Cahaya Harapan Di Langit Turki

Cahaya Harapan Di Langit Turki
Sepeda Spesial


__ADS_3

Pagi hari menjelang. Sinar matahari bersinar dengan terang. Bau tanah basah selepas hujan membuat siapapun akan merasa menyatu dengan alam.


Waktu menunjukkan tepat pukul 06.30 WIB. Salma terlihat rapih dengan seragam putih abu-abu. Ia baru saja menuruni tangga penghubung lantai satu dan dua. Ia dapat melihat dari atas bahwa ibu tirinya sedang menyiapkan makanan sementara papanya tengah bersantai sembari meminum kopi.


"Salma, sarapan dulu nak," pinta Ghina yang saat itu melihat Salma. Salma mengabaikannya dan melenggang pergi begitu saja.


Suara meja yang dipukul dengan keras membuat atmosfer berubah tegang. Bahkan suara itu dapat terdengar hingga lantai dua. Salma tersentak kaget dan refleks menoleh ke belakang. Disana papanya tengah menatapnya dengan tajam.


"Kesini kamu Salma," titahnya. Karena tidak mau membuang-buang waktu. Salma pun bergegas menghampiri Haidar.


Haidar menatap Salma dengan tatapan tak ingin di bantah. "Berikan kunci mobilmu. Taruh di atas meja."


Salma yang tadinya tenang kini memelototkan matanya. Yang benar saja?. "Pah?? Sorry, you crazy? Terus aku ke sekolah gimana? Kalo misalkan ada kerja kelompok aku juga gimana? Papa udah nggak mau kasih aku uang saku seminggu pula. Kartu kredit juga di bekukan. Maksudnya biar apa coba?"


"Supaya kamu tahu kesalahan kamu. Apa kamu ingin menambah masa hukuman?" tanya Haidar.


Salma menghela nafasnya. Ia akan menunjukkan bahwa ia tidak lemah. Ia akan buktikan bahwa ia bisa hidup tanpa harta papanya.


"Oke, fine. Seminggu tanpa harta papa. Salma bakal baik-baik aja," ucapnya sambil meletakkan kunci mobil di atas meja.


Setelah melakukan itu Salma pun kembali meninggalkan meja makan. Melenggang pergi menuju garasi. Ia tidak lagi menggunakan mobil dan ia juga tidak mempunyai motor. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai sepeda.


Sementara itu di dalam sana. Ghina merasa iba dengan keadaan anak tirinya itu. Ia menatap Haidar tak percaya dengan keputusannya.


"Kamu nggak kasian sama Salma? Itu berat banget, seminggu tanpa uang tanpa mobil lalu kartu kredit kamu bekukan. Kalau misalnya ada kegiatan yang menuntutnya mengeluarkan uang bagaimana?" tutur Ghina.


"Dia mungkin masih kecil tapi dia tau caranya bertahan hidup. Jadi tenang saja," jawab Haidar sambil kembali menikmati kopinya.


Salma menuntun sepedanya keluar dari gerbang rumah. Ia berkali-kali menghela nafas. Setelah puas Salma pun menaiki sepedanya dan mulai mengayuh.


Baru beberapa meter ia keluar dari gerbang. Seseorang membunyikan bel sepeda. "Tumben pakek sepeda. Biasanya pakek mobil," celetuknya.


Salma menggeram kesal. Karena ulah orang itu, ia hampir kehilangan keseimbangan. "Zulkipli ya Allah bisa nggak sih nggak ngagetin gue sehari aja. Untung nggak sampek jatuh. Kalo sampek lecet tanggung jawab lo."


Sementara yang di omeli malah tersenyum tanpa beban. Seperti menganggap bahwa membuat Salma terkejut adalah hobi barunya. "Ya sorry," ucapnya.


Zafir mengamati Salma dengan intens. Ia melihat sesuatu yang berbeda di dekat matanya. "Tumben lo pake bedak tebel banget. Lo habis nangis?" tanyanya.


Seperti orang yang ketahuan berbohong. Salma terlihat kelabakan saat Zafir menanyakan itu. "Mana ada emang kenapa gue nangis? Ini cuma karena pengen doang kok," elaknya.


"Dih udah tau nggak pinter boong. Masih aja nekat," ucap Zafir dalam hati.

__ADS_1


"Nah sekarang gue nanya. Lo juga kenapa pakek sepeda? Bukannya lo punya banyak kendaraan ya?" cecar Salma kepada Zafir. Sekarang terlihat dengan jelas Zafir yang kelabakan.


"Ya gue pengen aja. Sekalian olahraga lah lumayan," jawab Zafir.


"Ya tapi nggak masuk akal dugong. Jarak dari rumah ke sekolah kan jauh banget dua puluh menit baru sampek," ucap Salma.


"Itu kalo lewat jalan raya utama. Kalo sepedaan mah ya lewat jalan pintas lah. Palingan sepuluh,lima belas menitan baru sampek," ucap Zafir.


Salma menganggukkan kepalanya kecil. "Nah kenapa lo bisa di area kompleks gue? Emang lo tinggal di sini?" tanyanya.


Zafir mengangguk. "Cuma beda blok dari rumah lo. Lo di blok B gue blok C."


"Nah ketahuan kan lo. Berarti lo dari kemarin-kemarin ngintilin gue mulu ya? Mulai dari sekolah, kelas, ini sepeda juga," tuduh Salma. Zafir tidak mengelak karena itu memang benar adanya.


