BUNGLON

BUNGLON
Adik Kecil


__ADS_3

Fitri terlonjak menoleh ke asal suara. Jantungnya berdetak kencang. Laki-laki yang tidur tadi menatap dengan senyum misteriusnya. Setelah memperhatikan beberapa saat ia tetap tidak bisa mengeluarkan memori tentang siapa pria itu.


“Maaf saya tidak mengenal anda,”


“Tapi saya sangat mengenal anda,” jawab laki-laki itu.


“Oh, maaf kalau begitu. Silahkan lanjutkan istirahat anda, maaf telah mengganggu,”


Laki-laki itu masih menatapnya dengan senyum misteriusnya. “Aku tidak merasa terganggu, justru aku menunggu kapan kau akan mengganti pakaianmu,”


Fitri terkesiap, namun masih berusaha menguasai hatinya. “Itu berarti kau sangat mengenalku,” tukasnya sembari berusaha tenang.


Tampak kekecewaan di wajah laki-laki itu. Tak ada sedikitpun ingatan tentang dirinya dalam hati gadis ini. Padahal dulu segala cara telah ia lakukan untuk menarik perhatiannya. Mengganggunya, menyapanya, mengirim salam. Benarkah tidak berbekas sedikitpun?


“Kak Rosa sudah di khitbah, kau sudah tahu kan?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan namun tetap dengan tujuan bahwa ia adalah laki-laki yang berada dilingkungan kampus nya, mengenal lingkup pergaulannya.

__ADS_1


Fitri sedikit terkejut. “Benarkah? Sepertinya dia lupa memberiku kabar baik ini...”


“Atau mungkin kau sudah lama tidak saling memberi kabar?” Fitri tak menggubris. Ia masih berusaha mengingat wajah laki-laki ini, seperti pernah melihatnya.


“Tunggu, kau orang lapangan yang ada di proyek itu? Teman Teddy?” Fitri terlonjak karena berhasil mengingat siapa laki-laki ini. Namun masih tidak mampu mengingat bagaimana ia bisa mengetahui tentang sahabatnya.


Laki-laki itu menghela nafas berat. “Aku Saddam, kau ingat?” melihat wajah Fitri masih bingung, ia melanjutkan, “Adik tingkat kak Rosa yang sering berkirim salam untukmu,”


Fitri tertegun menatapnya sekilas kemudian tertawa kecil ingin menghilangkan kecanggungan diantaranya. “Aku sedikit mengingatmu, perlahan-lahan mulai ingat. Ternyata kamu adik kecil,”


Raut wajah Saddam membeku. ‘Adik kecil’?? mengapa adik kecil?


“Iya aku tahu...” Fitri menatapnya sekilas, terbersit rasa cemas dalam hatinya. Bagaimana jika adik kecil ini bercerita tentang dirinya saat ini kepada para sahabatnya?


“Aku tidak akan bercerita apapun pada mereka, kau tenang saja,” ucapan adik kecil yang datar menghilangkan sedikit rasa takutnya.

__ADS_1


“Bisakah aku percaya?”


“Terserah, bagiku itu adalah urusanmu dengan mereka dan dengan Tuhan mu.” Saddam memandangnya kecewa, “Yang menjadi urusanku adalah bagaimana caranya agar kau mengingatku bukan sebagai adik kecil...”


“Baiklah, terima kasih,” ucap Fitri lega meski ia masih bingung kemana arah pembicaraan laki-laki yang dianggap adik kecil oleh Rosa sahabatnya.


Fitri mencari posisi nyaman untuk tidur, ia belum tidur sama sekali dari berangkat tadi. Besok pagi jadwal operasi abah, ia harus sehat agar bisa fokus merawat abah selama cuti.


“Tidakkah kak Rosa mengatakan padamu tentang perasaanku?”


Ucapan Saddam yang tiba-tiba membuat mata Fitri membulat sempurna. Ia menatapnya tak percaya. “Kau menyukai Rosa?” tanya nya cepat, dan kembali muncul raut kecewa di wajah Saddam.


“Ia tak pernah menceritakan hal itu padaku. Yang aku tahu ia menganggapmu adik kecilnya,” Fitri kembali menatap Saddam, “Kau pasti sedikit kecewa mendengar kabar tentang Rosa, aku turut prihatin. Mungkinkah Rosa menunggu mu mengkhitbahnya namun tak kunjung kau lakukan?”


“Tetap berfikir positif, yakinlah bahwa ini yang terbaik untuk kalian,” Fitri berceloteh panjang lebar. Matanya berat. Rasa kantuknya kembali menyerang. Namun tidak tega untuk mengacuhkan laki-laki yang sedang bersedih di dekatnya. Lagipula laki-laki ini berjanji tidak akan menceritakan tentang dirinya kepada sahabatnya.

__ADS_1


Terdengar desahan nafas berat di sebelahnya. Fitri diam.


“Kau tidak heran mengapa aku bisa tiba-tiba satu kereta denganmu, satu gerbong denganmu, bahkan tempat duduk pun dekat denganmu.”


__ADS_2