin sore, tapi di mataku dia sama saja seperti semua pria bangst di kota ini," ucap Gara mengambil bunganya.
"Kalau begitu, tuan Gara juga termasuk dong?"
"Hehehe, sudah kuduga, tuan akan bilang begitu," senyum Jia lalu diam, sebab mata Gara yang melotot seram.
"Maaf, aku salah bicara." Jia menunduk. Gara menghembus nafas lega melihat Jia aman-aman di toko ini, tapi sebelum dia pergi, ia tidak lupa menunjuk dua jari ke mata Zen.
"Ck, jangan berbuat sesukamu di sini, ingat kata-kataku tadi." Decak Gara tapi Zen cuma diam dan menatap datar. Saat Gara mau keluar, Jia tiba-tiba menahan. "Oh, apa ini? Kau takut ditinggal?" tanya Gara.
"Itu, tuan tidak perlu memikirkan dia, aku akan baik-baik saja di sini," jawab Jia takut Gara mengirim preman untuk menghajar Zen yang tidak tahu apa-apa. Sekali lagi, Gara membelai ujung kepala Jia membuat gadis itu bersemu setelah mendengar perkataan Gara. "Ya, kali ini aku percaya padamu, tapi tetap saja aku akan mengawasimu."
"Terima kasih." Jia tersenyum sumringah, senang mendengarnya. Gara pun pergi dan kembali ke kantor karena barusan mendapat panggilan. "Hei, kau dan dia saling kenal dan dekat ya." Zen pun akhirnya menghampiri Jia. "Dia pacarmu?"
Deg! Jia terlonjak lalu menggeleng cepat. "Bukan, dia pelanggan di toko ini,"
__ADS_1
"Serius? Cuma pelanggan?"
"Ya benar, dia cuma pelanggan, dan lagipula aku mana mungkin berpacaran dengan dia yang sudah menikah," jelas Jia walau sakit, tapi ia terpaksa jujur soal status Gara. "Eh, sudah menikah ya, tapi kenapa dia sangat peduli padamu?" tanya Zen benar-benar ingin tahu.
"Itu cuma perasaanmu saja, aslinya dia itu hanya peduli pada istrinya," ucap Jia jalan menjauh. Zen pun ingin menarik tangan Jia, masih mau bertanya lagi, tapi seketika berhenti saat Bosnya datang dan terkejut melihat Zen pakai baju karyawan. "Eh, saya pikir kau sudah pulang, rupa-rupanya ikut membantu Jia, apa kau tertarik jadi karyawan di sini?" tanya Bosnya ke Zen lalu melirik Jia yang grogi. 'Waduh, aku harus bagaimana lagi jelaskan ini?' pikir Jia yang berdiri di belakang Zen.
"Kerja di sini memang mudah dan praktis, tapi setelah mencoba membantu Jia melayani konsumen tadi, aku jadi ragu-ragu," cengir Zen yang memang tidak punya niat jadi karyawan. "Eh, siapa yang datang tadi, Jia?" tanya Bosnya ke Jia.
"Itu, tadi ada tuan Gara, bu," jawab Jia terbata-bata.
"Jia, kenapa kau tidak menelpon kalau tadi ada suaminya nona Celin?" tepuk Bosnya ke dua bahu Jia.
"Ha-habisnya aku rasa ibu tidak bisa diganggu," ucap Jia yang memang tidak mau Bosnya ikut campur.
"Ah kau ini, lain kali telpon Ibu kalau dia datang ke sini," resah Bosnya jalan ke mejanya.
"Memangnya kenapa anda ingin sekali bertemu dia?" tanya Zen tiba-tiba penasaran lagi. Bosnya pun menjelaskan tentang Gara dan juga Celin, tidak lupa mengatakan dua orang itu adalah pasangan yang sedang tranding saat ini.
"Huft, ini pertama kalinya dia ke sini, tapi aku malah tidak ada. Kau harus tahu, orang seperti kami ini sulit menemuinya," keluh Bosnya. "Jangankan dia, istrinya juga sulit diajak bertemu," lanjut Bosnya cemberut. Zen pun melirik Jia. 'Katanya tadi pelanggan, tapi ini pertama kalinya pria itu datang. Sepertinya Jia memang sedang menyembunyikan sesuatu.' Batin Zen lalu tersenyum ke Jia yang nampak tahu kesalahannya sudah berbohong.
"Oh ya, kapan-kapan aku akan datang ke sini, terima kasih atas tawarannnya tadi." Zen melepas bajunya lalu pergi dari toko.
"Ah, hari ini memang agak sial," keluh Bosnya merasa sedih, karena tidak bisa bertemu Gara dan tidak mendapat karyawan lagi. Jia yang berdiri cuma bisa mengelus dada melihat Zen pergi.
"Syukurlah, semoga dia tidak ke sini lagi." Jia pun lanjut bekerja.
__ADS_1