
"Kenyang juga gue. Makasih banget buat hari ini. Karena udah sore dan kerjaan beres. Gue balik dulu," pamit Salma.
"Iya, hati-hati," pesan Zafir. Salma mengangguk lalu pergi.
Sesampainya di parkiran. Salma kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ia mulai menyalakan mesin dan bersiap untuk pulang. Namun dia seperti teringat dengan sesuatu.
"Apa sih kok kayak ada yang kurang," ucapnya sambil mengamati sekitarnya.
Beberapa notifikasi muncul di layar kunci. Hal itu membuat Salma segera membukanya. Ada beberapa pesan yang belum dia lihat dari adiknya, Dinar.
"Untung itu anak udah pulang. Kalo nggak bisa di marahin habis-habisan sama papa," celetuk Salma. Ia pun segera menjalankan mobilnya pergi meninggalkan sekolah.
Selama kurang lebih dua puluh menit berkendara. Salma pun tiba di kompleks perumahan. Perumahan yang terbilang cukup mewah. Pintu gerbang terbuka dan Salma pun memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Suara sepatu yang ia pakai menggema di seluruh penjuru atmosfer ruang tamu. Namun suara berat papanya itu menghentikan langkahnya.
"Darimana saja kamu? kenapa pulangnya telat?" tanya Haidar yang duduk di sofa sambil menikmati kopi panas.
__ADS_1
Salma memutar bola matanya malas. "Ya dari sekolah dong pa. Aku ada urusan tadi makanya pulang telat," tuturnya.
Ghina menghampiri ayah dan anak itu. Ia meletakkan kue yang di buatnya di atas meja. "Dinar bareng sama kamu kan nak? Dia juga belum pulang soalnya," ujarnya.
Salma mengernyitkan dahinya bingung. "Ga ada, aku pulang sendiri. Dinar kan tadi udah pulang duluan pakek ojek. Masa belum sampe rumah? Kan perjalanan pakek motor lebih cepet juga, bisa menerjang macet," jawabnya.
Di luar rumah mega mendung di atas langit akan segera menjatuhkan airnya. Suara gelegar petir mulai terdengar. Memang bulan ini di prediksi hujan akan turun.
"Kamu memang benar perjalanan dengan naik motor lebih cepat. Tapi kenapa dia belum sampe juga. Apa terjadi sesuatu sama Dinar?" ujar Ghina. Raut wajah yang awalnya biasa saja kini berubah cemas. Membayangkan suatu hal yang buruk terjadi kepada anaknya membuatnya semakin khawatir.
Haidar meletakkan cangkir kopinya. "Di luar bentar lagi hujan deras. Kamu lewat jalan yang biasanya kan? Harusnya kalau Dinar naik ojek pasti ketemu kamu."
"Aku ga tau pa. Selama jalan aku ga liat Dinar," sela Salma.
"Ya bukan salah aku dong pa. Aku udah bilang ada kegiatan di sekolah. Aku bahkan baru buka pesan Dinar waktu mau pulang. Jadi letak salahnya aku dimana? Kalo memang Dinar itu pintar dan pengen dirinya baik-baik aja. Kenapa dia nggak suruh jemput papa atau supir aja," jawab Salma.
Haidar sungguh sudah terpancing emosi sekarang. Di saat keadaan mulai tegang. Anaknya itu malah membuat keadaan semakin memburuk.
"DIAM! Kamu tidak membantu Salma. Papa capek kamu gini terus. Kembali ke kamarmu," bentak Haidar kepada Salma. Salma yang mendengarnya tersentak kaget, sudah beberapa lama ayahnya itu tida membentaknya. Tapi kini? Lihatlah bahkan dengan kesalahan kecil sekalipun bentakan itu meluncur dari lisannya.
__ADS_1
"Dinar pulang ma pa," celetuk Dinar yang baru saja sampai di rumah dengan keadaan basah kuyup.
"Ya Allah nak. Kamu kok bisa basah kuyup gini? Lama banget juga pulangnya. Kamu beneran gapapa?" tanya Ghina dengan perhatian. Salma terlihat muak melihat drama itu.
Dinar menatap kakaknya sebentar. "Aku gapapa kok ma. Cuma tadi waktu perjalanan pulang ojeknya mogok. Aku tungguin abangnya sampe selesai kerjaan ma. Sebenernya aku liat kak Salma tadi, cuma karena kak Salma bawanya kenceng kemungkinannya kecil banget buat liat aku. Dan soal aku yang basah kuyup tadi waktu hujan udah turun aku nggak sempet neduh karena nggak ada lahan buat berteduh," jelasnya.
Setelah mendengarkan penjelasan Dinar. Haidar mengalihkan pandanganya kepada Salma. "See? Sebenarnya yang salah di sini itu kamu Salma. Kalau aja kamu nggak ngebut nggak mungkin Dinar sampek basah kuyup begini," hardiknya.
Salma meremas ujung baju seragamnya dengan keras. Emosi kemarahan telah menguasai hatinya. Rasa sesak itu terus menyeruak dalam dada.
"SELALU AJA SALAHIN AKU. Kenapa sih? Kenapa papa selalu perhatiin anak tiri papa lebih baik dari pada anak kandungnya sendiri. Papa anggap aku ini apa? Dinar kehujanan aku yang salah, Dinar naik ojek aku yang salah, Dinar salah seragam aku yang salah, Dinar nggak makan aku yang salah. Lama-lama aku semua yang salah. Kapan sih, aku bener dimata papa? Mana papa yang Salma kenal dulu? Mana?" teriak Salma dengan dada yang naik turun menahan amarah yang masih membara. Aliran sungai kecil telah menumpuk dimatanya. Karena Salma merupakan orang yang lemah soal perasaan. Dia memiliki tipe kemarahan dengan menangis.
"Keterlaluan kamu Salma. Siapa yang mengajari kamu hal ini? Siapa yang mengajari kamu tidak sopan kepada orang tuamu? Mana ilmu agama yang telah papa berikan ke kamu?. Kamu sudah melewati batasan. Papa akan membekukan kartu kreditmu selama satu minggu untuk sementara. Untuk uang saku dan kebutuhan sekolah lain kamu pikirkan sendiri." bentak Haidar.
Salma pun berlari meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya. Dadanya sudah tidak kuat menahan amarahnya. Ia ingin segera melampiaskannya melalui sesuatu.
Salma melempar tasnya ke atas kursi belajar. Ia berlari ke arah balkon. Suasana sangat tenang. Suara berisik air hujan menciptakan harmoni yang menenangkan.
"KENAPAA! KENAPA SIH SAMA HIDUP GUE. GUE CAPEK," teriaknya dengan keras. Salma meluapkan seluruh emosinya dengan berteriak dan menangis. Rasanya seperti ada batu besar baru saja di pindahkan dari pundaknya.
__ADS_1
"Ya Allah kenapa sih harus gini? Sekarang gue harus gimana? Kartu kredit di bekukan itu artinya gue harus kerja supaya bisa dapet uang. Gajinya kalo di pikir pikir ya cukup buat biaya hidup. Yang lebih parah uang SPP aku belum di bayar. Ya Allah apa ini nggak keterlaluan buat Salma?" ucapnya bermonolog.
Salma merenungkan keputusannya. Dia tidak mungkin meminta kenapa ayahnya untuk membayar karena ia mengklaim bahwa ia adalah anak sulung yang tak di anggap. "Apa gue coba tanya Zafir ya. Siapa tau dia punya rekomendasi tempat kerja buat anak SMA." Zafir seolah kantung ajaib yang sangat membantu semua keadaan Salma.