
Andrew duduk menatap Fitri dari seberang meja sekretaris yang cantik itu. “Mengapa tiba-tiba kamu ingin mengajukan cuti?” wajahnya menunjukkan protes pada gadis itu.
“Ada hal penting, aku harus segera pulang. Lagipula tuan Johan mengizinkan kok. Acara pernikahan nona Clara juga masih satu bulan lagi,”
“Mengapa kau tidak memberitahuku terlebih dahulu? Kalau bukan Merry yang memberitahukan perihal cutimu, maka aku akan jadi orang terakhir yang akan tahu.”
Fitri tersenyum geli, “Tidak ada yang salah mau jadi orang yang terakhir ataupun yang tahu pertama kali, reaksimu terlalu berlebihan,”
Wajah andrew sedikit tegang. Tampak sekali jika ia menahan kekesalan. “Aku serius denganmu, dan aku sudah menganggap kau adalah calon istriku. Aku hanya menunggu kapan kau siap untuk memperkenalkan aku dengan kedua orang tua mu.”
Fitri menatapnya lembut, “Dan aku belum pernah meng’iya’kan anggapanmu...”
“Adakah pria lain di hatimu selain aku?” tanya Andrew
Fitri, “........”
“Kalau ada, aku ingin mengenalnya, kalau tidak maka aku akan terus menunggu jawaban iya darimu,” Andrew beranjak dari kursinya, “Besok malam aku akan mengantarmu ke stasiun,” kemudian ia pergi meninggalkan Fitri tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.
*****
__ADS_1
Andrew mengantar Fitri hingga pemeriksaan tiket.
“Terimakasih, pulanglah,” ujar Fitri
“Masuklah dulu, setelah memastikan kereta berangkat aku akan pulang,”
Fitri tertawa geli, “Lalu apa yang akan kau lakukan jika kereta tidak jadi berangkat? Mendorongnya? Atau menariknya dengan mabilmu?”
Andrew menatapnya gemas. “Aku akan mengantarmu dengan mobilku, memastikan kau sampai di rumah sekaligus bertemu dengan orangtua mu,”
Fitri, “........”
Fitri mengangguk pelan, perlahan menbawa kopernya masuk ke gerbong kereta nya.
Setelah memastikan gadis itu masuk, ia bergegas menuju mobilnya yang terparkir di depan stasiun.
Mobil perlahan meninggalkan gerbang stasiun, mendadak Andrew tertegun melihat sosok pria berjalan masuk. Matanya terus mengikuti langkah pria itu, namun terpaksa menginjak gas karena bunyi klakson mobil yang antri ingin keluar gerbang. Pikirannya kalut.
Ia menepikan mobilnya, bergegas mengambil handphone nya mengirim pesan kepada Fitri.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan, beri kabar jika sudah sampai,” lama Andrew menatap layar handphone nya berharap balasan pesannya.
“Iya...” Andrew tersenyum penuh semangat.
“Sampaikan salamku pada ayah dan ibu mu... aku menyayangimu...” Andrew memberanikan diri menulis kalimat terakhir. Untuk mengurangi kecemasan di hatinya.
“Iya...,”
Tuuuutttttt..... suara mesin kereta berjalan meninggalkan stasiun kereta api. Andrew pun bergegas pulang dengan senyum yang terus mengembang menghiasi wajahnya.
*****
Fitri tampak gelisah di kursinya. Kereta telah berjalan beberapa jam. Biasanya ia pulang sendirian menuju stasiun menggunakan taksi. Sehingga ia bisa mengenakan pakaian tertutup seperti sebelumnya. Namun karena hari ini Andrew memaksa untuk mengantar ke stasiun, ia tak punya pilihan lain selain mengiyakannya.
Dan akhirnya ia kebingungan saat ini. Jika ia berganti pakaian di WC, penumpang yang duduk di seberang kursinya akan heran melihat perubahan dirinya. Kursi penumpang disebelahnya kosong karena ia sengaja membeli dua kursi. Fitri memperhatikan penumpang di seberangnya. Laki-laki. Tampaknya ia sedang tertidur. Fitri berfikir keras. Ya, daripada mengambil resiko berganti kostum ketika sampai di stasiun tujuan, lebih baik ia lakukan sekarang.
Fitri segera membawa perlengkapannya ke WC. Sembari memastikan tidak ada penumpang yang memperhatikannya. Dan bergegas kembali ke tempat duduknya setelah semua selesai.
Tampak kelegaan di wajahnya. Ia bersiap ingin memejamkan mata ketika sebuah suara menegurnya.
__ADS_1
“Ini baru Fitri yang aku kenal...”