
“Han...?” Fitri menunggu jawaban dari seberang teleponnya. “Bisa mbak bicara dengan umi?”
“Umi tidur mbak.” Sahut Raihan yang akhirnya mengeluarkan suara.
“Lalu mengapa kau menelpon malam-malam begini? Kangen sama mbak?” Fitri menggoda adik satu-satunya itu. Disambut tawa lirih Raihan.
“Kapan mbak bisa pulang?”
“Belum tahu dek, mbak masih mengejar lembur,”
“Abah mesti di operasi kak, ada sedikit penyumbatan di pembuluh darah pada otak. Tidak cukup hanya meminum obat seperti biasa, harus segara dilakukan operasi untuk menghindari stroke yang bisa tiba-tiba.” Hening...
Raihan tak mendengar suara dari seberang telepon. “Kakak, masih disana?”
“Iya...” sahut Fitri lirih. Ia bingung ingin menjawab apa. Uang gaji dan lemburnya selama ini selalu ia kirimkan untuk biaya cuci darah umi nya setiap dua minggu sekali juga untuk kebutuhan kedua orangtuanya. Hanya ada sedikit tabungan yang ia kumpulkan tiap bulannya.
“Kapan dokter mengatur jadwalnya?”
“Raihan belum berani meng’iya’kan kak, Raihan harus meminta izin dengan kakak dulu,”
__ADS_1
“Lakukan yang terbaik buat abah Han, kabari kakak jika jadwal operasi sudah. Kakak insyaAllah pulang,”
“Baik kak...”
“Kuliahmu lancar dik?”
“Alhamdulillah lancar kak, doakan semoga cepat selesai,”
“Iya...” hening... Kepala Fitri dipenuhi dengan semua fikiran yang tidak menentu.
***
Pertemuan pertama setelah sekian tahun. Yang mengakhiri pencariannya ke beberapa tempat. Ketika ia berpasrah dan berusaha melepaskan ambisinya untuk mendapatkan gadis pujaannya, gadis itu kini muncul. Kembali mengacaukan hatinya. Merusak akal sehatnya...
Terdengar suara pintu kamar terbuka. Saddam masih diam dan berkata tanpa menoleh. “Tak bisakah kau menemukan cara untuk mendapatkan nomor handphone nya?”
Teddy yang baru merebahkan tubuhnya hanya tersenyum. “Setelah aku mendapatkan nomornya, kau mau apa?” Saddam mendesis pelan.
“Apa kau mau menelponnya dan mengatakan bahwa ini aku, Saddam. Adik tingkatmu dulu namun berbeda jurusan? Apakah kau mengingatku? Begitu? Kau mau melakukan itu?” tanya Teddy sekaligus memberikan sindiran tegas agar sahabatnya itu bisa berfikir lebih realistis.
__ADS_1
Saddam hanya diam, kemudian Teddy melanjutkan ocehannya. “Masalah dia berubah, kau mau membahasnya? Mau menghakiminya? Dan kau akan langsung dibenci olehnya.”
“Saat ini dia sedang dekat dengan Andrew, laki-laki itu terlihat sangat menjaganya dan kau pun merasakan kalau Andrew selalu menunjukkan rasa tidak sukanya terhadapmu. Entah apa yang kau lakukan sehingga membuatnya seperti itu.”
“mungkin karena alasan itulah Fitri tidak pernah meninjau lokasi lagi, mungkin Andrew mengkondisikan agar ia tidak bisa datang atau malah dia sendiri yang tidak ingin datang karena curiga kau mengenalnya.”
Saddam beranjak dari tempatnya, melirik sekilas ke arah Teddy dan menuju pintu keluar. “Terimakasih atas ceramah singkatnya,”
Teddy hanya bisa menatap punggung sahabatnya itu. Mau bagaimana lagi. Andrew langsung menelponnya dan mengatakan tidak suka Saddam satu tim dengannya.
Jadi apa maunya para laki-laki aneh ini? Teddy mendengus kesal.
Sebenarnya ia juga tidak merasa aneh dengan kelakuan Saddam. Ia berteman dengannya sejak kecil. Rumah orang tua mereka satu komplek. Orang tuanya hanya pegawai biasa, sedangkan Saddam, keluarganya adalah keluarga yang terpandang. Ayahnya seorang dokter ahli Nefrologi Ginjal-Hipertensi, sedangkan ibunya seorang bidan senior lulusan luar negeri. Kakak dan adiknya pun mengikuti jejak kedua orang tuanya, bergelut dibidanng kesehatan.
Dan Saddam, melalui perjuangan panjang akhirnya mendapatkan persetujuan kedua orang tuanya untuk menjajaki ilmu Arsitektur. Dan ketika satu semester dimulai, Saddam dengan ceria berkata, “Akhirnya aku tahu mengapa tekadku untuk mengambil kuliah arsitektur ini.” Celotehnya saat ia berkunjung ke rumah Teddy.
“Apa?” tanya Teddy bingung.
“Untuk bertemu calon istriku tentunya.” Saddam tertawa kencang. Dari situlah logika akal sehat Saddam agak terguncang...
__ADS_1