BUNGLON

BUNGLON
Menu Utama


__ADS_3

 


Fitri meninggalkan Andrew menuju musholla yang berada di samping restoran setelah sebelumnya memesan menu. Waktu Dzuhur baru tiba, ia khawatir akan lalai karena berada di luar kantor.


"Hai mbak Adel, sendirian?" sapa seseorang. Fitri menoleh, Wika staf dari divisi Andrew menebarkan senyumnya. Fitri tersenyum tak menjawab.


"Wika dengan siapa?"


"Tuh rame mbak," jawab Wika, bibirnya sedikit mengerucut menunjuk teman-temannya yang tengah mengelilingi meja makan.


"Mbak Adel sendirian?" Wika mengulang pertanyaannya, kepalanya celingak-celinguk mencari sosok yang mungkin dia kenal menemani senior cantik di depannya.


Fitri hanya tersenyum, "Yuk ah, mau sholat kan?" Fitri berlalu meninggalkan Wika yang masih sibuk dengan rasa penasarannya meski sejurus kemudian ia mempercepat langkah mengiringi langkah Fitri.


Wika masih ingin bertanya, namun matanya menangkap raut wajah Fitri yang menyiratkan wajah tak ingin ada pertanyaan, ia mengurungkan niatnya.


Usai sholat Wika meninggalkan Fitri yang masih sibuk dengan doa-doa nya. Ia khawatir teman-temannya menunggu terlalu lama. meski alasan sebenarnya ia penasaran dengan siapa Fitri kemari.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" tanya Hani sewot, "Sup nya nyaris kedinginan menunggumu," celetuknya lagi.


"Sssst..." Wika memberi kode pada teman-temannya untuk diam sembari memperhatikan Fitri yang baru memasuki ruang makan VIP. "Aku tadi bertemu mbak Adel di musholla, tapi dia hanya tertawa saat aku tanya pergi dengan siapa," penjelasan Wika menambah rasa penasaran di wajah teman-temannya.


Wika adalah pentolan penggosip di perusahaan tempat mereka bekerja. Sedangkan ketiga temannya Hani, Geni dan Sita adalah pendengar setia.


"Sudahlah, dia masuk ruangan itu, rasa penasaran kita belum bisa terjawab. kemungkinan juga dia kemari dengan pak Andrew, bukankah mereka sudah lama dekat," ujar Geni malas meladeni rasa kepo temannya.


Wika menatap Geni sewot. "Nggak seru ah Geni," namun Geni cuek dan mulai menyantap makan siangnya diikuti teman yang lain.


 


 


"Menu utama sudah sampai, ayo makan," ujar Andrew dengan wajah bahagia saat Fitri datang.


"Kamu nggak bosan membual padaku," tanya Fitri serius, dan Andrew menggelengkan kepalanya, "kalau begitu aku yang bosan," lanjut Fitri disambut tawa renyah Andrew.

__ADS_1


"Aku akan terus membual padamu sampai aku bisa menikahi mu dan sampai maut memisahkan kita,"


"Kau mulai lagi," sahut Fitri sembariaka menyantap hidangan makan siangnya.


"Harus berapa ratus kali lagi aku harus bilang kalau aku serius denganmu." Andrew menatap wajah Fitri serius, "Aku tidak pernah menyentuhmu sama sekali, itu menunjukkan keseriusan ku, bukan sekedar ambisi atau nafsu belaka,"


Fitri diam. Tak berani membalas tatapan laki-laki dihadapannya. Untuk yang kesekian kali Andrew menyatakan keseriusannya, namun Fitri tidak menolak ataupun menerima, membuat Andrew merasa bahwa Fitri menerima, hanya saja belum siap untuk saat ini.


"Kapanpun kau memintaku untuk menemui orang tuamu, aku siap,"


"Makanlah dulu, perutmu tak akan kenyang kalau hanya menatap hidangan saja," tukas Fitri sembari mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Andrew. Laki-laki itupun tersenyum. Matanya memancarkan kebahagiaan. Ia makan dengan lahap sembari membayangkan tiap hari ia akan dilayani oleh wanita idamannya tersebut.


Semenjak mengenal Fitri, ia tak pernah bermain-main lagi dengan gadis manapun. Predikat playboy nya hampir terkikis habis. Awalnya sikap jual mahal Fitri yang membuatnya terobsesi untuk bisa mendapat hati gadis itu.


 


Namun setelah setahun berlalu, obsesi itu berubah menjadi perasaan yg tulus ingin melindungi dan membahagiakan gadis pujaannya itu hingga kini. Meski Fitri tak pernah memberikan kepastian akan hubungan mereka sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2