
"Eh, Mama dan Papa mau keluar negeri besok?" kaget Celin diberitahu kalau mertuanya itu mau melakukan perjalanan bisnis.
"Ya, Celin, Mama dan Papa mendapat kerjasama besar dari mereka. Kau ini memang pembawa keberuntungan bagi kami," puji nyonya Vera yang duduk di dekat suaminya.
"Berapa hari kalian menetap di sana?" tanya Gara yang duduk berjauhan dengan Celin di ruang tamu.
"Sekitar sebulan," jawab nyonya Vera.
"Mungkin ini belum jelas, tapi Papa serahkan perusahan di sini padamu, Gara," ucap tuan Marvin menunjuk Gara untuk mengelola dan menjadi CEO penggantinya.
"Ck, merepotkan sekali," decak Gara antara ogah dan mau.
"Sekarang kalian baik-baik di rumah, jangan melakukan hal aneh-aneh yang mempermalukan keluarga. Gara, mama mempercayakan Celin padamu, sebagai suami, kau harus jaga dan hargai Celin," nasehat nyonya Vera serius.
'Sial, mama sengaja pergi supaya aku dan Celin akrab, tapi itu percuma, aku tidak sudi mengenal dia,' batin Gara.
"Gara, jangan cuma diam, jawab Ibumu," desak tuan Marvin.
"Ya, aku akan dengar baik-baik," kata Gara lalu tersenyum paksa ke celin.
"Mohon kerjasamanya ya," ucap Gara terpaksa berkata manis di depan orang tuanya.
Melihat dan mendengar ucapan Gara, nyonya Vera dan tuan Marvin pun bisa tenang. Setelah menjelaskan tugas Gara di perusahaan, mereka pun ke kamar masing-masing, kecuali Gara yang tanpa sepengetahuan orang tuanya, ia berbelok ke ruang pribadinya. Pria tampan itu lebih memilih tidur di sana dari pada satu ranjang dengan Celin malam ini. Sementara Celin, tidak bisa tidur nyenyak, ia bukan karena was-was pada Gara, tapi sedang merenungkan kekasihnya.
"Juan, walau aku sudah menikah, kau tetap selalu di hatiku." Usai mencium foto kekasihnya di dalam galeri, aktris itupun tertidur lelap.
Sementara di rumah Jia, ia malam ini bisa bernafas bebas. Hanya saja, perbuatan kejam Gara masing membekas di dalam ingatannya. Jia takut, takut akan menjadi mimpi buruknya. Akibat itu, ia beranjak duduk dan membuka ponselnya. Jia tersentak ada banyak pesan dari teman baiknya, @sibijak.
"Halo, Jia, ini kau kan?"
__ADS_1
"Iya, maaf baru bisa menghubungimu," ucap Jia dalam panggilan suara.
"Ya tidak apa-apa, pasti kau capek dari pernikahan Nona Celin, tapi kenapa suaramu agak parau dan lemah begitu? Kau habis menangis?" tanya temannya bertubi-tubi.
"Ini aku lagi masuk angin, terus sedikit flu jadi suaranya agak serak-serak," jawab Jia terpaksa bohong agar tidak membuatnya cemas.
"Kau ini selalu saja ceroboh, pasti selalu keluar malam-malam, kan?" tebaknya agak marah.
"Tidak kok, aku cuma di rumah," elak Jia.
"Jia, kau ini mudah sekali terbaca, mau dari perilaku atau bicaramu itu jelas sekali loh," hembus temannya tahu pribadi Jia.
"Maaf, sebenarnya aku habis menangis," lirih Jia.
"Nah itu, sudah aku duga, menangis karena apa, Jia?" tanya temannya sedikit lega Jia mau jujur.
"Yaelah, ternyata itu. Hahaha, kau jangan terlalu pikirkan, Jia, aku tidak akan marah kok," tawa temannya merasa Jia lucu.
"Terima kasih sudah mengerti," ucap Jia berusaha senang.
"Ya sudah, kapan-kapan kau telepon aku lagi ya, jangan tiba-tiba menghilang," celetuk temannya.
"Siap, Ibu calon Dosen, muridmu tidak akan hilang kemana-mana," balas Jia tertawa.
"Hahaha, Jia itu geli tahu!" tawa temannya cekikikan. Setelah bicara, Jia pun memeluk ponselnya. Sedikit tenang ada teman yang bisa diajak mengobrol. Walau pun begitu, hati Jia masih belum tersembuhkan.
"Besok, aku harus cari alasan apa ya?"
Jia sedang memikirkan cara menjelaskan dirinya yang tiga hari tidak masuk bekerja. Karena mau diberi alasan apapun, Bosnya bisa dengan muda membaca ekspresinya.
__ADS_1
"Okeh, aku hanya perlu bicara dengan tenang tanpa ekspresi!" Jia memejamkan mata, berharap besok lancar dan malam ini Gara tidak datang ke rumahnya. Tentu Gara tidak ke rumah Jia malam ini, sebab pria itu tahu waktu mana yang bagus untuk bercinta dengan Jia. Terutama Gara tidak mau orang tuanya tahu soal Jia. Karena ini, Jia akhirnya bisa merasakan kedamaian walau itu hanya semalam saja.
\=_\=\=_\=\=_\=
Esoknya, nyonya Vera dan tuan Marvin sudah berangkat pagi-pagi ke bandara. Kini tinggal Gara, Celin dan Ann di rumah itu yang sarapan pagi.
"Kemarin kau kemana saja?" tanya Celin membuka obrolan di atas meja makan. Ia ingin tahu di mana Gara bermalam.
"Bukan urusanmu," jawab Gara ketus.
"Ini juga urusanku, sebagai istri, aku harus tahu kemana kau pergi," ucap Celin tegas.
"Tapi bagiku, kau bukan istriku!" Acuh Gara berdiri dan siap pergi keluar.
"Mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Celin ikut berdiri.
"Sialan, ini yang tidak aku sukai, kau banyak maunya dan banyak tanya," kesal Gara.
"Jawab saja, tidak usah mengoceh," kata Celin duduk kembali.
"Ke kantor, puas?!"
Brak! Sebelum berangkat ke kantornya, Gara sempat-sempatnya menendang kursi. Lalu ia pun pergi begitu saja tanpa pamit-pamitan ke istrinya. Gelas yang berisi air pun menjadi lampiasan kekecewaan Celin yang diabaikan oleh suaminya itu.
"Ck, tidak sedikit gadis-gadis di luar sana mengidolakannya, kalau saja mereka melihat sifat aslinya, aku yakin dia akan dicap pria sampah di dunia ini," emosi Celin lalu berusaha tenang. Usai sarapan, Celin ke belakang menemui Ann.
"Bibi, saya mau keluar hari ini, nanti kalau Gara pulang lebih awal, Bibi tidak usah menyuruhnya menjemputku,"
"Baik, nyonya." Ann kembali menyapu taman dan mengbiarkan Celin pergi dari rumah. Tujuan aktris itu ingin berkunjung ke rumah Bosnya Jia untuk melihat cucu dari teman Ibunya itu.
__ADS_1