BUNGLON

BUNGLON
Pasrah


__ADS_3

 


"Pagi sayang..."


Fitri menoleh ke asal suara, keningnya sedikit berkerut melihat Andrew datang ke ruangannya sepagi ini.


"Ada perlu?" tanya Fitri cuek. Ia tak suka dengan panggilan Andrew untuknya.


"Nggak, hanya kangen ingin melihat wajahmu saja," jawab Andrew santai dengan tatapan yang tak lepas dari wajah gadis yang saat ini berdiri dihadapannya. Jantung Fitri berdebar-debar dibuatnya. Namun Fitri berusaha menutupi rasa senangnya, ia mengerucutkan bibirnya membuat Andrew semakin gemas.


"Kembalilah ke ruangan mu, aku tidak ingin Tuan Johan berfikir yang tidak-tidak tentang kita," tegas Fitri, disambut tawa kecil oleh Andrew.


"Berfikir yang tidak-tidak atau yang benar\-benar itu hak mereka, lagipula mereka sudah tahu hubungan kita di kantor ini,"


Fitri mengernyitkan keningnya, "Hubungan kita tidak lebih dari teman Andrew, tidak ada kesepakatan diantara kita,"


"Kalau begitu aku ingin ada kesepakatan diantara kita," Andrew tersenyum melihat wajah Fitri yang semakin merona. "Hari ini pun aku siap untuk menemui orang tua mu,"


Fitri mematung di tempatnya. Ia sedang tidak ingin membahas hal itu.

__ADS_1


"Kutemui kau saat makan siang nanti, kita makan di luar," Andrew meninggalkan ruangan Fitri sembari menyapa Tuan Johan assisten manager divisi yang di bidangi Fitri.


Fitri segera menguasai dirinya dan cepat\-cepat menyusul Tuan Johan ke ruangannya ketika atasannya itu memberi isyarat agar mengikutinya ke ruangan.


"Ini bahan rapat yang kemarin Bapak minta,"


 


Fitri menyerahkan se bundel map ke atas meja bosnya itu.


"Proyek lapangan kita sudah akan mulai, kamu yakin mau ikut terjun memantau ke lokasi?"


Tuan Johan ikut tertawa. Ia merasa lucu, "Wanita zaman sekarang kalau sudah bekerja di ruangan, sebisa mungkin jangan sampai berada di luaran, mereka takut dengan sinar matahari, kamu malah berusaha mencari celah agar bisa di tempatkan di lapangan," ujar Tuan Johan.


"Mereka wanita zaman sekarang pak, kalau saya mungkin termasuk wanita zaman dulu," ujar Fitri, disambut gelak tawa atasannya itu.


"Ya sudah, silahkan kamu atur semua. Proyek mulai berjalan bulan depan, pihak rekanan kita sudah mulai mempersiapkan semuanya. Namun ingat, saya tidak ingin urusan kantor terbengkalai," Tuan Johan menatap Fitri, "Saya tetap mempercayakan padamu untuk semua urusan saya."


Fitri mengangguk tegas, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Atasannya tipikal bos yang sulit mempercayai orang lain. Jadi tidak heran jika beliau tidak mencari cadangan untuk menggantikan sekretarisnya itu. Bahkan ini proyek hotel ke sekian baru beliau memberi izin kepada Fitri untuk ikut terjun ke lapangan langsung mengawasi proyeknya.


Itupun bukan tiap hari, namun hanya diberi jadwal 1 kali dalam seminggu.


*****


 


Andrew berdiri tegak di hadapan Fitri yang masih sibuk dengan layar laptopnya.


"Masih lama nona?" tegurnya. Fitri bersikap seolah\-olah tidak mendengar apapun.


"Okey, aku akan menunggumu dengan senang hati," Andrew terpaksa menduduki kursi di hadapan gadis pujaan hatinya itu.


Semakin lama Fitri menjadi risih karena tatapan Andrew tak sedikitpun terlepas dari dirinya. dengan sedikit terpaksa Fitri menekan tombol 'sleep' pada layar laptopnya.


"Kita berangkat sekarang," tutur Andrew dengan wajah penuh kemenangan mensejajarkan diri dengan gadis dihadapannya. Fitri melangkah dengan tawa pasrah nya.


 

__ADS_1


__ADS_2