
Paginya, Jia bangun duluan. Ia tidak lagi terkejut melihat Gara yang tidur di sebelahnya. Setelah mengumpulkan nyawa dan tenaga, Jia pun beranjak mandi dan kemudian merias diri dan tidak lupa pakai sweater untuk siap bekerja hari ini.
Saat menyiapkan sarapan di dapur, Gara baru keluar dari kamar. Pria itu juga sudah selesai mandi dan bersiap mau ke kantor dengan jasnya yang elegan.
"Pagi, tuan," sapa Jia lalu duduk bersama Gara yang cuma mendehem saja. 'Apa dia masih marah?' batin Jia curi-curi pandangan. 'Emh, aduh, kenapa jadi gugup terus sih,' desis Jia dalam hati.
"Bagaimana kaki dan tanganmu?" tanya Gara tiba-tiba.
"Su-sudah membaik," jawab Jia sedikit kaget. 'Aku pikir tadi mau tanya soal sepeda dan sweaternya,' pikir Jia deg-degan.
"Kalau ada waktu, kau pergilah obati ke rumah sakin." Saran Gara tiba-tiba perhatian.
"Tidak perlu, ini tidak sakit lagi kok, tuan," tolak Jia.
"Jangan keras kepala, lukamu itu bisa infeksi," tegas Gara menunjuk. "Aku tidak mau mendengar keluhanmu saat melayaniku nanti," lanjut Gara mengagetkan Jia.
"Baik, aku akan coba ke rumah sakit nanti," angguk Jia merasa kecewa. Ia pikir Gara mulai perhatian, namun lebih memikirkan percintaannya. Usai sarapan, keduanya keluar bersama. Ketika Gara mau masuk ke mobilnya, Jia menahan tangan Gara. "Ada apa?" tanya Gara tidak jadi masuk.
"Itu, soal kemarin," ucap Jia agak malu-malu. Gara memandang tingkah Jia lalu membatin, 'Dia memang tipeku, sudah aku siksa beberapa hari lalu, tapi dia masih bertingkah seolah tidak pernah terjadi sesuatu, mentalnya cukup kuat,' senyum Gara sedikit.
"Soal apa?" tanya Gara.
Jia pun menjawab sambil menunduk dan memainkan dua jari telunjuknya, bertingkah seperti anak kecil yang sedang malu-malu.
"Itu, te-terima kasih sudah membeli sepeda untukku,"
Gara sontak diam lalu pura-pura tidak dengar.
"Kau bicara apa? Aku tidak mendengarnya," ulang Gara.
"Terima kasih, tuan,"
"Suaramu kecil sekali, aku tidak mendengarnya,"
Jantung Jia semakin berdebar-debar dikala Gara mendekati wajahnya, Jia mundur lalu menunduk.
'Apa dia sengaja? Atau pagi ini dia budeg?' pikir Jia.
"Hei, waktuku tidak banyak lagi sekarang, katakan apa yang kau ucapkan tadi?" desak Gara. Jia pun menghirup udara dalam-dalam lalu memekik.
__ADS_1
"TERIMA KASIH ATAS SEPEDANYA, TUAN!"
Gara serentak mundur gara-gara pekikan Jia yang kencang itu, hampir saja membuat telinganya berdengung. Tapi berkat itu, hati Gara sedikit lega melihat Jia terlihat senang mendapatkan sepeda.
"Ck, aku pikir apa, ternyata cuma itu," decak Gara pura-pura tidak peduli.
'Eh, aku rasa tadi dia senang mendengarnya, tapi kenapa langsung ekspresinya jadi serem begitu?' pikir Jia menelan ludah.
"Ya sudah, aku pergi ke kantor dulu." Melihat Gara yang cuek, Jia dalam hati merasa kecewa. Namun, saat Gara mau membuka pintu mobil, tangannya ditahan Jia.
"Ada apa lagi?" tanya Gara.
"Ha-hati-hati di jalan, tuan," ucap Jia membuat hati Gara sedikit tersentuh mendengarnya. Dengan sendirinya, Gara pun memegang ujung kepala Jia dengan lembut. "Kau juga hati-hati, dan jaga baik-baik sepedamu,"
"BAIK, TUAN!" Sekali lagi Jia memekik senang.
'Astaga, lama-lama telingaku bisa rusak.' Gara segera masuk ke mobil lalu pergi ke kantornya. Jia yang menunduk, gadis itu memegang bekas sentuhan tangan Gara di kepalanya. Senyumnya merekah, namun lama kemudian sirna.
'Tidak, aku harusnya tidak boleh seperti ini, tuan Gara sudah beristri, aku tidak boleh lagi begini!" Jia memukul dadanya yang mulai terasa sakit. Setelah tenang, ia pun pergi bekerja menggunakan sepeda.
Memang Gara berniat ke kantor, tetapi sebelum ke sana, ia berhenti dulu ke rumahnya. Ada dokumen tuan Marvin yang harus diambil.
