Bukan Sebatas Istri Gelap

Bukan Sebatas Istri Gelap
13. Semakin Aneh


__ADS_3

Adapun di tempat lain, Jia baru sampai, dan bergegas membuka toko bunganya. Seperti biasa, ia yang lebih awal datang. Beberapa menit kemudian, masih belum ada kedatangan tiga teman kerjanya.


"Harusnya mereka sudah ada, tapi kenapa jadi sepi mencekam begini?" Jia yang sedang menyapu lantai, merasa agak takut dengan toko yang sepi. Namun, tiba-tiba seseorang membuka pintu dari luar. Jia dengan ramah menyambutnya. "Selamat datang, bu Bos," sapa Jia tersenyum.


"Eh, pantas aku heran kenapa toko bisa terbuka, ternyata kau sudah masuk bekerja. Dari mana saja baru datang ke sini, Jia?" senyum Bosnya lalu duduk sejenak di kursi.


"Aku habis sakit, bu Bos," ucap Jia agak ragu-ragu berbohong.


"Oh pantas di hari pernikahan itu kau pulang tanpa mereka, tapi lain kali kau juga harus beritahu padaku," ucap Bosnya geleng-geleng kepala.


"Maaf, aku tidak punya nomor, Ibu," cengir Jia malu-malu.


Bosnya terdiam lalu tertawa gemas. "Haha, kau ini kan bisa minta ke mereka, Jia," 


"Eh, aku tidak memikirkan sampai ke situ, hehe," cengir Jia jadi malu beneran tidak berpikir ke sana. "Ya sudah, kau jangan terlalu paksakan dirimu, santai saja bekerja mulai hari ini," senyum Bosnya lalu berdiri. "Sebentar, bu," tahan Jia sebelum Bosnya pergi keluar.


"Hm, kenapa?" toleh Bosnya.


"Mereka kenapa belum datang? Apa lagi izin bebarengan?" tanya Jia mencari ketiga temannya. "Loh, kau sungguh tidak tahu mereka sudah berhenti?" kaget Bosnya baru sadar Jia tidak tahu apa-apa soal karyawan lain.


"Be-berhenti? Kenapa mendadak begitu, bu?" tanya Jia juga kaget. Bosnya pun menjelaskan kalau tiga karyawan yang habis dari pernikahan Celin tiba-tiba mendapat nasib baik. Seperti @sipalingcentil mendapat tawaran pekerjaan yang lebih besar, dan @sipalingbenar pulang ke tempat asalnya untuk menghadiri perjodohan. Sementara @sipalingtua hari ini sudah menikah dan bekerja di tempat suaminya sendiri.


Jia melongo mendengar kabar mereka yang impiannya langsung terwujud. Bosnya pun menahan tawa melihat keterkejutan Jia yang lucu itu. "Oh ya, kau dari sana mendapat keberuntungan apa, Jia?" tanya Bosnya ingin tahu. Jia menunduk, hatinya sedikit iri pada mereka. 


"Jia, kau tidak mendapat apa-apa?" tanya Bosnya lagi. Jia merem@s ujung baju kerjanya lalu menatap Bosnya.


"Aku rasa, keberuntunganku itu masih diberi kesempatan bekerja di sini," lirih Jia tidak tahu juga apa keberuntungannya. Jangankan mendapat nasib baik, Jia malah mendapat siksaan dari perlakuan Gara kemarin. Bosnya agak terkejut, merasa nasib Jia sangat berbeda dari mantan karyawan yang lain. Wanita tua itu menepuk bahu Jia dan tersenyum.


"Mungkin keberuntungan Ibu juga adalah kau yang masih bertahan di toko ini, Jia."

__ADS_1


Jia tersentak, sedikit terharu mendengarnya. Gadis itu pun balas tersenyum dan menahan air matanya.


"Terima kasih, Bu Bos," lirih Jia.


"Hahha, sama-sama, Jia."


Setelah tertawa bersama, Jia pun mengantar Bosnya keluar toko dan melihat wanita tua itu pergi membawa mobilnya. Kini Jia hanya sendirian bekerja di sana. Benar saja, ada banyak pesan dari grup dari mereka, Jia jadi bersalah tidak aktif selama tiga hari itu.


"Mereka sudah mendapatkan kebahagian masing-masing, sementara aku masih belum mendapat apa-apa, bahkan tidak ada petunjuk aku akan menemukan dia," keluh Jia lalu memegang kepalanya yang berdenyut.


"Kalau saja aku masih bisa ingat sesuatu, mungkin aku bisa terbebas dari hubungan ini." Jia merasa satu-satunya cara bisa memutuskan rantai Gara dari hidupnya adalah Dia yang sedang dicari-cari Jia. Karena serius bicara sendiri, Jia sontak kaget mendengar pintu toko dibuka dari luar. Cepat-cepat ia menyambutnya.


