Cahaya Harapan Di Langit Turki

Cahaya Harapan Di Langit Turki
Taman Kota


__ADS_3

Zafir tersenyum. "Nggak usah, itu bunga buat lo." Salma melotot mendengarnya. Rahangnya pun terjatuh. Apa dia tidak salah dengar?


"Lah kok gue?" tanya Salma tidak mengerti.


"Dari gue. Buat keberhasilan lo dapet pekerjaan," jawab Zafir.


"Serius nih? Lo ga lagi nge prank gue kan? Kalo sampe lo cuma bercanda. One by one sini," ancam Salma.


Zafir menunjukkan jari peace-nya. "Gak ada, gue serius. Mau ke taman dulu ga? Nambal ban itu lumayan lama," tawarnya.


Salma mengangguk. "Boleh deh sekaligus refreshing ," ucapnya.


"Gue gak tau seberat apa hidup lo. Tapi gue berharap hal kecil yang gue kasih bisa bikin lo lebih baik," ucap Zafir dalam hati.


"Ngga tau lagi atas dasar apa lo bela-belain lakuin ini tapi gue bener-bener berterima kasih sama lo Zaf," ucap Salma dalam hati.


Salma mengambil handphone dan berniat untuk selfie. Diam-diam Zafir pun memotret Salma dari belakang.




"Hih bisa-bisanya captionnya gitu. Kan lo yang kasi bunga Zulkipli," keluh Salma.


Zafir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ga ngaruh. Ayo lah ke taman. Keburu kesorean terus ga jadi nanti," ajaknya.


"Iya iya."


Mereka berdua pun berjalan menuju taman kota. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat bengkel. Kurang lebih 800 Meter.


Suasana sore yang cukup indah. Angin sepoi menerpa mereka. Mengusir rasa panas dan hawa gerah yang mereka alami. Merpati-merpati berterbangan membuat kesan lebih elok. Salma dan Zafir tengah duduk di pinggir taman. Menikmati Es krim yang baru saja mereka beli.

__ADS_1


"Aseli bisa rileks gini. Rasanya semua beban ilang. Gue tuh terakhir kali refreshing kayaknya waktu kelas sembilan deh," tutur Salma.


"Lo manusia goa? Lama bener cuma sekedar refreshing," ucap Zafir.


"Mana ada manusia goa. Dulu lagi gila belajar sih, jadi di rumah mulu deh. Kalo suntuk biasanya main di taman belakang doang. Kalo nggak ya mainan sama ayam kesayangan mama dulu. Tapi sekarang ayamnya udah mati," ungkap Salma.


"Gile gile gile lo ngomong sama ayam? Kenapa nggak di goreng aja sebelum terlambat daripada keburu mati gini," ucap Zafir.


Salma melirik Zafir malas. "Namanya juga ayam kesayangan," jawabnya.


"Gue tebak tiap lo pengen refreshing kaya gini. Lo mesti bakalan ajak keluarga, sekalian piknik gitu kan? Rasanya pasti seru banget sih. Gue terakhir piknik mah kelas delapan. Waktu itu gue masih cuek sama nilai. Meskipun gitu nilai gue ga jelek yaa. Itu juga terakhir kali gue ngerasa bebas," ucap Salma curhat.


Zafir mulai tertarik dengan topik yang di bahas Salma. "Kenapa itu jadi terakhir kali ngerasa bebas?"


"Jadi, waktu gue masuk kelas sembilan. Itu kan kelas akhir ya, otomatis penentuan buat kelulusan kita ke depannya. Papa kurang puas sama nilai gue. Akhirnya dia daftarin gue ke tempat bimbel. Terus sejak kelas sepuluh papa malah nyuruh gue buat ikut les privat. Ya lo tau lah dampaknya, gue capek cuy. Ga punya waktu buat sekedar refreshing juga," jelas Salma.


"Cape banget ya rasanya? Mau gue kurangin ga capeknya?" tanya Zafir.


Salma mengangkat alisnya. "Gimana caranya?"


"Yaelah Zulkipli. Gini aja, lo sering-sering ajakin gue main kaya gini deh. Tiap weekend gue free. Kerja cuma Selasa sampe Kamis. Lesnya Senin Jum'at Sabtu," celetuk Salma.


"Oke, no problem. Cuma ya nggak sering-sering banget lah. Ntar di kira lain sama tetangga," jawab Zafir.


Salma mengangguk sambil tertawa kecil. "Iya juga ya," ucapnya.


