Cahaya Harapan Di Langit Turki

Cahaya Harapan Di Langit Turki
Hari Terakhir


__ADS_3

Pagi hari sesuai janjinya, Salma pun pergi menuju rumah Zafir. Jaraknya cukup jauh dari pusat kota Istanbul. Hal itu tentu membutuhkan waktu yang cukup lama.


Setelah 20 menit akhirnya Salma sampai di tempat tujuan. Salma segera membayar menggunakan 'Istanbulkart' semacam kartu pembayaran transportasi umum di Turki.


Salma menatap bangunan megah di depannya dengan wajah yang terkejut. Rumah itu cukup menawan dengan desain rumah bergaya Turki klasik.


Gerbang rumah Zafir terlihat di jaga oleh security. Tampangnya cukup membuat Salma menelan ludahnya. Dengan sisa keberanian, akhirnya Salma melangkahkan kakinya mendekat ke pintu gerbang.


"Assalamualaikum excuse me sir," sapanya.


Security itu menoleh. "Waalaikumsalam, what do you need?."


"I want to meet my friend, Zafir. I..," ucapan Salma terpotong.


"Oh, are you a friend of tuan muda Zafir? He said to me earlier, come on in. I have to stay here, keep walking. If you are confused, you can ask one of the bodyguards on duty," jawabnya sambil tersenyum ramah.


Salma pun tersenyum. "Thanks sir." Salma pun masuk ke dalam rumah megah bak kastil itu. Interior rumah terkesan sangat elegan. Salma tidak henti-hentinya berdecak kagum.


Seorang asisten rumah tangga menghampiri Salma. "Are you a friend of tuan muda Zafir?"


"Oh, yes I am." Salma tersenyum.


"Wait, I'll call him first. Please sit down." ART tersebut kemudian pergi ke lantai atas, sepertinya itu letak kamar-kamar? Entahlah.


Karena lelah berdiri Salma pun akhirnya mendudukkan tubuhnya di atas kursi sofa yang terasa sangat nyaman.


Tak lama kemudian Zafir terlihat menuruni tangga sambil menggendong adiknya di tangan kiri dan memegang kamera di tangan kanan.


"Udah lama nyampenya?" tanya Zafir.


Salma menggeleng. "Baru aja kok," ucapnya.


"Nih kamera lo, tenang aja semua baik seratus persen dan memorinya masih di kamera kok," jawab Zafir sambil menyerahkan kamera Salma.


Salma pun menerimanya dan terlihat mengotak-atik benda itu. "Iyaa."


"Lo di sini berapa hari?" tanya Zafir membuka topik.


Salma menatap Zafir sekilas. "Besok balik, kenapa emangnya?. Kangen lo ma gue?" tanyanya balik.


Zafir menatap Salma malas. "Ya nggak gitu juga," ucapnya.


"Mau ajak gue tour lagi?" tanya Salma.


"Bisa aja sih kalo lo mau," jawab Zafir.


Salma melirik anak kecil yang sedang berada dalam pangkuan Zafir. "Adek lo gimana? Masa lo tinggalin di rumah kan ga lucu."


"Angkut aja lah, ini bocah suka banget main di luar. Gue juga bosen banget di rumah terus," jawab Zafir.


"Oke deh kalo gitu, Lo siap-siap gue tunggu di sini," ucap Salma final.

__ADS_1



Zafir turun dengan pakaian musim dinginnya. "Ayo berangkat," ajaknya.


Salma pun memasukkan handphonenya ke dalam slig bag yang ia bawa. "Ayo."


Zafir kemudian mengeluarkan mobilnya dari garasi. Setelah itu Salma pun naik ke dalam mobil.


"Lo tolong pangku adek gue bisa?" tanyanya.


"Oh tentu bisa. Apa sih yang ga bisa di tangan Salma," jawab Salma asal. Zafir terkekeh kecil mendengarnya.


Zafir dengan telaten memberi pengertian kepada adiknya agar mau bersama Salma. Karena ia harus menyetir, tidak mungkin ia lakukan dengan menggendong balita manis itu. Setelah selesai Zafir pun menjalankan mobilnya.


"Adek lo namanya siapa?" tanya Salma.


"Shazia, panggilannya zia," jawab Zafir.


"I adek lucu banget," ucap Salma gemas. Bagaimana tidak? Saat ia mencoba bercanda dengan Shazia. Balita itu memamerkan giginya yang baru tumbuh beberapa.


Zafir tersenyum melihat kelakuan Salma dan adiknya. Teman barunya sangat mudah mengambil hati Shazia. Jarang-jarang balita itu mau di ajak orang yang baru ia kenal.


"Gue takut adek lo tetiba nangis, Lo bawain susu nggak?" tanya Salma.


Zafir hanya melirik sedikit sambil mengangguk. "Ada itu di bangku belakang," jawabnya.


