
"Kemarin, kau pulang ke mana, nona Celin?" tanya asisten datang ke ruangan Celin dan duduk di sofa. "Ke rumah mertuamu, atau ke hotel lagi nih?" Sambil menyeruput boba di tangannya, ia melihat Celin sedang duduk dan menatap ponsel saja.
"Bukan urusanmu," jawab Celin cuek.
"Ish, dingin banget sih," celetuk asistennya, yang sekaligus sahabat Celin.
"Oh ya, dari kemarin aku mau tanya nih,"
"Tanya apa?" lirik Celin pun tertarik.
"Kira-kira, kau sudah merasakan malam pertama?"
Celin diam sebentar, lalu menyentuh dagunya.
"Celin, ini pertanyaan yang sangat mudah, kalau kau pernah melakukan bersama CEO Gara, harusnya kau bisa jawab tanpa harus dipikir lagi," celetuk temannya gemas. "Hmm, sudah." Angguk Celin tersenyum.
"Uhuk…uhuk, yang benar?" kaget asistennya terbatuk-batuk.
"Cih, apa kau tidak bisa bedakan mana akting dan asli?!" decak Celin kesal sekali harus jawab hal yang mustahil itu.
"Galak amat sih, aku kan cuma bertanya, hmp!" cetus asistennya pergi merasa kesal juga karena sulit mempercayai Celin yang mahir dalam berakting. "Ishh, arghhhh." Celin merem@s kertas di tangannya, lalu melihat ponselnya berdering.
"Oh, halo, ada apa, bi?" tanya Celin terpaksa mengangkat panggilan dari nomor rumah Harvey.
"Nona, maaf sudah mengganggu,"
"Tidak apa-apa, ini juga aku lagi di kantor dan tidak sibuk," ucap Celin bicara lembut. "Tadi ada apa, bi?" tanya Celin lagi.
"Itu, ayah nona sedang di rumah, beliau ingin bertemu," jawab Ann. Senyum Celin pun hilang lalu membatin, 'Sialan, kenapa sih ayah ke sana lagi? Kan bisa ketemu di kantor!' gerutu Celin lalu mengiyakan. "Baik, bi, bilang saja aku sudah ada di jalan,"
"Baiklah, nona."
Tuut!
__ADS_1
"Eh, mau kemana kau?" tanya asistennya datang lagi membawa teh botol. "Pulang," jawab Celin jalan melewatinya. "Pulang kemana?" susul asisten jalan di sebelahnya.
"Rumah mertua," ucap Celin datar lalu mengambil teh botol asistennya dan meneguk sampai habis. "Terima kasih, aku pulang dulu." Pamit Celin memberikan botol kosong ke asistennya lalu pergi. Tingkahnya barusan membuat asisten melongo.."Dia ini kalau tidak di depan fansnya, anggun-anggunnya tidak ada." Asisten itu pun pergi ke ruangannya sendiri.
Tidak lama kemudian, Celin sampai ke rumah, dan tidak sengaja berpapasan dengan Gara yang juga disuruh pulang. "Cih, merepotkan." Decak Gara malas menyapa istrinya. Begitu pun Celin tidak mau menyapa suaminya. Tapi saat tiba di pintu, keduanya berpura-pura akrab di depan tuan Edwin yang senang melihat anak dan menantunya datang.
"Papa, kenapa tidak bilang-bilang dulu ke Celin?" tanya aktris itu duduk di dekat Gara. "Haha, papa rasa itu tidak perlu," jawab tuan Edwin sedikit tertawa. "Ngomong-ngomong bagaimana kabar kalian?" tanya tuan Edwin.
"Seperti yang kau lihat, kami berdua baik-baik saja," jawab Gara cuek, membuat Celin menyikunya. "Hei, sopan sedikit dong, kalau kau bersikap begitu, papaku bisa curiga kalau kita ini tidak seperti yang dia pikirkan," bisik Celin mencibikkan bibir lalu tersenyum ke tuan Edwin.
"Pernikahan kami baik-baik saja kok, Pa," ucap Celin memeluk lengan Gara. 'Eh, apa-apaan dia ini?' kaget Gara dalam hati.
"Syukurlah, kalau begitu," hembus tuan Edwin tersenyum senang lalu menyeduh teh yang disiapkan Ann tadi di atas meja.
"Oh ya, papa ke sini bukan cuma tanyakan kabar kami saja kan?" tanya Celin pun melepas Gara, tidak mau lama-lama memeluknya.
"Ya, papa memang ke sini mau tanya kabar kalian, dan sekalian mau tanya mertuamu kemana hari ini? Kenapa tidak terlihat dari tadi?"
"Ayah dan Ibuku lagi ke luar negeri," ucap Gara ketus.
