
Tidak ada yang spesial selama seharian ini. Salma cukup damai karena rivalnya Wenda sedang tidak sekolah. Kini jam telah menunjukkan waktu pulang. Salma dan Zafir menuntun sepedanya hingga depan gerbang.
"Tokonya jauh?" tanya Salma.
Zafir menggeleng. "Cuma sepuluh menit dari sini. Lewat jalan pintas maksudnya. Kalo lewat jalan utama sih paling nggak ya lima belasan menit," jawabnya.
Salma mengangguk mengerti. "Kalo gitu lo pimpin jalannya."
Zafir dan Salma pun menaiki sepeda masing-masing dan segera mengayuhnya. Semakin lama punggung mereka menjauh dari gerbang sekolah.
Sesuai dengan perkiraan, Zafir dan Salma tiba setelah 10 menit bersepeda melalui jalan pintas. Salma menatap kagum bangunan di depannya. Jujur ia baru tahu ada toko bunga di sekitar sini.
"Lo kenapa bengong gitu?" tanya Zafir yang menyadari Salma tak bergeming dari tempatnya.
Suara Zafir mampu menyadarkan Salma dari kekagumannya. "Ga ada. Cuma kaget doang sebagus ini. Biasanya toko bunga nggak sampe se mewah ini," jawabnya.
Zafir tersenyum menanggapinya. "Terus ngapain masih di sini? Ayo masuk," ajaknya.
Salma mengangguk kecil. Mereka pun melangkahkan kaki masuk ke dalam toko bersama-sama. Di saat yang sama lonceng yang di tempatkan di atas pintu pun berbunyi.
"Selamat datang di Toko Bunga Nirankara. Ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pegawai.
"Saya mau ketemu manager toko ini bisa mba?" tanya Zafir.
"Bisa. Tapi apa ada suatu komplain mengenai produk kami?" tanyanya.
Zafir menggeleng. "Tidak. Saya hanya ingin bertemu dengan bunda saya mba. Penting banget soalnya."
Pegawai itu melotot mendengarnya. "Kamu anaknya bu Sherin ya? Sebentar saya panggilkan dulu. Maaf atas ketidaknyamanannya," ucapnya.
Zafir pun mengangguk sedangkan Salma menatap Zafir malas. "Tinggal bilang mau ketemu bunda gitu aja susah banget. Pake segala manager-manager an," cibir Salma. Zafir terkekeh mendengar cibiran Salma.
Tak lama kemudian seorang wanita yang tampak masih muda datang bersama pegawai tadi. "Udah lama?" tanyanya.
Zafir menggeleng dan bergegas mencium tangan bundanya. "Baru aja bun," jawabnya.
"Tumben kamu ke sini. Ada perlu?" tanya Sherin yang masih belum tahu tujuan anaknya.
"Zafir cuma mau nganterin temen bun. Dia butuh kerja buat sekolah katanya," jawab Zafir sambil melirik Salma. Meskipun tidak semuanya benar.
__ADS_1
Sherin berganti menatap Salma. "Kamu beneran mau kerja nak?" tanyanya.
Salma mengangguk. "Iya bu. Saya butuh banget buat bayar SPP," jawabnya. Zafir menoleh ke arah Salma. Ia pikir Salma hanya bekerja untuk bisa tetap dapat uang saku.
Sherina terlihat berpikir. "Kamu mau job apa? kebetulan yang di butuhkan pengantar bunga dan florist."
"Emm apa aja bu. Dua duanya juga bisa. Nanti di lihat mana yang lebih membutuhkan tenaga saya," jawab Salma.
"Soal gaji kamu mau per minggu atau per hari?" tanya Sherina.
"Harian saja bu. Apa saya boleh kerja tiap hari Selasa, Rabu dan Kamis saja? Soalnya selain hari itu saya ada jadwal les privat," tutur Salma sedikit memohon.
"Sebenernya ini bukan keputusan yang tepat. Tapi mungkin dia hanya bekerja sementara dan tidak tetap. Lagi pula dia pelajar pasti banyak pekerjaan." ucap Sherin dalam hati.
Sherin pun menyetujuinya. "Setuju. Untuk gaji per hari itu biasanya lima puluh sampai seratus ribu tergantung banyaknya pesanan."
Salma mengangguk mantap. "Saya juga setuju."
"Baiklah kalau begitu ambil seragam kamu. Indira, antarkan di ke ruang ganti," panggil Sherin kepada pegawai bernama Indira itu.
"Iya bu," jawab Indira sambil memandu Salma pergi ke tempat ganti baju.
