
Salma baru saja menginjakkan kaki di Indonesia setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan. Suasana yang begitu berbeda. Udara hangat yang sangat berbeda dengan udara Turki yang begitu dingin.
Gadis itu melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang sudah seperti penjara baginya. Senyuman yang awalnya terbit kini telah meredup. Melihat kebersamaan keluarga kecil di rumah itu selalu membuatnya teringat sang ibu. Ia mulai merindukan ibunya. Sayang sekali hingga saat ini ibunya tidak bisa di temui entah mengapa itu.
"Inget rumah juga kamu," celetuk sang papa. Salma memutar bola matanya malas.
"Maaf? Rumah yang mana ya? Salma rasa Salma nggak punya itu sekarang," jawabnya.
Seorang wanita menjawabnya. "Maksudmu? Ini adalah rumahmu. Tentu kamu masih punya rumah," ucapnya.
Salma terkekeh geli. "Ayolah Tante. Bangunan ini cuma kerangkanya doang. Soal rumah yang sesungguhnya itu ga ada. Ibaratnya Salma masih punya raga tapi tanpa jiwa. Hambar."
Haidar menghela nafasnya. "Sudah-sudah. Sekarang ganti baju dan makan malam. Ibumu sudah memasak makanan kesukaanmu."
Salma mengernyit heran mendengar ucapan papanya itu. "Waw? Ibu? Ibu yang mana? Kalau bukan masakan mama, gak ada nilai di mata Salma. Rasanya beda," ucapnya.
"Kak, sopan dikit dong sama ibu aku. Meskipun cuma ibu sambung tetep aja dia ibu kamu juga," ucap adik tirinya, Dinar.
"Dih apaan. Basi."
Salma meninggalkan keluarga kecil itu. Ia tidak memperdulikan tatapan menusuk dan mematikan milik papanya.
Sejak menikah dengan Ghina, Haidar memang mengajaknya tinggal di rumahnya. Semakin hari Haidar tidak lagi peduli dengan kebahagiaan Salma, Dia hanya ingin membuat anak pertamanya itu berotak pintar sehingga ia menekan Salma dalam hal akademik. Tentu ini membuat Salma membencinya bahkan anaknya itu semakin berontak.
Salma membuka pintu kamarnya dengan kasar. Api kemarahan masih membara dalam dadanya. Terkadang ia memang sulit untuk mengendalikan emosi.
Salma mengusap wajahnya dan melemparkan kopernya hingga terlempar ke ujung ruangan. Mengingat pesan kakaknya kemarin membuat Salma mengucap istighfar berkali-kali. Ia kemudian pergi untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalat isya meskipun sedikit terlambat.
Selesai dengan kegiatannya, Salma pun pergi ke balkon kamarnya. Dari sana ia dapat melihat bintang-bintang berkelap-kelip di langit malam. Di tambah dengan bulan purnama yang bersinar terang.
Ia menatap gelang pemberian Zafir di tangannya. Tiba-tiba ia merasa ingin berbicara dengan Zafir. Namun rasa gengsi terus menyeruak.
Seolah rasa keinginannya di jabah. Layar handphonenya menyala menampilkan nama 'Zulkipli'. Salma tersenyum melihatnya. Tak lama kemudian terdengar nada dering dari sana.
"Halo?" ucap Zafir di seberang sana.
"Waalaikumsalam. Minimal salam dulu lah kalo mau nelepon tuh," jawab Salma.
Zafir terkekeh. "Hehe Assalamualaikum."
"Kenapa malam-malam nelepon? Ga ada kerjaan?" tanya Salma.
"Bisa di bilang. Gabut euyy," ungkap Zafir.
"Eh iya Shazia mana? Kangen sama Zia," tanya Salma saat teringat dengan makhluk kecil gemoy itu.
"Ngedot sih. Ngapain lagi tuh bocah," jawab Zafir disertai tawa kecil.
__ADS_1
Salma pun ikut tersenyum mendengar tawa itu. "Pap in dong. Kangen banget gue."
"Ih lucu banget bocilll"
"Mau pap dari abangnya ga?" tawar Zafir.
"Lah pa maksud coba? Saja saja ada beliau satu ini," ucap Salma sambil terkekeh.
"Lo tau nggak apa filosofi matahari buat bulan?" celetuk Zafir.
Salma mengernyitkan dahinya. "No! Emang apaan?"
"Bulan nggak akan bisa bersinar kalo nggak di bantu matahari. Karena bulan ga bisa menghasilkan cahaya sendiri..."