Seorang anak laki-laki dengan pakaian yang sedikit kotor menghampiri mereka. "Permisi kak, apa saya boleh ambil botolnya?" tanyanya.


Salma menoleh lalu mengambil botol air mineral yang ada di sebelahnya. "Ini bukan punya kakak. Tapi kalau kamu mau ambil aja. Buat ngurangin sampah juga kan," jawabnya.


Anak laki-laki itu berseru girang seperti baru saja mendapatkan barang berharga. Bagi mereka botol air mineral itu memang berharga bukan?. "Terima kasih kak," ucapnya.

__ADS_1


Salma tersenyum, ia mengambil satu lembar uang seratus ribuan dari dalam casing handphonenya. "Sama-sama. Eh iya kakak ada sedikit uang buat kamu," ucapnya. Anak laki-laki itu semakin di buat girang oleh pemberian Salma.


Zafir ikut merasakan kepedulian yang tinggi di dalam jiwa Salma. "Kakak juga ada sedikit roti buat kamu," ucapnya sambil menyodorkan beberapa bungkus roti yang tadinya ingin ia makan.


"Kakak nggak mau makan rotinya?" tanya anak laki-laki itu dengan lugu. Zafir pun menggeleng sebagai tanggapan.


"Adek namanya siapa?" tanya Salma.


"Aku Andi kak," jawab anak laki-laki itu.


"Andi kenapa mulung?" tanya Salma yang begitu ingin tahu latar belakang Andi.


Dengan sabar Andi pun menjelaskan. Meskipun mereka baru bertemu tapi rasanya sudah dekat seperti kenal lama. "Andi butuh buat biaya makan kak. Andi juga harus bisa beliin makanan buat Adik Andi yang umurnya lima tahun."


"Andi tinggal dimana?" tanya Zafir.


"Aku tinggal di bawah jembatan itu kak. Bukan cuma sama adik aja tapi sama temen-temen yang lain," jawab Andi sambil menunjuk jalan layang yang berada di sebelah barat cukup jauh dari taman kota.


"Andi lanjut lagi ya kak. Dadahh dan terima kasih,"Pamit Andi. Salma dan Zafir pun melambai sebagai tanda jumpa kembali. Setelah kepergian Andi mereka berdua saling beradu pandang. Mengisyaratkan ke ibaan yang sangat mendalam.


Salma kembali menatap ke depan. "Gue pikir gue itu orang yang paling nggak beruntung. Tapi kenyataannya, masih banyak anak-anak kayak Andi yang bertahan di dunia tanpa keluarga. Ternyata gue itu lemah ya," ucapnya sambil terkekeh.


Zafir ikut memandang hamparan rumput hijau dengan air mancur di tengahnya itu. "Kita semua itu sebenarnya orang yang kuat kok. Nggak ada yang lemah. Kita aja yang menganggapnya gitu. Kalo kita jiwa yang lemah nggak mungkin kita lahir di dunia. Karena sebelum kita lahir, kita udah lebih dulu ditanya Allah sampai tujuh puluh tujuh kali kan," ucapnya.


"Kata siapa ada manusia hidup sempurna? Ga ada. Ada orang yang beruntung soal karirnya tapi dia ngga beruntung soal keluarga. Ada orang yang beruntung soal keluarga tapi ngga beruntung soal karirnya. Ada orang yang beruntung keduanya tapi semesta pengen dia pergi lebih cepat ke pangkuannya. Sebenernya kunci hidup itu satu, jadikan kelemahanmu itu kelebihanmu, yang bisa membantumu menjadi lebih kuat," lanjutnya.


Nasehat Zafir seolah menjadi sengatan listrik untuk Salma. Ia tersentak dan menemukan makna yang mendalam di balik setiap kata-katanya.


Salma tersenyum mendengar nasehat itu. "Kenapa jadi melow gini sih," ucapnya.


"Lo sih bahasannya serius mulu. Kayaknya udah selesai tuh ban motor lo. Ayo balik," ajak Zafir. Salma pun mengangguk. Lalu mereka meninggalkan taman kota.

__ADS_1


"Gue janji, apapun yang terjadi. Gue bakal selalu ada buat lo Sal. Karena lo itu perempuan yang limited edition. Gue harus bisa jaga lo. Spesies kaya lo harus tetep ada," ucap Zafir dalam hati.


Matahari di atas sana seolah tersenyum melihat keakraban keduanya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya bukan?


__ADS_2