
Selesai sholat subuh dan bertilawah, Fitri segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit tempat abahnya di rawat. Ia ingin segera bertemu umi dan abah, ia sangat merindukan mereka berdua setelah beberapa bulan tidak bertemu.
“Kita pergi bareng kak,” Raihan sudah muncul di belakangnya. Fitri tak menjawab namun segera mengiringi Raihan menuju motornya.
Matahari baru muncul ketika Fitri dan adiknya memasuki parkiran rumah sakit. Ia mengiringi langkah adiknya menuju kamar tempat abah dirawat.
“Assalamu’alaikum...” Fitri masuk langsung memeluk umi nya yang kaget karena kedatangan putri nya itu. “Abah...” Fathan pun tersenyum lemah.
“Dari tadi malam abah harus puasa, jadwal operasi sebentar lagi,” Nisa umi Fitri menjelaskan. Fitri mengangguk pelan. Ia menggenggam telapak tangan abah.
“Maafkan Fitri Bah...”
Fathan menggeleng pelan, ada senyum bahagia tersirat di wajahnya.
“Kami yang berterima kasih padamu sayang...” tukas Nisa. Tampak bendungan air di matanya nyaris tumpah. “Semua hasil kerja kerasmu habis untuk kami, bahkan kamu sama sekali tidak bisa dan tidak sempat menikmatinya,”
__ADS_1
“Umi bicara apa??” Fitri tertawa lirih. “Itu kan sudah jadi kewajiban seorang anak berbakti. Lagipula sekeras dan sekuat apapun anak berusaha untuk membalas budi orang tua, tetap tidak akan terbalaskan. Terima kasih sudah menyayangi dan selalu mendoakanku,”
Bendungan di mata umi pun tumpah. Ia terisak lirih. “Umi berdoa semoga kamu mendapatkan suami yang benar-benar sayang padamu,”
“Dan juga sayang pada keluarga kita,” tukas Fitri.
“Aamiin...”
Raihan dengan bersemangat, “Aamiin...”
Tak lama para perawat muncul dan segera membawa Fathan ke ruang operasi. Di luar ruangan Umi Nisa terus berdzikir memohon kelancaran operasi suaminya, begitu juga Fitri dan Raihan yang tak henti berdoa dan berdzikir.
Setelah dua jam berlalu, dokter keluar dan mengabarkan kalau operasi berjalan lancar. Umi Nisa dan anak-anaknya sontak berucap syukur diringi senyum haru ketiganya.
Umi Nisa tengah menemani suaminya yang baru sadar dari efek biusnya pasca operasi, saat ada yang mengetuk pintu kamar pasien, ia langsung mengizinkan masuk. Ia berfikir Fitri telah kembali setelah tadi pamit pulang ke rumah membawa pakaian kotor abah dan umi nya.
__ADS_1
“Abah apa kabar?” suara jernih laki-laki di ruangan itu membuat umi Nisa tersentak, karena bukan putrinya yang datang.
“Oh nak Saddam, dengan siapa kesini? Alhamdulillah abah sudah sadar,” jawab umi Nisa diiringi senyum abah Fathan.
“Tadi Raihan memberitahu kamar rawat abah,” jelas Saddam. Mereka pun berbicang santai sembari menunggu Raihan datang.
Fitri mengernyitkan keningnya menatap sepatu yang berada di depan pintu kamar rawat abah. Siapa tamu abah? Yang Fitri tahu, setelah abah gulung tikar, tidak ada satupun kerabat maupun sahabat abah yang peduli, bahkan semuanya meninggalkannya.
Fitri terbengong beberapa saat ketika pandangannya beradu pada Saddam yang sedang asyik mengobrol dengan abah uminya. Mereka kenal Saddam???
“Nah ini anak gadis umi sudah datang. Saddam belum kenal kan?” umi Nisa memberi isyarat pada Fitri agar menyapa tamu abahnya.
“Oh, sudah kenal mi, dia adik tingkat Fitri di kampus dulu. Justru Fitri yang bingung mi, mengapa dia bisa ada disini?” jawab Fitri cepat tanpa basa basi.
“Dia teman dekat adikmu, dan kebetulan sekali ayahnya adalah dokter spesialis yang menangani abah,”
__ADS_1
“Ooo...,” Fitri terbengong. Ia tak menyangka Saddam telah begitu dekat dengan kedua orang tuanya.