"Terus?" tanya Salma yang semakin tidak mengerti.
"Entar dulu Susan. Gue belum selesai ngomong," keluh Zafir gemas.
"Hehe lanjutin Zulkipli," jawab Salma.
"Itu sama halnya gue yang nggak akan bisa bersinar tanpa lo. Lo tau? Ya itulah alasan gue ngasih lo gelang itu," lanjut Zafir.
"Ih bukannya kebalik ya? Lo kan yang udah bikin gue bersinar. Yang bikin gue tersenyum setelah banyaknya masalah."
"Kenapa? Lo capek ya sama gue?" tanya Salma.
"Ga salah lagi."
Mendengarnya membuat Salma tertawa.
"Lo sekolah dimana?"
"Indonesia," jawab Salma singkat.
Zafir terlihat ingin melempari Salma dengan kerikil jika ia tidak jauh. "Aseli ngeselin banget lo."
"Lagian pake nanya hal yang ga perlu. Tapi gue sekolah di SMA Bratadikara di kota A. Kenapa?"
"Gapapa sih. Kalo misal gue pulang rencananya gue bakal pindah sekolah sih. Siapa tau bakal sekolah di sekolah lo."
"Atur semerdeka lo aja deh. Dah lah gue ngantuk mau tidur aja," pamit Salma.
"Yaudah. Gue tutup teleponnya."
Sambungan pun terputus setelah Zafir mematikannya. Salma kembali masuk ke dalam kamar. Ia berbaring di atas kasur empuk itu. Menatap ke arah plafon memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
__ADS_1
Matahari kembali menyinari bumi seperti biasa. Kini Salma tengah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Semua orang berkumpul di meja makan. Di atasnya tersaji makanan yang begitu menggugah selera.
"Papa nanti anterin Dinar ke sekolah ya." Dinar membuka percakapan di meja makan itu.
Haidar menoleh. "Maaf papa nggak bisa nak. Ada banyak kerjaan di kantor. Mau pakek supir?"
"Gapapa sih pa. Kak Salma gimana?" tanya Dinar kepada Salma.
Salma tetap mengabaikannya. Menganggap seolah pertanyaan Dinar adalah angin lalu. Namun di ujung meja makan Haidar menatap Salma dengan tajam.
Akhirnya Salma pun membuka suara.
"Pake mobil gue lah," jawabnya dengan datar.
"Aku bareng kamu aja yah kak. Kan sekalian berangkat bareng," ucap Dinar.
Salma hendak menolak. Namun papanya telah menatapnya dengan tatapan yang sangat mematikan. Seketika ia takut mobilnya akan di sita. Ini akan sangat merepotkan nanti. Apalagi ia ada banyak kegiatan.
"Terserah," jawab Salma sambil mengelap mulutnya. Setelah itu ia segera mengambil tas dan pergi begitu saja.
"Susulin kakak kamu gih nanti kamu di tinggal," ucap Ghina kepada anaknya. Dengan patuh Dinar pun pergi menyusul Salma.
Suasana sekolah kini sudah ramai. Banyak orang berlalu-lalang. Salma dan Dinar pun keluar dari mobil. Tanpa ingin basa basi, Salma pun pergi lebih dahulu.
Saat tiba di halaman sekolah Salma berpapasan dengan geng Wenda, mantan sahabatnya. Namun kini telah menjadi musuhnya.
"Wah ada yang baru balik dari Turki nih," ledek Wenda.
"Ya masalah lo sama gue apaan? Emang gue baru balik dari Turki. Kenapa iri lo sama gue?" tanya Salma dengan sewot.
"Mumpung lo nggak mau kasih oleh-oleh ke gue. Gue bakal kasih lo hadiah," jawab Wenda.
"Hadiah apa maksud lo?"
Tiba-tiba satu bak air jatuh membasahi seragam putih abu-abu Salma. Salma menatap tak percaya penampakannya yang sudah basah kuyup sekarang.
Karena kesal, Salma pun mengambil lumpur dari selokan dan melemparkannya ke arah Wenda. Sekarang Wenda lah yang terkejut. Ia tidak menduga ini sebelumnya.
"Maksud lo apaan hah?" teriak Wenda kesal.
"Salah siapa mancing emosi gue," jawab Salma.
"Stop kalian berdua."
Suara itu, Salma sangat mengenalnya. Seorang pemuda datang dan memberikan jaketnya kepadanya. Semua yang melihatnya pun ikut tercengang. Beberapa siswi berteriak karena idola mereka datang.
"Weh apa nih, dia anak ketua yayasan kan?"
__ADS_1