"Bibi, tolong berikan kunci ruang ayahku, ada dokumen peresuhaan yang mau kubawa," pinta Gara. Ann pun yang sekaligus kepercayaan orang tuanya itu segera pergi. Tidak lama menunggu, Ann datang membawa kunci cadangan.
"Mulai sekarang aku yang akan pegang ini sampai ayah dan ibuku kembali, Bibi," ucap Gara membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Kenapa masih berdiri di situ, bi?" tanya Gara selesai mengambil dan jalan keluar, mendekati Ann yang berdiri di pintu.
"Apa tuan dari semalam bersama nona Celin?" tanya Ann langsung. Gara mengernyit. 'Eh, jangan-jangan dia tidak tidur di sini kemarin?' pikir Gara sedikit terkejut.
'Ck, kalau dia ada di rumahnya, pasti tuan Edwin akan menyuruhnya pulang ke sini, sepertinya dia bermalam di rumah asistennya,' decak Gara yakin Celin tidak lagi tidur di hotel.
"Bibi, sebagai pengantin baru, kami ini sedang mencoba akrab, jadi kami pastinya selalu bersama dan mungkin besok-besok kami akan tidur di luar, eh maksudnya tidur bersama di hotel," jawab Gara bohong saja.
"Tuan muda, saya kemarin benar-benar cemas, tapi mendengar tuan langsung yang katakan, saya jadi lega, syukurlah," hela Ann.
"Ya sudah, saya ke kantor duluan, kalau Celin pulang, bilang saja saya berangkat ke kantor,"
"Baik, Tuan muda."
__ADS_1
Gara pun bergegas masuk ke mobil lalu pergi ke kantor. Dalam perjalanan, ia pun memikirkan Celin. "Dasar tidak tahu diuntung, harusnya dia pulang saja ke rumah supaya Ann tidak curiga, memang dia wanita tidak berguna." Gara mendecak, sangat tidak peduli Celin dan tidak mau tahu apa yang dilakukan istrinya itu. Begitu juga Celin, dia tidak mau tahu urusan Gara. Aktris cantik itu masih terlelap di tempat tidur, dan tidak mendengar ponselnya terus berdering. Juan yang bangun duluan, ia yang dari kamar mandi pun melihat nama si pemanggil.
"Asisten?" ucap Juan lalu melihat Celin, ia pun iseng-iseng mengangkatnya.
"HALO CELIN! SUDAH JAM DELAPAN NIH, KENAPA KAU BELUM SAMPAI JUGA KE SINI?!!!" marah asistennya membuat Juan terlonjak kaget, bahkan Celin langsung bangun.
Juan segera mematikan panggilan itu membuat asisten pun kaget karena diputuskan tiba-tiba.
"Aduh, harusnya aku tidak mengangkat panggilan tadi," ucap Juan merasa bersalah sudah membangunkan Celin. Aktris itu terdiam sejenak melihat Juan berdiri di depannya lalu mengkucek-kucek kedua matanya.
"Celin, matamu kenapa? Sakit?" tanya Juan cemas dan naik ke ranjang. Celin memegang tangan Juan lalu tersentak kaget.
"Hei, kau baik-baik saja, kan?" Tepuk Juan ke bahu Celin. Sontak, wanita itu menangis kencang.
"Huaaaa…hiks, hiks, Juan."
Juan syok melihatnya, terutama air matanya berlinang sungguhan. "Kau kenapa, Cel? Habis mimpi buruk?"
Celin terisak-isak lalu memukul dada kekasihnya. Juan tersentak, antara kaget dan bingung. "Cel, kau kenapa?" tanya Juan lagi.
"Huaa… aku sepertinya masih bermimpi, hiks."
Juan mengerutkan dahi mendengar tangis Celin, dan tiba-tiba wanita itu mencubit-cubit kedua pipinya.
"Hiks, aku memang berharap kau hadir di mimpiku, tapi ini sudah pagi, seharusnya kau sudah tidak ada di hadapanku, apa kau cuma ilusi dari harapanku?"
Juan lagi-lagi dibuat kaget.
"Atau dewa yang menghidupkanmu?"
"Jangan ngaco deh, mana ada hal seperti itu," timpal Juan mencentil keningnya. Celin mundur ketakutan dan menunjuk Juan.
"Tidak, ini bisa terjadi! Kau-kau hidup lagi, dan sekarang jadi Zombie!" tuduh Celin.
"Huuuh, kau kebanyakan nonton film, Celin," celetuk Juan lalu memeluk Celin. "Dengar detak jantungku, dengar baik-baik, sayang." Celin terdiam mendengar detak jantung mereka sama.
"Jadi kau bukan, ilusi? Hantu? Atau zombie?" tanya Celin mendongak. Juan tersenyum dan mencentil lagi kening Celin.
Tuk! Aduh!
__ADS_1