Cahaya Harapan Di Langit Turki

Cahaya Harapan Di Langit Turki
Turki


__ADS_3




..."Kita adalah penulis takdir diri sendiri maka tentukan takdir terbaikmu"...


...— Zafir Ashraf Hayyan...


Salma duduk di kursi tunggu dengan bosan mau tidak mau ia harus menunggu kakaknya. Saat ini Turki mengalami musim dingin, ini kali pertama Salma akan menyaksikan taburan es itu dalam hidupnya.


"Semoga perkiraan gue nggak salah. Plis semoga ekspektasi yang bakal gue dapetin di sini nggak PHP," ucapnya sambil mengayunkan kaki seperti anak TK.


Handphone Salma bergetar, 10 panggilan tak terjawab dari kakaknya. Hasbi. Dengan gerakan cepat jemari lentik itu menekan ikon telepon.


"Halo. Abang mana sih lama banget," keluh Salma saat teleponnya terhubung.


"Lo yang mana sih? Sejauh mata memandang gak bisa liat," jawab Hasbi dari seberang sana.


"Yakin? Yaudah gue yang nyari lo. Lo pake apa?" tanya Salma.


"Pakek jeans sama jaket tebel," jawab Hasbi.


"Yang mana wey, banyak yang pake itu bang. Ish," Keluh Salma dengan wajah cemberut andalannya.


"Alah lo cari sendiri dah gue tunggu di luar," putus Hasbi akhirnya.


"Yaudah iyaa gue keluar deh," jawab Salma sambil mematikan sambungan telepon.


Salma berjalan sambil menyeret koper. Pandangannya menyapu seluruh sudut lobby. Netranya terpaku pada lelaki yang memakai jaket tebal berwarna navy sambil memainkan handphonenya.


"Abang!" teriak Salma sambil melambaikan tangan. Hasbi yang mendengar suara lantang adiknya pun menoleh dan membalas lambaian tangan itu.


"Weh kau ni siape?" tanya Hasbi sambil memandangi Salma dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bawahan celana jeans, Atasan kaos rib dan fur cardigan dipadukan dengan pashmina crinkle  berwarna senada membuat Hasbi sedikit terkejut.


Salma memutar bola matanya malas. "Kii ni sipi, adek lo lah. Amnesia?" kesalnya.


Hasbi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Habisnya lo yang gue kenal belum pake jilbab maniezz, pantes aja gue ga nemu tadi."


"Hih alesan. Dah ya bang bawain koper gue, itung-itung permintaan maaf karena ngaret," celetuk Salma sambil menyerahkan kopernya.


"Karena mood gue lagi baek yaudah deh gue turutin," ujar Hasbi setuju. Ia pun menyeret koper Salma untuk di masukkan ke dalam mobil.


"Lo jemput gue pake mobil bang?" tanya Salma sambil melihat kakaknya memasukkan koper ke dalam bagasi.


Hasbi menutup pintu bagasi dengan kasar. "Kagak gue jemput lo pake helikopter noh," ucapnya bercanda. Sedangkan Salma menatap Hasbi sinis sebagai tanggapan.


"Ya iya lah lo gak liat?" lanjutnya skakmat.


Salma memamerkan deretan gigi putihnya. "Tapi kan salju bang, gue pikir kendaraan ga ada yang jalan," ungkapnya menyatakan pendapat.


"Lo lupa? Bentar lagi musim semi. Matahari udah keliatan walau belum jelas banget. Dua minggu lagi deh palingan udah masuk musim semi. Untung lo datengnya pas, bandara ga mungkin tutup. Jadi lo bisa balik ke Indonesia," Jelas Hasbi.

__ADS_1


"Alah, nggak balik juga gue ikhlas bang," jawab Salma dengan enteng. Menyadari adanya bibit-bibit ketegangan di antara mereka membuat Hasbi mengalihkan pembicaraan.


"Yaudah buruan masuk. Keburu jadi Elsa lo di luar lama-lama," ucap Hasbi.


"Elsa ga tuh," ulang Salma sambil tertawa kecil. Hasbi pun ikut tersenyum mendengar tawa itu. Tawa yang ia rindukan. Mobil pun berjalan menuju apartemen tempat Hasbi tinggal.


.........


Hasbi membuka pintu apartemennya. Apartemen itu tidak jauh dari Istanbul University, tempat Hasbi menutut ilmu. Dan tentu tidak terlalu jauh dari dua ikon kota Istanbul, Blue Mosque dan Hagia Sophia.


"Bang gue laper," keluh Salma sambil memegangi perutnya.


"Lo mandi dulu sana biar gue masakin. Koper lo bawa sendiri. Kamar lo yang pintu kedua," ucap Hasbi.


"Lah gak ikhlas banget ye lo," cibir Salma.


"Lo mau gue masakin nggak? Kalo mau nurut aja dah. Bocil bocil," ejek Hasbi.


"Ampun puh sepuh. Iya iya gue nurut nih," jawab Salma sambil masuk ke kamarnya.


Bau masakan dengan rempah khas Turki sangat asing di indra penciuman Salma. Perutnya terus berbunyi meminta bahan bakar.


Melihat adiknya yang antusias untuk makan membuat Hasbi tergerak untuk menyajikan masakannya.


"Bang ini namanya apa? Tampilannya aneh banget tapi baunya enak," tanya Salma dengan segala kekepoannya.


"Ini nasgornya anak kos akhir bulan," jawab Hasbi. Salma menatap kakaknya, ragu.


"Mang eak? Yakali nasgor pake kacang. Bukan Indonesia banget," bantahnya.


Salma mengangkat bahunya tak peduli, ia memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Rasanya cukup enak, Salma tak menyangka setelah tinggal di luar negeri kakaknya menjadi chef dadakan.


