
"Eh dari mana kau....."
"Tentu saja aku tau. Dia kan kekasih ku" kataku menjailinya
"Ah...benarkah. Oh kalau begitu selamat ya....kau mendapat kekasih yang sempurna. Aku doakan yang terbaik teman" ucap hasan sambil tersenyum. Gua tau dia itu sedih dan sakit hati. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang menahan kesedihan. Aku pun menepuk bahu hasan.
"Aku hanya bercanda teman. Jangan sedih gitulah. Aku mengenalinya karena waktu itu aku bertemunya di pasar,dia bersama urban waktu itu. Yah..aku kenalan dengan dia lalu berteman." kataku menghibur
"beneran...." tanya hasan ragu
"Ya iya lah. Masa aku mengambil wanita orang. Hahahaha"
"iya juga ya.hahhahaha bodoh nya aku" Balas hasan
"ya kamu memang bodoh kan?" tanyaku lagi menjailinya
"Apa?"
"hahaha bercanda teman. Kamu ini seru juga ya dijaili. Hahaha. Eh omong omong,menurutmu era itu bagaimana orangnya?" tanyaku
"emang kenapa? jangan jangan kau mau merebutnya!!!!"
"Eh jangan salah bicara!!!! aku masih punya hilda. Kau jangan geer" kataku sedikit kaget
"Tunggu hilda? kau....berhubungan dengan nya?" tanya hasan tiba tiba berubah ekspresi
"kenapa? kau mengenalnya?" tanya ku heran
"nanti kita bicara lagi. Setelah pertemuan ini selesai aku tunggu kau di kedai. Sambil makan kita berbincang disana."
"Baiklah" sahutku
Aku masih heran melihat ekspresi Hasan. Ia mengenali hilda? berarti hilda tak jauh dari wilayah timur ini. Benar benar membingungkan. Apa kah ia benar benar hilda atau ia hilda yang lain. Ah gak mungkin gak mungkin,Hilda itu nama moderen. Tak mungkin nama itu lahir di zaman yang kuno ini. Aku harus berbicara dengan hasan setelah ini.
Setelah selesai berpidato,sultan pun membubarkan seluruh pasukan dan menteri menterinya. Sesuai janji,aku dan hasan pun duduk di sebuah kedai hiburan untuk melepas lelah,sekaligus makan siang. Kami pun memesan makanan dan mulai berbincang serius.
"Hasan,katakan padaku. seperti apa Hilda yang kau kenal?" tanyaku memulai pembicaraan
"Dia cantik. Masih muda. Dia seperti seusia kita. Ia berambut panjang dan sangat populer di sana. Dan juga..."
"juga apa" tanya ku lagi
"dan juga....ia memiliki *** lalat kecil di bawah mata kirinya"
APA!!!!! Ia....sungguh Hilda. Akhirnya aku berhasil menemukanmu hilda. Hilda,tunggulah aku. aku pasti menjemputmu dan membawa mu kembali pulang.
"Hasan. Antarkan aku kepadanya. Kau tau dimana ia sekarang kan" tanyaku penuh harap
"aku tau ia dimana. Tapi....." Ia pun memberhentikan kalimatnya
"tapi apa hasan. Katakan" tegasku
"Kau yakin ia yang kau cari. Soalnya ia jendral besar kerajaan roma. Dan juga sekaligus bawahan Kalos,kaisar konstantinopel. ia berada di sana sekarang" katanya dengan serius
"APA!!!! tak...tak mungkin....Ia tak mungkin sehebat itu. Aku mengenalnya. Ia wanita yang lugu. Ia tak mungkin sehebat itu. Kau jangan bercanda." kataku tak percaya
"Huh,kalau tak percaya tidak masalah. Aku sudah memberitahumu yang kutau. Sekarang kepuyusan ada di tanganmu"
"Apa maksudmu?" tanyaku tak faham
"Aku takut justru ketika kita mengepung konstantinopel nanti,dia akan berpihak pada kafir kafir itu. Kemungkinan kalian menjadi mu...."
"Tak boleh" kataku memotong kalimatnya
__ADS_1
Aku pun mengambil sebuah kain lalu menutup mulutku. Sambil seperti sorban dengan memakai masker. Hasan pun bertanya padaku apa yang akan kulakukan.
"Ali,apa yang ingin kau lakukan" tanya hasan heran
"tentu saja menemui Hilda. Aku sudah berjanji padanya untuk membawanya pulang" kataku sambil berdiri
"Tunggu. Pulang. Maksudmu....ia dari masa depan juga" tanyak hasan bingung
"Ya,ia adalah sahabat baikku. Sekaligus orang yang ku cintai. Aku dan dia sudah berteman sejak lama. Aku akan membawanya kembali dari konstantinopel,meskipun nyawaku yang jadi taruhannya"
"Keren,tapi ia itu bukan muslim. Tak mungkin kau menikahi wanita yang bukan...."
