
Saddam menyandingkan foto lama dengan foto yang terpampang di layar laptopnya.
“Mungkinkah?” gumamnya lirih, yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri.
Lama ia terpaku menatap kedua foto itu bergantian.
“Adhelia Fitriani...” desiran halus melanda hatinya. Matanya berkaca-kaca menyabut nama itu. Ketika ia pasrah dengan pencarian dan penantian akan gadis impiannya, tiba-tiba kejutan datang dengan cara yang sama sekali tak pernah terbayangkan. Dan gadis itu sudah memikat laki-laki yang seolah tak pernah lepas darinya. Desiran halus kembali hadir mengiringi embun yang tiba-tiba datang menyelimuti kelopak matanya.
Dengan sekali hentakan keras Saddam membuka pintu kamar. Teddy yang baru terpejam tersentak. Dengan tatapan tajam penuh tanya kepada Saddam. Namun Saddam tak memperdulikan tatapannya, menghampirinya dan menarik paksa laki-laki yang kantuknya hilang mendadak.
“Astaghfirullah...” teriak Teddy bingung. “Kau mau apa?”
Saddam memaksanya duduk menghadap layar laptopnya. “Belum mengantuk kan?”
Teddy menatap Saddam kesal. “Sebenarnya ada apa? Aku bukannya belum mengantuk hei, mataku baru saja terpejam sempurna saat kau tiba-tiba berniat merusak pintu kamar.” Hardiknya.
Saddam tertawa namun masih dengan raut wajah tak peduli. “Coba kau perhatikan kedua foto ini.” Saddam menunjuk layar laptop dan foto yang terletak di atas meja.
Meski masih kesal, Teddy menuruti apa perintah teman baiknya itu. Ia memandang foto-foto yang ditunjuk Saddam. “Sama-sama cantik tetapi beda versi, jadi kau mau yang mana? Kupikir kau masih setia dengan gadis pujaanmu ini, tetapi kau juga mulai menyukai gadis dengan versi berbeda” ujar Teddy diiringi gelak tawanya.
“Menurutku dia gadis yang sama,”
__ADS_1
Teddy bengong. “Berhayal,”
“Silahkan kau lihat dengan baik, mana mungkin penglihatanku salah,” dalam pikirannya segera berkeliaran segala pemikiran dan kemungkinan yang terjadi yang menyebabkan sang gadis berubah.
Teddy memperhatikan beberapa saat dalam diam. Sesaat kemudian pandangannya beralih ke wajah sahabatnya itu. Tampak mendung yang menyelimuti hatinya mencuat keluar. Wajahnya tampak sangat murung.
Tinjuan kecil ia layangkan ke lengan Saddam. “Ayolah, jangan suka main hakim sendiri.” Ia tersenyum santai. “Semua manusia berubah, entah itu kearah yang baik atau buruk. Jangan kau langsung menghakiminya tanpa tahu alasan dia yang sebenarnya.”
Saddam menghela nafas pelan, “Akan kupastikan lagi besok, aku ingin lihat bagaimana reaksinya...” Ardi hanya bisa diam sembari beranjak kembali ke kamar.
Fitri menaiki taksi online yang dipesannya. Awalnya Andrew ingin menjemputnya, namun Fitri mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ikut ke lokasi karena harus mempersiapkan bahan rapat tuan Johan untuk nanti siang.
Fitri menatapnya dengan bingung. “Kau disini?”
“Iya,”
“Kupikir kau mau mengecek lokasi,”
“Kupikir pihak rekanan kita tidak akan nyaman bekerja jika kita terus mengawasinya. Mereka akan berfikir bahwa kita kurang memberikan kepercayaan kepada mereka,”
Fitri mengangguk setuju. “Benar begitu,” sahutnya sembari terburu-buru menuju lift. Dan Andrew masih dengan setia mengiringi langkahnya.
__ADS_1
“Lagipula kalau kau tak ikut, tak ada yang membuatku semangat,” ucap Andrew sunguh-sungguh.
Fitri hanya tersenyum sedikit menanggapi ucapan Andrew yang terang-terangan terhadapnya.
Di sisi lain...
“Hei teman, sudah berapa jam kau berdiri disini, abang satpam ingin menegurmu yang mengambil alihtempat duduknya namun tak berani. Kau lihat saja wajah lelahnya,” goda Teddy menghampiri Saddam yang menunjukkan raut wajah kecewa.
Satpam yang disinggung namanya oleh Teddy hanya tersenyum. “Menunggu siapa pak?” tanyanya penasaran.
Saddam meliriknya sekilas dengan wajah masamnya, membuat abang satpam terdiam mendadak.
“Sudahlah, mungkin mereka tidak datang berkunjung hari ini,”
“Kalau begitu kita yang berkunjung ke kantornya,” sahut Saddam.
“Hei teman, urusan kita dengan bos besar. Kita hanya bertugas di lapangan. Untuk urusan kantor urusan Tuan Hasan.” Ujar Teddy mengingatkan.
Saddam melirik sahabtnya itu. “Kau kan sangat cerdik, apakah tidak mampu membuat alasan logis agar kita bisa berkunjung ke tempatnya.
Teddy hanya menggelengkan kepalanya. Ia sangat hafal watak sahabatnya itu. Jika sudah menyangkut gadis itu, logika akal sehatnya tak bisa digunakan lagi. Bahkan sudah jelas gadis itu dua tahun lebih tua darinya, namun baginya gadis itu masih sangat muda. Itulah cinta...
__ADS_1