Bukan Sebatas Istri Gelap

Bukan Sebatas Istri Gelap
20. Bibir Merah


__ADS_3

Zen duduk di kursi depan toko lalu menunjuk ke sebuah jalan sempit. "Kemarin aku sudah bilang, tempat latihanku itu dekat dari sini," jawab Zen sumringah. Jia mangut-mangut baru ingat.


"Enak juga ya bekerja di sini," senyum Zen.


"Kalau aku kerja di sini juga, pasti lebih enak," lanjutnya bersandar ke belakang.


"Enak karena apa?" tanya Jia yang merasa biasa-biasa saja.


"Enak bisa lihat wanita cantik setiap hari," jawab Zen sengaja gombal. Jia tersentak lalu tersenyum kaku. "Hahaha, kau bisa saja ya gombal ke karyawan sini, anak muda," tawa Bosnya Jia keluar. Jia dan Zen terbatuk-batuk merasa malu dihadapan wanita tua itu. "Maaf, aku ke dalam dulu," izin Jia mau masuk tapi ditahan Bosnya.


"Jia, jangan begitu, pacar kau baru datang, duduk dan ajak saja mengorbrol, toko hari ini juga agak sepi," ucap Bosnya membuat Jia dan Zen sama-sama terkejut.


"Eh, kami tidak pacaran!" kompak Jia dan Zen. Bosnya tertawa lagi lalu menepuk bahu Jia. "Sudah, jangan malu-malu, Ibu bisa mengerti kok, Ibu juga tidak melarang kau bawa pacar, asal jangan berbuat aneh-aneh, sekarang Ibu mau pulang sebentar lihat cucu," ucap Bosnya pun pergi meninggalkan Jia yang berdiri di pintu dan Zen yang duduk di kursi. Suasana cukup tegang di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Itu, aku mau masuk, kalau kau mau, kau juga boleh masuk,"


"Eh, kau izinkan aku masuk? Tidak apa-apa nih?" tanya Zen berdiri.


"Ya kalau di sini terus, nanti orang-orang akan mengira kita ini pacaran," ucap Jia mundur ke dalam. Zen pun maju, melewati pintu dan langsung menarik tangan Jia, kemudian mengurung ke dalam jangkauannya. Jia deg-degan melihat jarak yang terlalu dekat.


"Jia, harusnya kau usir saja aku, bisa saja loh aku melakukan sesuatu padamu di dalam toko ini," sentuh Zen ke dagu Jia.


"Tapi aku rasa kau tidak akan melakukan hal aneh-aneh," ucap Jia menelan ludah ketakutan.


"Bagus, sekalian aku mau lihat apa saja yang dia lakukan di sana." Gara menancap gas ke toko bunga Jia.


Tring! Bel pintu mengagetkan Jia yang sedang mengelap meja. Buru-buru Jia menyabutnya. "Selamat-" putus Jia terkejut yang datang adalah Gara.

__ADS_1


"Heh, tumben kau sendirian di sini, di mana Bosmu?" tanya Gara masuk dan melewati Jia. Sontak Jia berbalik dan melihat Gara duduk di meja konsumen. Ia pun kembali terkejut karena tidak ada Zen di sana juga. 'Loh, kemana dia?' pikir Jia celingak-celinguk mencari sosok Zen.


"Hei, siapa yang kau cari?" tanya Gara berdiri dan mendekat.


"Tidak ada, tuan," jawab Jia menunduk cemas, karena tindakan Zen yang bersembunyi itu terlalu bahaya. Bisa-bisa, Gara marah lagi padanya sudah menyembunyikan pria lain.


"Kalau tidak ada, kenapa matamu ke sana sini?" tarik Gara ke dagu Jia supaya dapat melihat mata hitam gadis itu.


"Itu, kedatangan tuan yang tiba-tiba membuatku takut," ucap Jia tidak tahu mau jawab apa lagi.


"Oh takut? Takut ada orang ke sini atau takut aku melakukan hal mesum di sini?" seringai Gara mengusap bibir merah Jia yang lembut.


"Aku yakin kau tidak akan melakukan itu, tuan." Geleng Jia. Gara pindah menyentuh wajah Jia guna mencium gadis itu. Jia panik, jantungnya berdebar-debar. 'Tidak, tuan Gara jangan lakukan itu di sini,' batin Jia mau mendorong sebelum Zen melihatnya. Namun yang dicemaskan, sudah berdiri di dekat pintu ruang Bosnya Jia.

__ADS_1


"Ehem, selamat datang," dehem Zen membuat Gara dan Jia reflek menengok ke samping. Matanya membelalak sempurna.


"Kau, siapa? Kenapa ada di sini?" Tunjuk Gara maju ke depan Zen. Sedangkan Jia diam dalam kepanikan. 'Gawat, toko ini dalam bahaya!' Jia takut Gara marah dan menghancurkan tokonya. Sementara Zen malah sebaliknya, ia yang sedang dicengkram kerah lehernya tetap santai walau ditatap arogan sekalipun oleh Gara.


__ADS_2