"Itu bukan urusanmu. HASAN,Jika sultan bertanya,katakan aku sedang ke kandang singa untuk menjemput kucing kesayanganku. Jangan biarkan MALIK dan husein tau kalau aku pergi. Ini tidaklah mudah,setidaknya kita dapat berjumpa kembali setelah pasukan kalian mengepung kota besar itu. Aku menunggu kalian Hasan,sampai jumpa" Itulah kata kata terakhir yang kuucapkan. Maaf hasan,kita harus berpisah disini. Seseorang sedang menungguku untuk menjemputnya.
Sambil kembali meminum segelas anggur(Jus anggur yang ungu. Bukan anggur merah. Jadi jangan salah paham ya๐ค) Aku pun keluar dari pintu kedai tersebut. Hasan,waktu kalian mengepung kota hanya tinggal 1 minggu lagi. Setelah itu pengepugan di hari ke 40 adalah hari yang penting dalam sejarah,yang mana setelah 40 hari kota itu akan jatuh ke tangan kerajaan kita,sekaligus hari kematianmu. Aku tak akan membiarkan itu terjadi,bagaimana pun aku akan tetap melindungimu.
Warning : sudut pandang Hasan
Ali,semoga kau kembali dengan selamat. Kami akan mendoakan keselamatanmu. Berjuanglah Ali.
akupun pergi ke kasir untuk membayar makanan yang kami pesan. Ketika sampai di meja kasir....
"Nona ini uangnya. 2 Hummus dan 2 angur." kataku sambil memberikan 4 keping emas.
"Baik terima kasih tuan. Tunggu,nama tuan hasan kan?" tanya nona itu
"ya ada apa?" tanya ku lagi
"tadi ada seorang perempuan,ia memberikan surat kepada ku. Ia menyuruhnya memberikan pada tuan hasan. Ini suratnya,Masih belum saya baca."
Wanita itu pun memberikan sebuah surat kepadaku.
"Siapa yang mengirim ini padamu"
"era....baiklah terima kasih. Saya pamit dulu"
"sama sama,jangan lupa datang lagi tuan."
"ya,aku akan singgah kembali"
Aku pun keluar dan duduk di sebuah kursi yang disediakan oleh kedai tersebut,tepatnya di teras (luar). Sambil memikirkan kenapa era mengirim surat,aku masih gugup untuk membuka surat ini. Apakah...ia mengajakku kencan,aduh,atau ia ingin aku kawin lari dengannya. AAAAAHHHH!!!! Aku tak sabar sekali membacanya. Apapun itu aku yakin ini pertanda baik. Terima kasih ya allah....
Akupun mulai membuka surat tersebut,sambil menutup mata. Kira kira apa yang ia tulis ya....
Ketika aku membuka mataku,aku langsung membaca isi surat tersebut.
*Isi surat
Assalamualaikum wr.wb
Hasan,ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu. Aku tunggu kau di tepi sungai tempat pertama kali kita bertemu. Sampai bertemu di sana hasan*.
Ah....gini doang. Adeh.....apa yang ingin ia bicarakan ya
pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi pikiranku. Aku pergi ke sungai kecil di selatan kota,tempat aku bertemu dengan nya dulu disana. Dengan semangat akupun memecut kudaku dengan cepat agar bisa sampai ke sana. Akhirnya aku pun sampai.
Ketika tiba disana aku melihat seorang wanita yang sangat cantik. Tampaknya ia tak begitu asing. Aku hanya melihat bagian belakang nya saja karena ia sedang duduk di batu besar menghadap ke sungai. Sadar,ia pun menoleh ke arahku.
"ah....ehm,Hasan" katanya lembut dengan senyuman manis diwajahnya
"Era,ada apa kau memanggilku"
"Aku hanya ingin sering bertemu denganmu. Aku tak punya teman curhat. Ya setidaknya kau mau menemaniku disini." lagi lagi senyuman yang memabukkan itu terlempar lagi kearahku. Aku serasa melayang ke angkasa.
__ADS_1
"Oh...bagaimana kalau kita menangkap ikan. Lalu kita bakar. Kamu belum makan siangkan?" tanyaku
"Oh belum. Ayo hasan kita tangkap ikan. Tangkap ikan yang besar ya...." Ia pun mengedipkan matanya ke arahku. Ya tuhan apa ini. Detak jantungku serasa tidak normal lagi. aku bisa gila lama lama disini tapi aku tak ingin meleeatkan kesempatan emas ini.
"Tentu saja,serahkan pada ku"
Kami pun mulai memancing. dengan peralatan seadanya,aku pun berhasil menangkap 1 ikan yang agak besar.
