
Dengan kedatangan Celin di rumah Harveyd, aktris populer itu disambut ramah oleh Ann. Tanpa disuruh, pembantu tua itu membawa koper Celin.
"Bibi, di mana ibu dan ayah mertuaku?" tanya Celin sambil menaiki anak tangga. Baru juga mau dijawab, nyonya Vera yang datang bersama suaminya menyahut dari belakang.
"Ya ampun, Celin, baru juga mama mau jemput, kalian sudah di rumah saja," peluk nyonya Vera ke menantu pilihannya itu.
"Oh ya, di mana Gara?" tanya tuan Marvin.
Celin dengan alasannya pun menjawab tanpa ragu-ragu."Masih di hotel, Pa." Mendengar itu, orang tua Gara sedikit kaget dan tidak percaya. Tapi tiba-tiba saja Gara sudah ada di dekat pintu.
"Aku pulang." Gara jalan ke arah mereka.
"Ck, Gara, kau dan Celin harusnya pulang barengan, bukan seperti ini, apalagi kalian sudah tinggal bersama di hotel." Tegur tuan Marvin. Alis kiri Gara terangkat sedikit, mengira Celin pulang sejak hari pernikahan itu, tapi rupanya dia baru tahu Celin tiga hari ini tinggal di hotel tanpa dirinya.
'Ck, kupikir dia pulang ke rumahnya, ternyata di hotel, apa dia menungguku melakukan malam pertama?' pikir Gara ogah melakukan itu.
"Maaf, tadi ada urusan sebentar. Sekarang aku capek, mau ke kamar, istirahat dulu." Setelah berkata begitu, Gara naik dan melewati Celin tanpa sapaan.
"Astaga, sifatnya jadi berubah kalau sudah di rumah, padahal saat di hotel, dia pasti sangat memanjakan mu, kan, Celin?" tebak nyonya Vera melihat menantunya itu.
"Itu, mungkin Gara masih malu-malu, Ma," ucap Celin terpaksa tidak jujur.
"Hmm, kalau begitu, kau ikut istirahat di atas, nanti Mama akan panggil kalian makan siang bersama," genggam nyonya Vera lembut.
"Baik, Mama. Permisi, Ma, Pa, Bi."
Celin buru-buru ke atas diikuti Ann. Sedangkan nyonya Vera senyum-senyum senang di sebelah suaminya.
__ADS_1
"Duh, semoga saja ada keajaiban ya, Pa." Rangkul nyonya Vera ke lengan suaminya. Tuan Marvin hanya bisa diam, lalu naik ke arah kamarnya.
"Entahlah, Papa tidak terlalu berharap pernikahan ini bisa memberikan cucu buat kita," lambai tuan Marvin mengangkat tangannya.
"Ih, Papa! Jangan bicara begitu dong!" Sentak nyonya Vera menyusul suaminya.
"Terima kasih,Bi," senyum Celin di depan kamar Gara.
"Sama-sama, nyonya muda," balas Ann mengangguk lalu pergi.
"Hei," panggil Gara yang duduk santai di sofa. Celin mencibbikan mulutnya, malas menjawab.
"Hei, kau tuli ya sampai tidak mau menoleh?"
"Cih, aktris kok tuli,"
Celin yang kepanasan mendengar cacian itu, terpaksa menoleh dan tersenyum lebar. "Ada apa, suamiku?" tanya Celin.
Gara tersentak lalu membuang muka. "Huek, huek, rasanya pengen muntah dipanggil begitu, ganti! Panggil aku, tuan muda di rumah ini!" perintahnya sok berkuasa. Celin mengeratkan kepalannya, serasa ingin memukul wajah Gara.
"Terserah kau saja, tuan muda," decak Celin lalu membuka lemari baju. ”Dan satu lagi, bagiku, kau itu memang tidak cocok dipanggil suami." Celin berpaling muka dan mulai menata bajunya di dalam lemari.
Gara berdiri lalu memukul pintu lemari sampai tertutup dan kemudian menatap sinis dan benci ke Celin. "Ya, aku tahu kau ogah memanggil begitu, dan aku juga tahu panggilan itu cocok buat kekasihmu yang sudah meninggal itu. Kasihan sekali ya, kalian berpacaran selama enam tahun, tapi berakhir di atas pelaminan bersamaku," seringai Gara tahu percintaan Celin yang tidak diketahui publik. Celin mendorong dada Gara lalu balas menatap sinis.
"Kalau saja dia tidak meninggal, aku juga tidak akan menikah bersama pria berensek sepertimu," cemoh Celin.
"Hahaha, aku dengar kau ini titisan Dewi, tapi kenapa kau tidak pergi hidupkan Juan saja dan suruh dia menikahimu?" balas Gara mencemooh lagi.
__ADS_1
Plak! Gara membelalak pipinya terkena tamparan dari wanita yang sudah dia nikahi. "Brensek! Jangan sebut nama dia dari mulut kotormu itu, kau tidak berhak!!" marah Celin.
"Sialan, baru juga hari pertama kita seatap, aku sudah diberi tamparan. Kau cari mati ya?" geram Gara mengelus pipinya yang sedikit sakit.
"Aku tidak peduli." Celin acuh, dan berjalan ke pintu kamar, tapi seketika berhenti saat melihat baju-bajunya beterbangan. Aktris itu berbalik badan dan syok melihat Gara yang melemparnya.
"Dengar baik-baik, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai istriku, lelaki mana yang mau menerima wanita bekas pria yang sudah meninggal." Setelah katakan hal pedas itu, Gara keluar dari kamarnya, pergi ke ruangan pribadinya.
"Arghh! Gara brensek!" Kacau Celin teriak marah-marah. Ia pun membereskan lagi bajunya yang berhamburan di lantai. Seketika Ann yang baru datang syok melihat kamar pengantin baru itu berantakan.
'Oh, apa sesuatu sudah terjadi di sini?' pikir Ann mengira Gara dan Celin sempat bercinta.
"Nona, maaf mengganggu, makan siang sudah disiapkan," lapor Ann masuk ke kamar.
"Maaf Bibi, sepertinya aku bakal terlambat," keluh Celin memungut satu-satu bajunya.
"Biarkan saya ikut membantu, Nona,"
"Terima kasih, Bibi." Senyum Celin terselamatkan. Setelah merapikan kamar, Celin dan Ann pun ke dapur. Seketika Celin yang tadi cemberut, segera mengubah ekspresi senangnya. Sedangkan Gara yang sudah duduk di kursinya, tetap dingin dan ogah menatap Celin.
Keluarga Harveyd pun sudah hampir lengkap, tinggal suara bayi yang akan melengkapinya. Mereka makan dengan damai. Beda sekali pada Jia yang sedang memaksakan dirinya menguyah makanan di rumahnya. Makanan yang harusnya enak, malah terasa hambar dan menyakitkan di mulut. Tiada henti air matanya berjatuhan. Suara Isak tangisnya mewakili hatinya yang menjerit.
"Huft, semua akan baik-baik saja. Kau jangan menangis lagi, Jia. Keberuntunganmu akan segera tiba."
Jia masih saja percaya hidupnya akan berubah, tapi sekuat apapun dia tegar, air matanya tetap berlinang ke atas piringnya.
"Hiks, aku tidak boleh lemah, aku harus kuat! Pelangi pasti muncul setelah hujan." Dengan tangan yang terluka dan gemetar, sesuap demi sesuap Jia mencoba menghabiskan makanannya. Makan siang hanya seorang diri.
__ADS_1