"Gue pake sepeda karena di hukum papa, semua fasilitas di cabut. Lah lo? Gabut?" celetuk Salma.


Zafir memicingkan matanya curiga. "Wait? Hukum? Itu sebabnya lo pakek bedak tebel? Karena lo ga mau semua orang tau kalo mata lo bengkak karena nangis. Oh iya dan satu lagi, ini alasan lo nanya lowongan kerja ke gue?" Salma mengalihkan pandangannya ke depan. Tidak sanggup lagi menatap temannya itu.


Kemarin malam pukul 18.30 WIB setelah kejadian tak mengenakan itu. Salma memantapkan diri untuk menghubungi Zafir. Meskipun tengah hujan deras disertai petir untung saja koneksi internet tetap stabil. Tak lama kemudian teleponnya tersambung.


"Assalamualaikum. Kenapa Sal? Ada masalah?" tanya Zafir di seberang sana.


"Sepenting apa sampek hujan petir badai kaya gini lo telepon gue," tutur Zafir.


"Penting banget lah. Mencakup hidup dan mati gue. Kelangsungan hidup gue di dunia," sahut Salma.


"Kenapa? Lo lagi ada masalah? Lo butuh bantuan? Diculik? Tersesat? Kepleset? Ketemu anjing? ketemu ular? Kejebak lift?.." tanya Zafir beruntun.


"Hihhh diem lo Zulkipli. Gue lagi serius," potong Salma yang mendengar Zafir mulai mengoceh kesana kemari.


"Hehe sorry. Lo mau apa? Siapa tau gue bisa bantu," tanyanya.


"Lo ada tau toko yang nyari pegawai ga? Gue butuh money. Toko apa aja deh yang nerima pelajar buat kerja di sana," ucap Salma.


"Toko? Gue ga tau soal itu. Tapi, bunda gue punya toko bunga lagi rame-ramenya di sini. Butuh pegawai juga kayaknya. Lo mau?" tanya Zafir.


"Emm gue pikir-pikir dulu deh. Besok lagi gue bahas," jawab Salma.


"Yaudah, gue tutup kalo gitu. Tidur sono usah malem," ucap Zafir.


"Pala kau malem," pekik Salma. Terdengar suara tawa dari seberang sana. Setelah itu telepon dimatikan sepihak oleh Zafir.

__ADS_1


Jentikan jari di depan mukanya mampu membuyarkan lamunan Salma. Ia menatap Zafir yang penuh tanda tanya di wajahnya.


"Iya deh lo bener. Itu urusan gue, lo gausah ikut campur. Nanti lo pusing sendiri. Dan soal tawaran lo semalem gue rasa gue bakal terima. Setelah di lihat-lihat cafe-cafe di sini ga rekrut pegawai baru," ucap Salma.


"Ya nanti sepulang sekolah langsung aja ke toko bunda. Biar gue anterin," tutur Zafir.


"Karena lo kan teman baik. Lo bisa ga bantuin gue nyapu lapangan basket lagi hari ini? Karena nanti mau ke toko bunda lo, biar ga kesorean kan," pinta Salma.


"Idih kok gue di ikut-ikut in?" protes Zafir.


Salma memamerkan deretan gigi putihnya. "Ayolah lo kan temen yang baik. Gimana kalo kita balapan? Yang nyampe duluan di gerbang sekolah. Dia yang menang dan kalo gue menang, lo harus bantu gue bersihin lapangan tapi kalo lo yang menang lo boleh ke kelas. Gimana?" tawarnya.


Zafir mengangguk kecil. "Oke deal."


"1..2...3.... GO!!"


Mereka pun memulai balapannya.


Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Dari kejauhan kita dapat melihat bahwa Salma dan Zafir sedang beradu untuk sampai lebih dahulu ke gerbang. Dan...


"Yuhuu gue menang. Jadi gue bisa ke kelas sekarang?" ucap Zafir yang telah dahulu melewati gerbang.


"Ehh ga boleh. Kan belum di pastiin pemenangnya. Pak Saman!! Sini dulu pak," panggil Salma kepada satpam sekolah yang tak sengaja memperhatikan mereka.


"Iya? Kenapa?" tanyanya.


"Saya liat tadi bapak lagi mantengin saya sama dia lagi balapan. Nah bapak liat nggak yang pertama kalia sampek di gerbang?" tanya Salma.


"Dia duluan yang sampek," jawab pak Saman sambil menunjuk Zafir. Seketika raut wajah Salma berubah suram.


Zafir tertawa renyah melihat itu. "Bapak boleh pergi. Gue bilang juga apa. Ga percayaan sih lo." Salma hanya mengabaikannya.


"Iya deh gue bantuin lo."


Salma melotot mendengarnya. "Bener nih?"


Zafir pun mengangguk. "Bener. Jangan di tekuk mulu itu mukanya. Ntar cantiknya ilang."


"Ntiir cintiknyi iling," ucap Salma sambil menirukan gaya bicara Zafir.


Sementara itu seseorang tampak memperhatikan mereka dari jauh. "Cih lama-lama makin ngelunjak ya. Liat aja nanti apa yang gue buat. Kalo kak Zafir nggak bisa jadi punya gue. Berarti orang lain juga ga bisa."

__ADS_1


__ADS_2