"Wow...hasan hebat. Bisa menangkap ikan. Aku dari tadi tak mendapat apapun"
"Hehe,itu mungkin karena ikannya tidak ingin mabuk" kataku iseng
"mabuk kenapa?"
"mabuk karena melihat kecantikan kamu"
WHAT? ๐จbaru kenalan udah gombal. Astaga,apa yang sudah kulakukan. Mati aku.๐๐๐
"hihihi bisa aja. Rambut udah dipotong pendek gini masak masih kelihatan cantik. Bisa aja kamu"
"Sudah lupakan,ini bantu aku membakar ikannya"
Syukurlah ia tak marah๐ฅ๐ฅ๐ฅ
Kami pun mulai membakar ikannya. Sambil memberi sedikit bumbu bumbu yang ada di sekitar sungai itu,kami sempat berbincang bincang mengenai keluarga kami.
"Era,Maaf aku menanyakan ini. Kenapa aku hanya melihat ayahmu,ibumu kemana?" tanyaku. Memang agak tidak sopan karena melihat ia hanya tinggal dengan ayahnya,pasti ibunya sudah tiada. Namun aku hanya penasaran dengan orang tua nya.
"fyuh.....dulu aku tinggal di sebuah desa kecil. Perang salib yang terus berkobar selama berabad abad membuat para penduduk di desa merasa ketakutan. Terlebih lagi ancaman pasukan salib. Mereka membumi hanguskan semua yang tampak di depan mereka. Mereka membakar rumah,membunuh penduduk,bahkan memperkosa wanita wanita. Saat itu hanya 3 orang yang selanat,termasuk diriku. Waktu itu aku masih berumur 4 tahun. Orang tuaku meninggal disana. Kami bertiga pun ditangkap dan dijual dipasar budak. Jika saja Urban tidak membeliku,aku pasti sudah tiada."
"Jadi urban bukan ayahmu" tanyaku masih penasaran. Aku agak kaget mendengar ia sebenarnya anak yatim piatu.
"ia sudah menjadi ayahku sejak saat itu. Lalu kamu,bagaimana dengan orangtuamu."
"Ibuku meninggal ketika masih kecil. Dan ketika berumur 16,aku ikut dengan ayah dalam pertempuran menghalau pasukan polandia di perbatasan. Ayahku menjadi syuhada disana." Jawabku.
Memang aku sekarang yatim piatu. Ibuku meninggal ketika aku masih balita dan ayah gugur sewaktu perang di perbatasan. Sejak saat itu aku tinggal dengan guruku,si mata satu. Ia teman baik sultan murad,ayahnya sultan mehmed.
"Baiklah sudah selesai ceritanya. Sekarang ayo kita makan. Aku berani bertaruh kamu tak pernah makan ikan selezat ini"
Era pun mencubit sedikit ikan itu. Ia pun memakan daging ikan yang diambilnya.
"hm...lezat sekali. Aku tak menyangka kamu bisa membuat ikan bakar selezat ini. Apa kau juga seorang koki"
"tidak. Aku hanya menambahkan batang serai dan sedikit kunyit. Ayahku yang mengajarkan ku. Lalu....."
"Lalu apa?"
Aku terdiam. astaga era canti sekali. Dia seperti malaikat yang diturunkan ke bumi untuk menemaniku.
"Era...." akupun memegang tangannya dan membawanya berdiri. Dalam suasana yang sunyi itu,yang hanya terdengar suara desiran air mengalir dan kicauan burung,membuat suasana semakin indah. Angin sepoi sepoi yang bertiup lembut membuat rambut era berterbangan,menambah suasana disana menjadi semakin hidup.
"Hasan....ada apa?"
"Era...ehm....." aku pun mulai mencium bibir era. Tak peduli resikonya,aku sudah tak tahan lagi.
"Hm...ah....Hasan...."
Ternyata era membalas cimuanku. Akhirnya aku berhasil mendapatkan era. Era,aku berjanji aku akan membahagiakanmu. Aku akan selalu melindungimu,selamanya. Meskipun aku harus menanggung dosa sendirian karena perbuatan ini,namun aku rela. Aku tak akan pernah meninggalkanmu era. Aku mencintaimu.
Sementara itu di balik batu besar di sekitar sana...
Ali : ah....hasan. Akhirnya kau mendapatkan era. Era aku berjanji akan melindungi hasan. Tak kan kubiarkan sahabatku meninggalkanmu sendiri dengan anak yang kau kandung nanti. Aku akan mengubah sejarah. Aku akan mengubah kisah pilu dari cinta kalian menjadi kisah romantis yang tak pernah dialami siapapun. Hasan,Kau jangan khawatir,aku akan mrlindungimu. Ini lah janjiku (langsung pergi)"
__ADS_1