
Fitri tiba-tiba seperti baru disadarkan pada keadaan yang serba tiba-tiba ini.
“Raihan yang memilihkan kursi ini untukku,”
Fitri terperangah, “Kau kenal adikku?”
“Tentu saja. Jadwal operasi abah pun aku tahu,”
“Mengapa kau tahu? Kau memata-matai keluargaku?”
Saddam tak menjawab. Hanya menatap Fitri sekilas. Dengan menampakkan senyum misterius ia mengambil posisi untuk kembali tidur.
“Hei, aku bertanya padamu,” Saddam tak bergeming.
Fitri mendengus kesal. Pikirannya terbang kemana-mana, membuatnya tak bisa memejamkan mata hingga kereta memasuki stasiun akhir yang menjadi tujuannya.
04.35 WIB...
Fitri menghubungi Raihan adiknya, memastikan ia sudah berada di stasiun menjemputnya. Berkali-kali fitri menghubungi nomor adiknya, namun nihil. Adiknya tidak bisa dihubungi.
Kereta sudah benar-benar berhenti. Fitri segera turun meninggalkan Saddam yang masih tertidur dan bergabung dengan lautan manusia yang baru turun dari kereta.
Hari masih sangat gelap. Angin malam membuat Fitri sedikit menggigil. Ia lupa membawa jaketnya. Kerumunan orang semakin berkurang, ada yang dijemput, ada pula yang naik taksi khusus stasiun. Fitri mendengus kesal. Tidak pernah Raihan ingkar untuk menjemputnya. Namun kali ini bukan hanya tidak menjemput, ponselnya pun tidak bisa dihubungi.
Apa terjadi sesuatu pada abah? Ah, Fitri membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Jika terjadi sesuatu, Raihan tidak akan lupa untuk mengabarinya.
“Aku antar kamu ke rumah sakit,” Saddam tiba-tiba muncul membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Fitri menggeleng. “Terima kasih, aku bisa naik taksi,”
“Lalu mengapa kau tidak naik taksi dari tadi, malah sengaja menungguku,”
Mata Fitri melotot. “Jangan suka berimajinasi terlalu tinggi,” ia menghentak melebarkan langkahnya menuju gerbang keluar penumpang. Banyak sopir taksi khusus stasiun yang menawarkan taksinya. Seorang bapak separuh baya maju menawarkan bantuan membawa kopernya.
“Sini saya bantu bawa mbak...” Fitri menyerahkan kopernya dan mengiringi bapak tersebut menuju mobilnya.
Tanpa menunggu sopir membuka pintu, Fitri langsung berinisiatif duduk di kursi belakang sopir. Ia menyebutkan alamat tujuan saat sopir telah duduk di posisi kemudi.
“Sudah bisa jalan pak?” tanya Fitri.
“Iya mbak...”
Pintu samping sopir terbuka, Saddam duduk dengan santainya, “Ayo berangkat,”
“Pak, saya bayar dua kali lipat. Tapi tolong jangan menerima penumpang lain. Atau saya yang akan turun!”
Mobil mulai bergerak meninggalkan parkiran. Sopir hanya diam, tak bersuara sedikitpun.
“Maaf pak, saya turun disini saja. Tolong hentikan mobilnya,” Fitri kesal karena si sopir tidak meminta persetujuannya untuk mengambil penumpang lain. Dan lagi penumpang itu Saddam.
“Bapak dengar saya?!”
“Kamu cerewet sekali...” gumam Saddam. “Aku tadi menawarkan untuk mengantarmu pulang, kamu menolak. Dan tiba-tiba kamu naik mobilku, kemudian berteriak pada sopirku dengan tidak sopan. Kamu benar-benar bukan Fitri yang aku kenal.”
“.......”
__ADS_1
Saddam melirik sekilas, “Kita antar mbak ini dulu pak Udin,” sopir menuruti perintah anak majikannya.
“Maaf pak, saya tadi salah kira. Bisa tolong hentikan mobilnya? Biar saya cari taksi saja,”
Sopir, “.....”
“Disini sepi dan cukup rawan, bahaya untuk perempuan. Tapi kalau kamu memaksa, kamu boleh turun sekarang.” Saddam meminta Pak Udin menghentikan mobilnya.
Fitri terdiam. Memandang keluar, sepi.... Hanya sesekali mobil melintas. Tiba-tiba ia merasakan dingin di bagian tengkuknya.
Melihat Fitri tak bergeming, Saddam meminta pak Udin melanjutkan perjalanan.
Fitri, “......”
Fitri turun dari mobilnya tanpa berbicara sedikitpun. Tak seberapa lama, Raihan muncul membuka pintu. Ia sudah tersenyum dari kejauhan. Fitri tak membalas senyumnya. Telah lama sekali semenjak ia kuliah tak pernah sekesal ini dengan adik satu-satunya itu.
Pak Udin menurunkan koper dari bagasi mobil. Fitri menyambutnya sembari mengucapkan permintaan maaf dan terima kasihnya.
“Mampir dulu bang,”
Bang??!!! Fitri menoleh ke arah Raihan menghampiri Saddam.
Belum sempat Saddam baru mau menolak tawaran Raihan, Fitri berkata dengan keras, “Tidak sopan tamu berkunjung di pagi buta begini, ayam pun belum ada yang bangun,”
Saddam, “.....”
Raihan, “.....”
__ADS_1
Fitri bergegas masuk meninggalkan adiknya tersebut tanpa memperdulikan raut wajah Saddam.