
Fitri kembali menatap dirinya di cermin. Ini pertama kalinya ia akan pergi melihat sekaligus mengawasi lokasi proyek pembangunan mall. Sekilas terlintas dibenaknya bayangan gamis yang melambai tertiup angin yang membawa hawa panas. Fitri menutup matanya. Hatinya tiba-tiba diliputi mendung. Namun tak berlangsung lama karena suara klakson mobil di depan rumah mengagetkannya. Andrew janji menjemputnya karena Fitri belum terlalu hafal dimana letak lokasi proyek. Segera ia keluar dan mengunci pintu rumahnya.
“Cukup lama menunggu?” tanya Andrew saat gadis itu menghenyakkan tubuh disampingnya. Fitri menggedikkan bahunya.
“Kamu cukup tepat waktu,” sahut Fitri tak lupa diiringi senyum yang membuat Andrew merasa hari ini hokinya bagus karena pagi-pagi sekali sudah bisa bertemu dengan gadis pujaannya itu. “Sebaiknya kita langsung berangkat, karena setelah makan siang aku ada janji dengan tuan Johan untuk menyelesaikan laporan minggu ini,”
Andrew menghela nafas berat. Namun tak mengurangi kecerahan yang terpancar di wajahnya. Waktu pembangunan proyek masih cukup lama. Tentu saja cukup banyak waktu baginya dan Adel untuk dapat menikmati kebersamaan berdua.
Andrew melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. “Kamu bersemangat sekali, jangan-jangan mengincar mandor lapangan,” gida Andrew sembari melirik gadis di sampingnya. Namun Fitri tak menggubris ucapannya. Gadis itu masih sibuk dengan layar handphone nya hingga tak terasa mereka sampai di lokasi tanpa percakapan.
“Kita sudah sampai sayang,” Andrew melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.
__ADS_1
Fitri terkejut karena merasa cepat sekali mereka sudah sampai, namun lebih terkejut lagi karena laki-laki itu masih memanggilnya sayang.
“Aku kan sudah bilang aku tidak suka kau memanggilku begitu.” Raut wajahnya terlihat sedikit kesal. Bukan satu kali ini saja ia menegur Andrew, namun sudah berkali-kali. Tetap saja Andrew tak menghiraukan tegurannya itu. Yang ada malah ia semakin sering memanggil Fitri dengan panggilan ‘sayang’ terutama di tempat umum. Dan saat ini pun keadaannya sama saja. Andrew tak menghiraukan tegurannya. Malah ia mensejajarkan langkah agar berjalan berdampingan dengan Fitri memasuki ruangan Direksi skeet.
Andrew tampak langsung akrab dengan para konsultan dan pihak kontraktor. Ia berbicara sembari bergurau ringan. Tiba-tiba Andrew mendekati Fitri yang dari tadi mempehatikannya dari depan pintu. “Kau aman disini, ada aku. Tak perlu takut,” ujarnya disambut tawa rekan-rekan yang lain. Fitri pun langsung kikuk. Ini diluar bayangannya.
“Perkenalkan, ini Adhelia Fitriani. Sekretaris pribadi tuan Johan.” Andrew langsung mengenalkan Fitri yang tampak tersenyum malu.
“Panggilan dia bu Adhel,” lanjut Andrew, “Calon istriku...” ucapan Andrew langsung disambut gembira oleh yang lain.
Fitri tidak menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang menatapnya lekat di belakang kerumunan.
__ADS_1
*****
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.45 wib saat mereka meninjau langsung para pekerja yang mulai aktif bergerak dengan kemampuan bidang masing\-masing. Hampir 85% para pekerja adalah orang\-orang yang terlatih dan bersertifikat yang dikirim dari luar pulau. Berharap agar proyek ini dapat cepat selesai dan mendapat hasil yang memuaskan.
Fitri sibuk dengan kameranya. “Kau tidak dengan diam\-diam mengambil foto ku kan?” goda Andrew yang sedang berjalan mendekat ke arah gadis itu, “Kalau kau ingin foto ku, kita bisa meminta tuan Teddy mengambilnya untuk foto kita,” lanjut Andrew.
Fitri langsung tertawa sinis, “semakin hari otakmu semakin kacau,” jawabnya ketus.
“Kaulah penyebab kekacauan otakku,”
Tiba-tiba senyum di wajah Andrew menghilang. Ia berjalan ke arah kiri Fitri. Wajahnya berubah serius.
__ADS_1
Fitri dengan bingung melihatnya berubah tiba-tiba langsung mengikutinya dari belakang.
“Bisa kupastikan hampir 90% hasil bidikan fotomu sangat bagus,” sindiran itu dilontarkan Andrew pada seorang laki-laki berperawakan cukup tinggi, namun Andrew tetap terlihat lebih tinggi darinya.