
Hidup adalah gabungan detik-detik yang berlalu. Yang pada akhirnya akan mengharapkan pada pilihan menuju muara hidup yang abadi.
Arah manapun yang kita pilih, nantinya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Dzat yang maha Agung.
Namun ketika dihadapkan pada dua pilihan sulit, dimana tiap muara yang menjadi pilihan akan sama-sama memberikan dampak buruk...
Ketika simalakama mulai bergoyang menggoyahkan jiwa...
***
Langit sudah mulai gelap saat Fitri keluar dari gedung tempat ia bekerja saat ini. Ia sengaja menghabiskan waktu Maghrib di mushola kantor terlebih dahulu agar tidak terburu-buru untuk bisa sampai ke rumah.
__ADS_1
Fitri menaiki taksi online yang dipesannya beberapa saat lalu dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke jok belakang. Sang sopir pun langsung bergerak meninggalkan tempat itu. sesekali matanya melirik ke kaca di depannya mengagumi paras indah penumpangnya.
Mata Fitri menerawang. ia masih terbayang pandangan mata Andrew yang tajam penuh syahwat padanya saat ia memberikan presentasi rencana proyek perusahaan. Juga pujian yang ia anggap sangat berlebihan saat acara selesai, ajakan makan malamnya, semua membuat Fitri jengah.
"Huh!" tanpa sadar Fitri mendengus kesal. Pujian demi pujian yang selalu di lontarkan Andrew makin menjerumuskan. Fitri makin sulit mengendalikan luapan rasa senangnya akibat perhatian ekstra dari eksekutif muda itu. Bahkan ia juga makin sulit mengendalikan perubahan gaya hidupnya.
Fitri menghela nafas perlahan. Berusaha meraup rezeki udara yang masih diberikan sang khalik untuknya. Ia tak peduli sama sekali dengan sopir taksi yang dari tadi mencuri-curi pandang.
Setelah memastikan telah mengunci kembali pintu rumahnya, Fitri bergegas menuju kamarnya untuk kemudian menuju kamar mandi membersihkan diri.
Adzan isya berkumandang dari masjid yang letaknya di gang sebelah. Selesai sholat dan ia lanjutkan dengan tilawah beberapa halaman.
__ADS_1
Setelah selesai semua, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang sangat sederhana, hanya cukup untuk satu orang saja. Lagipula tidak ada sahabat yang akan berkunjung ke rumahnya, apalagi sampai menginap. Namun untuk ukuran sekretaris pribadi dengan gaji yg lumayan besar akan sangat aneh jika rekan kantor mengetahui keadaan rumah kontrakan yang ia tempati.
Fitri mendesah lirih. Dirinya kini merasa asing. Ia merasa saat ini bagaikan bunglon yang berusaha menutupi keberadaannya dengan mengganti warna dimana pun ia berada agar tidak diketahui oleh orang-orang yang pernah dekat dan masih menjadi sahabat hingga kini.
Namun siapa yang patut dipersalahkan? Apakah keadaan yang makin menghimpit tanpa adanya kompromi ataukah ini adalah takdir yang harus dijalani?
Tapi bukankah ini semua akibat tindakan gegabah nya di awal. Goyahnya iman yang meragukan kecintaan sang Khalik terhadap hambanya...
Lagipula dahulu ia mencoba berfikir realistis. Berusaha mempertahankan prinsip yang ia pegang kuat dalam binaan iman bersama para sahabat.
Namun yang lebih realistis lagi adalah sang ayah tercinta terkena stroke tiba-tiba dan ditengah kepanikan sang ibu di diagnosa mengalami gagal ginjal serta harus cuci darah dua Minggu sekali. Dan adiknya Rangga terpaksa memendam keinginannya untuk duduk di bangku kuliahnya.
__ADS_1
Saat itu Fitri merasa sangat realistis jika ia harus menurunkan egonya untuk menetralisir keadaan. Tak ada sumber penghasilan jika ia terus menerus menganggur. Semua perusahaan menolaknya. Dan saat itu hanya perusahaan ini yang menerima nya dan bersedia memberikan gaji yang besar dengan syarat yang membuat Fitri ingin memikirkan ulang keputusannya.