"Enak juga masakan lo bang. Chef dadakan nih," celetuk Salma di sela kunyahannya.


Hasbi menggelengkan kepalanya pelan melihat adiknya tidak menerapkan etika makan tanpa bicara. "Lo habisin aja, gue ambilin dessertnya."


Nohutlu Pilav yang tadinya penuh di piring Salma sekarang hanya tinggal sendoknya saja. Makanan itu kini telah berpindah sempurna ke dalam perut Salma.


"Lo laper apa doyan? Lancar bener ngunyahnya," cibir Hasbi sambil meletakkan baklava di hadapan Salma.


"Dua duanya hehe. Weh apa nih?" tanya Salma sambil melihat makanan menggiurkan itu di depannya.


"Baklava, roti panggang rasa kacangnya Turki," jawab Hasbi sambil memakan satu potong baklava yang ia siapkan untuknya.


"Kacang mulu dah perasaan, ntar gue jerawatan tanggung jawab lo," ucap Salma.


"Mang gue peduli?" jawaban yang mengesalkan dari Hasbi. Salma hanya memutar bola matanya malas.


"Ntar agak siangan ke masjid biru yuk bang," ajak Salma.


"Boleh, tapi kalo misalkan gue ada acara dadakan gimana?" tanya Hasbi sedikit ragu.


Salma mengetuk-ngetuk dagunya. "Gue ke sana sendiri, gue kan anak yang super duper pemberani," jawabnya enteng.

__ADS_1


"Ntar lo nyasar gue kudu gimana?" ujar Hasbi.


"Gue bukan bocah lagi ye bang. Lo tenang aja, masih punya handphone kok. Ntar kalo ada apa-apa gue kabarin lo," jawab Salma. Hasbi pun mengangguk tanda setuju.


Sesuai dengan kemauan Salma, ia sekarang sedang bersiap-siap untuk pergi mengeksplor kota Istanbul. Kota yang pertama kali ia pijak setelah beberapa tahun hidup di hiruk-pikuk tanah kelahiran, Indonesia. Dengan outfit sederhana Salma pun berangkat. Cuacanya cukup cerah untuk sekedar berjalan-jalan.


"Mau gue anterin ga cil?". Hasbi menawarkan diri.


Salma pun menatap kakaknya. "Ga usah gue mau jalan-jalan udah gue bilangin juga. Lagian lo ada acara kan, gue fine kok," jawabnya.


"Oke, hati-hati. Kalo ada apa-apa kabarin gue," pesan Hasbi.


"Iyaaaa abangku yang paling ganteng," jawab Salma sambil mencubit pipi Hasbi.


"Sakit woy," keluh Hasbi.


"Hahaha, dadah bang. Gue duluan," pamit Salma sambil berjalan menjauh.


Selama kurang lebih sebelas menit berjalan kaki, Salma akhirnya sampai di taman Sultan Ahmed. Seharusnya ia melihat rumput yang cantik berwarna hijau, namun kini rumput itu tertutup oleh salju.


"Sayang banget, tapi masjidnya tetep aja cantik. Gue kemana dulu, Hagia Sophia apa Masjid Biru dulu. Hm Masjid Biru dulu aja deh," gumam Salma bermonolog.


Salma memeriksa kamera miliknya. Ia sangat suka mengabadikan momen. Ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik membuatnya mahir dalam hal fotografi, videografi dan thypografi seiring berjalannya waktu.


"Gue harus foto masjidnya dulu baru selfie," gumamnya.


Salma mulai menyetel pengaturan kamera. Mulai dari ISO, Shutter Speed dan Aperture hingga menemukan komposisi yang tepat. Tak sengaja saat ia sedang fokus seorang pemuda menyenggol bahunya sehingga kameranya terjatuh.


"MAMA KAMERA GUE," teriaknya refleks yang mampu membuat beberapa orang melihatnya.


"Aseef. I accidentally," ucap pemuda itu.


"Walk with your eyes!! Kamera gue rusak gara-gara lo. Aihh iya lupa lo mana bisa bahasa Indonesia," celetuk Salma.


"Gue bisa kok, dan gue minta maaf buat kamera lo. Gue ga sengaja jujur," ucap pemuda itu.


Salma melotot mendengar lawan bicaranya itu merupakan WNI seperti dirinya. "Nah lo gantiin sekarang kamera gue. Ga akan gue maafin, mau pake apa nanti," omelnya.


"Lo punya hp kan? Nah lo pake aja, repot amat neng," celetuknya enteng.


"Ihh lama-lama lo gue geprek juga yaaa," amuk Salma.


"Zafir, Zafir Ashraf Hayyan. Lo?"


"Ga ada yang nanyaa." Salma menjawab dengan ketus.


Sementara itu Zafir tersenyum mendengarnya. "Jangan teriak-teriak ini tempat umum. Lo mau gue di sangka penindak kriminal?"


Salma mengerutkan dahinya. "Lah bukannya emang? Lo udah rusakin kamera gue. Gue ga mau tau pokoknya ganti rugi sekarang. Cepet!"


"Lo belum jawab pertanyaan gue. Setelah lo jawab, gue bakal ganti rugi," jawab Zafir.


"Salma, Salma Zulaikha Marwa. Nah mana uangnya?" ucap Salma sambil menadahkan tangannya.

__ADS_1


Lagi-lagi Zafir tersenyum dengan tingkah gadis di depannya ini. "Iya ntar gue perbaiki sekalian. Buat permintaan maaf gue, lo mau gue tour ke masjid biru?"


Salma tampak berfikir sejenak. "Oke, Deal," jawabnya setuju.


__ADS_2