Cahaya Harapan Di Langit Turki

Cahaya Harapan Di Langit Turki
Lapangan Basket


__ADS_3

Salma mengabaikan pertanyaan Zafir. Menganggapnya sebagai angin lalu. Ia sedang tidak ingin membagi masalahnya dengan orang lain.


"Ga ada. Mending lo fokus sama pelajaran deh. Daripada penghapus papan tulis melayang ke kita," ucapnya.


Zafir terkekeh kecil. "Mon maap nih. Lo lupa? Papan tulisnya touchscreen." Sementara itu Salma terlihat menahan malu.


Jam pelajaran siang itu telah di habiskan oleh jam bahasa Indonesia. Kini waktu menunjukkan pukul setengah dua. Saatnya jam pulang untuk SMA Bratadikara.


"Anak-anak untuk tugas kalian. Jangan lupa untuk membuat satu puisi individu. Setelah itu saat ada jam pelajaran saya. Dibacakan secara berpasangan seperti puisi beruntun. Nanti akan saya buatkan undian dengan siapa kalian berpasangan. Ada yang ingin di tanyakan?" tanya bu Citra.


"Tidak ada. Kami paham bu," ucap semua siswa. Setelah itu bu Citra pergi dari kelas. Disusul siswa yang berebut untuk keluar kelas.


Salma sedang membereskan buku-bukunya. Begitu pula dengan Zafir. Keduanya masih berada di dalam kelas saat semua murid telah keluar.


"Lo habis ini langsung pulang?" tanya Zafir.


Salma menggeleng. "Gue harus bersihin lapangan basket dulu."


"Mau gue bantuin?" tanya Zafir.


"Ngga perlu. Dan tolong jangan tatap gue dengan tatapan kasihan. Gue risih," jawab Salma. Setelah mengatakan itu, Salma pun pergi meninggalkan kelas.


"Ini orang kenapa sih. Kok sensi banget dari tadi. Lagi PMS ga sih? Atau dia punya masalah?. Karena gue temen yang baik. Gue bakal susulin tu anak," ucap Zafir bermonolog.


Salma menatap lapangan basket di depannya. Sungguh benar-benar kotor, seperti berbulan-bulan tidak di sapu. Akan sangat lama untuk membersihkannya.


"Ini petugas kebersihan sekolah lagi cuti atau gimana sih? Sumpah ini kotor banget. Harusnya gue tadi nerima tawaran Zulkipli. Aelahh ini nih ciri-ciri cewe rada-rada," keluh Salma. Rasanya ia ingin menangis. Seharusnya jika mungkin ia bahkan sudah di rumah.


"Oke Salma. Mari kita eksekusi. Ini harus bersih atau bu Rani bakal protes sama gue. Emang ya hari ini hoki gue ga kepake," lanjutnya.


Sementara itu, Zafir kini sedang berada di kantin. Ia sedang memesan nasi bungkus dan minuman dingin. "Bu pesan nasi bungkus paling enak dua sama minuman dinginnya dua ya. Eh iya tambah air mineral satu ya," ucapnya.

__ADS_1


"Siap. Tapi banyak banget. Mau langsung abisin dua porsi?" tanya ibu kantin.


Zafir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenernya yang satu porsi buat temen saya bu. Saya lihat-lihat dia belum makan siang. Terus malah kena hukum bersihin lapangan. Kasian," ucapnya.


"Masyaallah mas Zafir perhatian banget. Pasti temennya beruntung itu. Kalo mas Zafir udah lulus sekolah udah ibu angkat jadi mantu," ucap ibu kantin yang semakin jauh menurut Zafir.


Tak lama kemudian ibu kantin pun membawakan pesanan Zafir dan mengemasnya dalam plastik.


"Ini mas pesanannya jangan lupa di habisin. Itu ibu kasih lebih dikit nasinya biar kenyang," ucap ibu kantin.


Zafir pun tersenyum. "Makasih ya bu. Ini uangnya," ucapnya sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.


Ibu kantin pun menerima uang itu. "Bentar ya kembaliannya. Ibu ambilin sebentar."


Namun saat itu juga, Zafir mencegahnya. "Kembaliannya buat ibu aja."


"Alhamdulillah. Semoga mas Zafir lancar terus belajarnya. Bisa gapai impian," ucap ibu kantin.


Salma terus menyapu banyaknya daun yang berserakan di lapangan basket. Bahkan sudah ada dua karung besar yang ia kemas.


"Aseli ngeselin parah," keluhnya sambil menyeka keringat.


"Rajin bener. Mau gue bantuin nggak?" tanya Zafir yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Salma. Salma yang hendak berbalik pun terkejut.


"ZULKIPLI KAPAN SIH LO GAK NGAGETIN GUE MULU??" teriak Salma kesal.


Zafir menutup telinganya dengan kuat. Suara Salma kini terdengar seperti toa masjid. Sangat keras. "Iya iya maap. Ga sengaja."


"Masih gue biarin belum gue eksekusi," celetuk Salma.


"Sabar atuh. Nih gue ada air mineral. Lo mau nggak?" tawar Zafir.

__ADS_1


Salma yang memang dari awal sudah sangat haus pun segera meminum air mineral itu hingga tandas. Zafir yang melihatnya pun bahkan ikut melongo.


"Emang boleh se haus ini?"


Zafir hanya menggelengkan kepalanya. Ia ikut memegang sapu dan mengumpulkan sisa daun yang masih menyebar. Setelah semua terkumpul. Zafir kemudian memasukkannya kedalam karung sampah.


Salma yang melihatnya pun tersenyum. Merasa terbantu dengan adanya Zafir di sini. "Thanks udah bantuin gue."


"Sama-sama. Oh iya lo mau di situ liatin gue kerja doang? Bantuin lah," ucap Zafir.


"Iya ini juga mau lanjut bantuin kok," jawab Salma sambil kembali memunguti sampah daun dan memasukkannya dalam karung sampah.


Tak terasa sudah dua puluh menit mereka mengumpulkan daun-daun itu. Kini lapangan basket yang awalnya sangat kotor menjadi sangat bersih.



"Akhirnya selesai juga," teriak Salma senang. Ia terlihat meregangkan badannya yang mulai kaku.


Zafir tersenyum melihat senyum di wajah Salma. "Gue udah beliin lo makanan. Ayo makan bareng."


"Sabi nih pas banget gue laper," jawab Salma.


Mereka pun makan bersama di bawah pohon yang rindang. Cahaya matahari sudah tidak sepanas tadi dan angin juga bertiup sepoi-sepoi sehingga membuat suasana menenangkan.


Tanpa mereka sadari, Dinar sendari tadi memperhatikan mereka. Adik tiri Salma itu telah menunggu kakaknya hingga berjam-jam di sini.


"Kalo aku nggak pulang sekarang mama pasti khawatir. Papa juga. Tapi kalo aku pulang nggak bareng kak Salma nanti papa marah gimana," ucapnya bermonolog.


"Ga tau lagi deh. Yang penting aku ngabarin kak Salma. Biar aku naik ojek online aja." lanjutnya.


Dengan mempertimbangkan berbagai keadaan. Dinar pun akhirnya memesan ojek online. Ia berharap tindakannya ini akan membuat suatu kesalahan dan membuat keributan di rumah. Tapi tidak ada yang tau kedepannya akan bagaimana bukan?

__ADS_1


__ADS_2