"Selamat datang ke-" putus Jia kaget yang masuk adalah aktris Celin.


"Eh, kau yang membantu aku kan? Namamu, Jia, kan?" Tunjuk Celin hampir tidak mengenali Jia yang hanya pakai riasan polos.


"Ma-maaf, apa Nona ke sini mau ketemu Bos saya?" tanya Jia menghindari pertanyaan Celin dan sedikit menjauh. Jia masih ingat peringatan Gara untuk tidak dekat-dekat Celin.


"Bukan cuma Bosmu, aku juga ingin bertemu kalian yang dulu datang berempat, tapi kenapa kau cuma sendirian di sini?" tanya Celin balik. Jia segera menarik tangannya lalu menjauhi Celin.


"Mereka sudah berhenti, dan bu Bos sedang keluar sebentar, Nona tunggu saja di sana," jawab Jia menujuk meja untuk konsumen yang datang.


"Loh, kenapa kau agak berbeda hari ini?" heran Celin.


"Apa maksud, nona?" tanya Jia jadi was-was.


"Dari segi tampilan, mau natural atau make up, kau memang cantik, tapi dari segi tingkah laku, kau seperti menjauhiku, apa saat itu kau tersinggung gara-gara ucapan asistenku?" tatap Celin berkaca-kaca, merasa bersalah atas asistennya waktu itu.


"Tidak, saya baik-baik saja," senyum Jia lalu berbalik badan. Saat mau membelakangi Celin, kedua tangan Jia lagi-lagi dipegang.

__ADS_1


"Sebentar, tangan kau kenapa jadi terluka begini?" tanya Celin menarik ke atas kerah lengan Jia dan terkejut ada bekas lilitan yang kuat dan masih sedikit lebam. Jia menarik keras tangannya lalu membelakangi Celin.


"Ini bukan urusan anda, nona. Permisi," acuh Jia terpaksa demi menjaga pekerjaannya tetap berlanjut di toko ini.


"Dia semakin aneh, luka itu pasti sangat sakit, harusnya dia ke RS mengobatinya, tapi malah menyembunyikannya. Apa yang sudah terjadi padanya?" Makin dipendam, makin kuat rasa penasaran Celin.


'Aku tidak boleh bicara lagi dengannya.' Jia yang mengidolakan Celin pun hanya bisa pasrah kalau wanita itu sampai membencinya akibat sifatnya yang barusan.


'Kalau tuan Gara melihatku, bukan cuma aku saja yang disiksa, tapi nona Celin juga pasti akan merasakannya,'


'Demi dia, aku tidak boleh membuat nona Celin terluka gara-gara ini.'


Jia memegang bekas lilitan tali di tangannya lalu melirik sesekali ke Celin yang sedang menunggu dan selalu menatapnya curiga. Namun Jia akhirnya bisa bernafas lega saat Bosnya datang dan bicara ke Celin. Sibuk basa basi, Bosnya pun mendekati Jia.


"Jia, Ibu mau pulang bareng Nona Celin, toko hari ini Ibu serahkan padamu, lakukan tugas baik-baik ya,"


"Baik, bu Bos," patuh Jia. Sebelum pergi, Celin tersenyum ke Jia, namun gadis itu pura-pura tidak melihat. Celin pun cemberut diabaikan fansnya.


'Ish, akan aku marahi asistenku itu, gara-gara dia, citraku di mata Jia jadi rusak,' batin Celin kesal ke asistennya.


"Huft, selamat," hembus Jia lega kini sendirian lagi di toko lalu menunduk sedih. "Nona Celin tadi sepertinya marah, ini pasti karena aku yang keterlaluan, maafkan aku, nona Celin." Jia menjatuhkan dirinya ke kursi lalu mengambil kotak P3K dan mengobati lagi luka lilitan rantai di pergelangan kakinya dibalik kaus.


Belum juga mengobati seluruh lukanya, para konsumen yang kemarin meminta bunga, semuanya menghubungi ke nomor toko itu. "Baik, bu, bunganya akan saya antar segera mungkin." Jia pun mulai sibuk memilah bunga segar lalu keluar, namun ia bingung mau pakai apa.


Tiba-tiba ada sebuah sepeda di dekat toko, Jia pun mendekati dan terkejut sepeda itu untuknya. Sebuah kertas yang berasal dari sang pengirim.


"Eh, tuan Gara?" kaget Jia membaca surat dari Gara. 


[Jangan berpikir aku ini baik padamu, aku membelikan sepeda ini agar pria di luar sana tidak melirikmu]

__ADS_1


Walau maksudnya lain, Jia sedikit tersepu mendapat sepeda. Seketika seseorang datang menghampirinya.


__ADS_2