"Yaudah kalo gitu, kita mau kemana sih?" tanya Salma.


"Kulineran lebih menarik. Sebenernya banyak si yang wajib banget jelajah. Cuma letaknya jauh banget," jawab Zafir.


"Cappadocia sama Bursa. Buat ke Cappadocia butuh waktu delapan jam an naik mobil, biasanya orang-orang bakal naik balon udara pagi-pagi. Kalo Bursa bisa cobain sky di gunung uludag," jawab Zafir. Salma pun mangut-mangut sebagai jawabannya.


Setelah dua puluh menit berkendara akhirnya mereka sampai di tempat paling di kenal dengan kulinernya di sini. Istiklal Cadessi Street, rumah kuliner.



bayangin aja siang ya hehe 😁


Salma menggendong Shazia yang masih asyik bermain dengan mainannya. Sedangkan Zafir berjalan di sisinya.


"Kalo lo cape biar gua aja yang gendong Zia," ucap Zafir.


"Gapapa, belum cape kok. Tolong fotoin gue sama Zia dong," ucap Salma sambil menyodorkan kameranya. Zafir mengangkat jarinya tanda oke.


kurang lebih seperti ini posenya


"Baguss. Makasi ya," ucap Salma. Zafir pun mengangguk sebagai jawaban.


"Lo mau dondurma ga?" tawar Zafir.


Salma mengernyitkan dahinya. "Dondurma?"

__ADS_1


Zafir mengangguk. "Itu loh ice cream Turki yang penjualnya suka bikin emosi," jawabnya.


Salma mengangguk. "Pengen, tapi takut gue kebawa emosi terus nampol penjualnya."


Zafir terkekeh. "Dosa lo, ngga boleh gitu."


"Tapi sabi deh gas aja. Zia gimana?" tanya Salma.


"Gampang. Ayo beli, e sebenernya bakal jarang orang jual dondurma musim dingin gini. Tapi kalo di restoran deket sini ada kok," jawab Zafir sambil memamerkan deretan giginya.


Salma menatap Zafir malas. "Udah ku dugong ada yang ga bener sama nih anak."


Mereka pun masuk ke dalam salah satu rumah makan. Disana mereka memesan berbagai makanan khas Turki. Si kecil Shazia pun ikut bersemangat sama seperti kedua kakaknya. Eh?


Salma dan Shazia terlihat bercanda. Shazia tidak sengaja mengoleskan sedikit es krim ke atas hidung Salma. Hal itu membuat Salma seketika tertawa begitu pun dengan Zafir.


"Buset ahahahaha lo lucu banget Sal. Diem di situ gue foto," celetuk Zafir sambil bergegas memotret keduanya.


"Bukannya narsis tapi gue emang lucu dari lahir hehe," ucap Salma menanggapi.


"Masa dari tadi gue sama Zia mulu yang lo foto. Lo ga ada niatan bikin kenangan gitu," lanjutnya.


"Yaudah iya, kita selfie bertiga," ucap Zafir sambil melakukan selfie dengan handphonenya.


"Udah lanjut makan gih. Ntar fotonya gue kirim ke lo," lanjutnya. Salma memberi tanda oke.


"Lo mau lanjut kemana habis ini?" tanya Zafir.


Salma menoleh. "Gue mau lanjut keliling daerah sini sih kayaknya makanannya enak-enak. Dan juga gue mau nyari bahan buat barbeque," ucapnya.


"Mau gue anter?" tawar Zafir.


"Ya iyalah. Lo yang bawa gue ke sini, masa iya gue pulang sendiri. Dih," jawab Salma.Zafir pun terkekeh.


Siang harinya setelah puas mencoba semua makanan yang menurut Salma enak. Ia terlihat sangat kekenyangan. Di tangan kanan dan kirinya memegang tote bag berisi berbagai aneka makanan untuknya makan di rumah nanti.


"Kita mau kemana sih Zulkipli?" amuk Salma.


"Toko Souvenir gue yakin sih lo pasti pengen beli banyak," jawab Zafir sambil menggendong adiknya.


"Menarik sih, gas aja. Lo ikut masuk mau beli apa?" tanya Salma.


Zafir tersenyum. "Sesuatu. Masuk dulu aja."


Mereka pun masuk ke dalam toko souvenir. Mereka melihat-lihat banyaknya kerajinan yang dapat mereka beli. Setelah membayar, mereka pun kembali ke rumah. Zafir juga mengantarkan Salma lebih dulu.


"Thanks buat waktunya hari ini," ucap Salma.


"Gapapa, gue seneng kok," jawab Zafir sambil tersenyum.


Zafir mengeluarkan sebuah gelang dari saku celananya. "Eh ini buat lo."

__ADS_1


Salma mengernyit bingung. "Apa nih? Gelang? Matahari?"


"Iya itu buat lo.


__ADS_2