BUNGLON

BUNGLON
kenangan


__ADS_3

Laki-laki itu tersenyum dan langsung memperkenalkan diri.


“Saya Saddam, rekan satu profesi dengan Teddy,” ucapnya ramah, Andrew mendengus kesal karena perkenalan mendadak dari laki-laki itu.


“Sepertinya profesimu seorang fotografer lapangan,” sahutnya ketus. Saddam tertawa tak menanggapi sikap tidak ramah pihak rekanannya itu.


“Bisakah kamu mengantarku ke kantor sekarang?” tanya Fitri yang sudah berada di belakang Andrew. Mendengar suara gadis pujaannya tepat di belakangnya, Andrew langsung melirik Saddam ingin memastikan insting lelaki nya. Dan benar. Tatapan Saddam sangat lekat pada Adel. Wajahnya terlihat sendu. Apakah dia mengenal gadis pujaannya ini?


“Ehm...” Andrew sengaja memberikan kode suara agar Saddam sadar. Namun laki-laki itu menatapnya tetap dengan senyum sok ramahnya, dan kembali berpaling menatap Fitri yang sama sekali tidak menggubrisnya.


“Bu Adel kan? Salam kenal, saya...” belum selesai Saddam menyapa, Andrew memberikan kode kepada Fitri dan berjalan meninggalkan Saddam yang terbengong sendirian. Ada binar bahagia sekaligus sedih dimatanya.


Di dalam mobil, Fitri kembali sibuk dengan gadget nya. Andrew sesekali meliriknya. Ingin melihat tanda-tanda apakah gadisnya ini mengenal laki-laki menyebalkan itu.


Namun Andrew tidak menemukan keanehan sama sekali. Akhirnya Andrew memberanikan diri bertanya langsung daripada hatinya diliputi dengan rasa penasaran. “Apakah sebelumnya kau mengenal laki-laki tadi?”


Fitri menatap Andrew dengan tatapan tidak mengerti. “Mengenal siapa?”


“Laki-laki fotografer tadi,” sahutnya ketus.


“Memangnya dia siapa?” Fitri balik bertanya dengan bingung. Sungguh ia sama sekali tidak memperhatikan laki-laki itu.

__ADS_1


“Dia rekan kerja Teddy,” jawab Andrew berusaha menyembunyikan rasa kesalnya. Padahal meski ia tampakkan pun sedikit percuma, karena Fitri sepertinya tidak memperhatikannya sama sekali.


“Owh, aku tidak memperhatikannya tadi, maaf,”


“Mengapa meminta maaf, tidak ada yang salah dan dipersalahkan dalam hal ini.”


“Hahah, tapi raut wajahmu tampak kecewa karena aku tidak mengenal laki-laki itu,”


Andrew menatapnya gemas. “Kita mampir makan dulu perutku sudah sangat lapar, aku tidak sempat sarapan tadi karena terlalu bahagia akan menjemputmu segera,”


Fitri tak membantah pun tidak pula memberi perhatian lebih. Hanya menurut dengan keinginan supir.


Saddam hanya menoleh sesaat kepada Teddy dan mulai kembali sibuk dengan layar laptopnya. “Ted, apa kau tidak merasa bahwa gadis yang dibawa tuan Andrew tadi sangat familiar sekali,” yang ditanya malah menjawab tidak serius sama sekali.


“Tentu saja sangat familiar, dia kan calon istrinya,” sahut Teddy cuek, “Dan yang utama dia sangat cantik,”


“Aku tahu itu,” Saddam melirik kesal. “Namun aku merasa seperti telah mengenalnya sangat lama,”


Tiba-tiba Teddy terbahak. “Modusmu sangat basi sobat. Apa tidak ada ide yang lain agar bisa dijadikan alasan untuk kau mendekatinya,”


Saddam tak memperdulikan ejekan temannya itu. “Sudah sana pergi tidur, aku sibuk!” hardiknya.

__ADS_1


Teddy beranjak pergi ke kamar. Suara tawanya masih mengiringi langkahnya hingga pintu kamar ditutup dan Saddam tak mendengar suaranya lagi.


Saddam kembali terpaku melihat-lihat beberapa foto yang diambilnya siang tadi. Dirinya juga heran mengapa begitu penasaran dengan sosok gadis itu.


Ia memicingkan matanya. Berharap menemukan petunjuk.


10 menit...


30 menit...


60 menit...


Zonk!!!


Namun jari telunjuknya ingin menyentuk tanda shut down, hatinya terhenyak.


Dengan sigat ia meraih handphone nya dan mencari file foto lamanya yang masih ia simpan dalam memory handphone nya itu.


Ia memandang sebuah foto wisuda seorang gadis cantik dengan kerudung panjangnya. Gadis itu tersenyum sambil memeluk sebucket bunga krisan putih dan ungu. Dan dalam jarak satu meter di belakang, nampak wajahnya muncul tepat saat fotografer keliling yang selalu hadir saat acara wisuda menjepret tombol. Ia mengingat sekali kejadian itu. Saat sang fotografer keliling itu menjual hasil foto yang mereka ambil baik diam-diam ataupun atas keinginan yang ingin difoto, Saddam dengan cepat membeli foto itu dan menyimpannya sebagai barang paling berharga.


Selang beberapa detik wajah Saddam pias.

__ADS_1


__ADS_2