Selepas kepergian mereka berdua. Sherin dan Zafir terlihat berbincang santai.
"Kamu di sini mau ngapain lagi? Nggak mau pulang?" tanya Sherin.
Zafir menggeleng kecil. "Ngga mau bun, Zafir mau bantuin Salma. Dia pasti kecapean full kegiatan di sekolah. Tapi jangan kurangi gaji Salma ya bun," jawabnya.
Sherin tersenyum mendengar permintaan Zafir. Anaknya itu memang ada-ada saja. Namun ia senang karena didikannya untuk saling membantu sesama manusia masih Zafir amalkan.
Di saat yang sama Indira dan Salma pun saling berbincang. Kebetulan Salma sudah berganti pakaian dengan seragam kerjanya.
"Kamu udah lama kenal mas Zafir toh?" tanya Indira.
Salma mengangguk lalu kemudian menggeleng. "Belum lama mba, palingan baru seminggu yang lalu di Turki," jawabnya.
"Beruntung banget kamu. Mas Zafir keliatannya orang yang baik dan sangat peduli sesama. Apalagi punya wajah ganteng hehe," ujar Indira sambil cengengesan.
Salma tertawa kecil. "Itu sih bener tapi jangan lupain kelakuannya yang nyebelin mba," jawabnya.
"Hehe. Yaudah ayo keluar. Ntar kesorean selesainya," ajak Indira. Salma pun mengangguk. Lalu keduanya keluar dari ruang ganti.
__ADS_1
.
.
.
Sherina terlihat mengomando karyawannya. Tak lama ia melihat Salma keluar dari ruang ganti. "Salma kamu anterin bunga dulu ya. Kamu bisa naik motor?" tanyanya.
Salma pun mengangguk. "Bisa bu," jawabnya.
Zafir yang mendengar itu pun berdecak kagum namun mengejek secara bersamaan. "Hilih yakin bisa? Ntar jatuh nangis," ejeknya. Salma terlihat menahan kekesalannya dengan tersenyum. Senyum mematikan maksudnya.
Sherina tersenyum melihat tingkah keduanya. "Udah jangan berantem terus. Keburu sore, kasian Salma-nya. Kamu kalo mau, bantuin sana. Daripada di sini ga ada kerjaan," pintanya.
Zafir langsung memberi hormat kepada bundanya. Sementara Salma terlihat memutar bola matanya malas. Jika bos barunya tidak ada di sana. Mungkin ia telah memukul Zafir saat ini.
Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Salma dan Zafir pun mengantarkan bunga berdua. Tapi dengan motor yang beda tentunya. Mereka mulai memencar menuju alamat yang tertera masing-masing.
Kini Zafir telah selesai mengantarkan bunganya. Ia mengendarai motornya untuk kembali ke toko bunga. Namun di pertengahan jalan ia bertemu Salma. Perempuan itu kini tengah memeriksa ban motornya.
"Woyy kenapa tuh? Lo ga jatuh kan?" tanya Zafir yang justru terlihat mengejek di mata Salma.
"Diem dulu lo Zulkipli. Gue lagi periksa ban nih. Kayaknya bocor deh, tapi semoga cuma kurang angin," jawab Salma.
Zafir menggedikkan bahunya acuh. "Ya udah sih tinggal bawa ke bengkel," ujarnya.
"Masalahnya masih ada satu bunga yang belum gue anter. Bantuin dong bawa ke bengkel. Kayaknya ada yang ngga terlalu jauh," pinta Salma.
"Aelah bawa sendiri. Cuma bocor ngga sampe mogok," ucap Zafir.
Salma pun akhirnya menyerah dan memilih mengalah. Dia kembali menaiki motornya untuk mencari bengkel. Zafir juga mengikuti Salma dari belakang. Setelah tak lama mencari akhirnya mereka menemukan bengkel.
"Assalamualaikum."
Seorang laki-laki paruh baya datang menghampiri. "Waalaikumsalam. Kenapa neng sama motornya?"
"Bocor pak kayaknya. Bapak tambal dulu ya, saya mau lanjut anterin bunga. Nanti dua puluh menit saya balik," jawab Salma. Bapak itu mengangguk menyanggupi.
Setelah itu Salma menghampiri Zafir yang duduk di atas motor. "Ayo we bantuin gue anter ini bunga. Tinggal satu," titahnya.
"Yaudah ayo. Itu bunga alamatnya mana?"
__ADS_1
Salma terlihat memeriksa bunga itu. Kemudian ia menggeleng. "Ga ada alamatnya. Terus gimana nih, balik ke toko?"
Zafir tersenyum. "Nggak usah, itu bunga buat lo.