"Haha, ya itu, mama dan papa mertuaku sedang dalam perjalanan bisnis, jadi cuma kami bertiga saja di rumah ini, pa." Sikut Celin lagi ke pinggang Gara. 'Aish, apa lagi sih dia ini!' desis Gara geser sedikit tapi Celin menarik lengannya dan tetap melengket, membuat Gara benar-benar kesal dan risih.
"Papa kenapa tanyakan itu?" tanya Celin terpaksa bertindak mesra ke Gara, supaya papanya tidak curiga.
"Ternyata kabar itu benar," ucap tuan Edwin.
"Kabar apa?" tanya Gara dan Celin bersamaan.
"Melihat kalian cuma berdua di rumah ini, sepertinya papa paham tujuan mertuamu ke keluar negeri," jawab tuan Edwin mulai serius.
"Tujuan? Tujuan apa?" tanya Gara, lalu disusul Celin.
"Sepertinya mereka memberi kalian kesempatan untuk berduaan, tapi bagiku kalau ini mungkin agak sulit, jadi papa rasa ingin menetap di sini," jawab tuan Edwin menatap Gara. Pria tua itu yakin putrinya dan Gara tidak sepertinya akrab dan yang dilakukan putrinya hanyalah keterpaksaan.
__ADS_1
Tiba-tiba Gara menarik pinggang Celin, membuat wanita itu kaget bukan main, ini pertama kalinya Gara bertindak jauh.
"Tidak usah, hubungan kami berdua cukup baik dan harmonis, papa tidak perlu mencemaskan itu," ucap Gara tiba-tiba bicara sopan lalu mencubit Celin untuk menyakinkan ayahnya juga.
'Sial, putrinya ini sudah merepotkanku, aku tidak mau pak tua bangka ini juga ikut merepotkanku,' batin Gara tidak mau ada halangan lagi. Ini akan susah untuk menemui Jia.
"Haha, papa kan punya rumah sendiri, ngapain lagi harus menginap di sini? Kami ini kan bukan anak kecil yang harus dijaga," tawa Celin balas memeluk Gara. CEO tampan itu pun syok sekali.
"Lagian juga, kalau papa menginap di sini, waktu bermesraan kami bisa terganggu, iya kan, sayang?" tambah Celin terpaksa demi kebaikannya agar tidak terhalang menemui Juan.
Ann di dekat pintu, ia juga kaget melihat suami istri itu. Tapi Ann senang karena meresa Gara dan Celin sudah benar-benar akrab.
'Aku harus laporkan ini kepada nyonya dan tuan besar.' Ann pergi dari tempatnya. Sedangkan tuan Edwin menyentuh dagu masih belum yakin.
"Tapi papa rasa-" putus tuan Edwin.
"Papa tenang saja, kami berdua sudah saling mencintai, iya kan, istriku?" lirik Gara juga terpaksa, padahal di lubuk hatinya, ingin cepat-cepat muntah di toilet. Adapun Celin sangat terkejut mendengarnya. 'Dia mencintaiku? Apa itu sungguhan?' pikir Celin tiba-tiba hatinya terasa aneh, panas dan berdebar. Ia pun mengangguk saja.
"Baguslah, melihat tingkah kalian, papa sudah yakin," senyum tuan Edwin lalu berdiri. "Papa pulang dulu ya, baik-baiklah bersama suamimu," nasehat tuan Edwin. "Baik, papa." Tuan Edwin pun pulang ke rumahnya. Sedangkan Gara dan Celin buru-buru pergi ke toilet. Pria tampan itu memuntahkan rasa muaknya dan Celin juga muntah di toilet sebelah.
"Huekk…hueekkk,"
"Hei! Tidak usah berlebihan! Aku tahu kau juga muak, tapi berhenti dong mengeluarkan suara menjijikan itu!" teriak Gara sudah tidak mual lagi, dan berdiri di luar toilet. Tapi Celin masih mual-mual di dalam. "Cih, menyebalkan!" Gara pergi ke kantor, ia tidak suka mendengar muntahan Celin yang seolah menghinanya.
Karena tidak keluar-keluar, Ann yang habis melapor segera ke depan pintu toilet, lalu bertanya ke Celin yang akhirnya keluar.
"Nona, baik-baik saja? Atau saya buatkan teh?"
"Tidak usah, aku cuma mual sedikit kok, bi," tolak Celin tersenyum.
"Bagaimana kalau nona ke rumah sakit dulu?" saran Ann yang cemas melihat Celin agak pucat. Celin menggeleng baik-baik saja. Wanita itu pun pamit ke Ann, kembali ke kantornya.
"Duh, ini tidak biasanya nona Celin mual-mual, apa jangan-jangan nona sedang hamil? Tapi usia pernikahannya belum ada sebulan, apa cuma perasaanku saja?" Ann tidak yakin, tapi seketika ia mengerti kalau Celin pasti mual-mual karena pencernaannya sedang tidak baik-baik saja. "Semoga saja perasaanku salah." Ann kembali bekerja dan menangkis firasatnya jauh-jauh.
__ADS_1