Cahaya Harapan Di Langit Turki

Cahaya Harapan Di Langit Turki
Teman?


__ADS_3

Salma dan Zafir pun berjalan menuju tempat tujuan mereka, Masjid Biru. Bangunan yang indah di kota yang indah.


"Masuk lepas sepatu dulu?" tanya Salma kepada Zafir.


"Ya lo pikir aja sendiri. Ini masjid bukan rumah lo," jawab Zafir gemas. Salma memutar bola matanya malas.


"Marah-marah mulu, kan harusnya gue yang marah. Kenapa? Karena lo udah bikin kamera gue rusak," omel Salma sambil melepas sepatunya dengan berdiri.


'Ni cewek lucu banget sumpah. Astaghfirullah, gue kenapa sih," ucap Zafir dalam hatinya.


Tanpa sengaja Salma kehilangan keseimbangan saat melepas sepatunya. Tangannya refleks memegang bahu Zafir agar tidak terjatuh.


"Akhirnya lepas juga ini sepatu," celetuk Salma.


Zafir berdehem ringan. "Minimal lepas sepatu tuh sambil duduk biar gak jatuh. Untung refleks lo bagus langsung pegang pundak gue," ucapnya.


Salma yang awalnya bingung pun langsung faham saat melihat tangannya. "Nyenyenyenye. Buruan, lo niat tour gue kaga? Kalo niat cepetan dikit, kalo nggak mending gue nyewa tour guide aja," jawabnya kesal.


"Iya iya sabar atuh. Ini loh baru lepas sepatu," sahut Zafir.


Setelah urusan mereka selesai, mereka pun masuk ke dalam. Semua mata akan terpaku saat melihat dekorasi berwarna biru itu, termasuk Salma. Ini kali pertamanya ia melihat secara langsung masjid megah yang menjadi ikon kota Istanbul.


"Cantik banget, tapi sayang kamera gue rusak," sindir Salma.


Zafir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Pake handphone dulu. Gue yakin handphone lo iPhone," sahutnya.


Salma memutar bola matanya malas. "Lo fotoin deh kalo gitu. Awas aja hasilnya jelek, gue tandain muka lo," ucapnya galak.


"Ampun neng galak bener jadi orang, gue kasihan sama Lauhul Mahfudz lo. Tiap hari makan ati," ejek Zafir.


"Gak lah, yang jadi jodoh gue mah beruntung banget. Secara gue ini kan cantik, baik dan tidak sombong," ucap Salma dengan percaya diri.


"Narsis banget jadi cewek, heran gue bisa ketemu spesies manusia kayak lo," jawab Zafir sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Salma merapikan hijabnya. "Bukannya narsis ya, tapi emang gue ini tipe-tipe ideal buat jodoh gue," ucapnya.


"Yaudah iya deh terserah lo, nah sekarang pertanyaannya lo mau debat terus apa mau lanjut eksplor?" tanya Zafir sambil tersenyum tertekan.


Salma mencegah Zafir dengan menyerahkan handphonenya. "Fotoin dulu Zulkipli."


Zafir pun dengan patuh menuruti setiap perintah Salma. "Yaudah iye buruan." Salma pun berpose dan Zafir dengan sabar memotretnya.


"Makasihh, nah ayo tour," ajak Salma.


Mereka berdua pun berkeliling menjelajahi bangunan megah nan indah itu. Meskipun sedang musim salju namun pemandangannya tetap saja indah.


"Lo tau?" celetuk Zafir.


"Nggak," sela Salma.

__ADS_1


Zafir memutar bola matanya malas. "Gue belum selesai Susan," lanjutnya.


"Susan siapa? Emak lo?" tanya Salma dengan nada menyebalkan.


"Bukan emak gue, bukan emaknya temen gue dan bukan emak lo. Tapi itu nama panggilan lo Susan, spesial dari babang Zafir yang ganteng," jawabnya.


"Lah kok bisa bisanya? Gak bisa gue gak terima. Orang nama gue udah bagus," sela Salma.


"Ya bodo amat, salah siapa manggil gue Zulkipli," sanggah Zafir. Salma pun memasang wajah datarnya sebagai tanggapan.


"Oke lanjut, lo tau nama lain masjid biru?" Zafir membuka topik.


Salma terlihat berfikir. "Blue Mosque?"


"Itu bahasa Inggrisnya, you know?," jawab Zafir.


"Lo tuh mau jadi tour guide gue apa mau jadi guru gue Zulkipli. Pake segala lempar pertanyaan," omel Salma.


"Oke, masjid ini merupakan Masjid Sultan Ahmed atau SultanAhmet Camii dalam bahasa turki. Namun orang-orang lebih mengenalnya sebagai masjid biru atau Blue Mosque. Kenapa?.."


"Karena kebanyakan interior berwarna biru meskipun di dominasi oleh warna putih. Iya kan?" sela Salma.


Zafir menganggukkan kepalanya. "Lo tau kenapa Masjid biru hadap-hadapan sama Hagia Sophia?"


Salma menggelengkan kepalanya karena ia tidak tahu.


Zafir pun melanjutkan ceritanya, "Masjid Biru ini dibangun Sultan Ahmed I untuk menandingi Hagia Sophia buatan kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Dulunya bangunan ini adalah sebuah gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 Masehi. Sekarang diubah fungsinya menjadi museum. Dulu cuma Sultan Ahmed I yang boleh masuk ke halamannya. Guna rantai di gerbang belakang itu supaya Sultan Ahmed menunduk waktu masuk ke sini. Itu untuk tanda kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi."


"Ya lo pikir aja sendiri. Bukan sekali dua kali gue ke sini. Tapi tiap ada waktu refreshing," jawab Zafir.


"Bentar-bentar, kalo gitu lo tau dong dimana makam Sultan Ahmed I?" celetuk Salma.


Zafir mengangguk. "Jelas, Sultan Ahmed I wafat saat berumur 27 tahun, atau 1 tahun setelah selesainya pembangunan masjid ini. Kemudian dia dimakamkan di halaman masjid ini, begitu juga istri dan ketiga puteranya."


"Kita ke sana? Orang sini kalo ziarah gimana sih? Apa iya tabur bunga kayak orang Indonesia?" tanya Salma dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Gue kurang tau soalnya gue gak begitu peduli soal yang begituan. Tapi setau gue ya nggak kayak orang Indonesia juga. Mungkin konsepnya kayak Dargah di India, lo tau?. Tapi kalo lo mau kesana, oke gue turutin," jawab Zafir.


"Boleh, ayo buruan bentar lagi waktu Dzuhur," ajak Salma. Mereka pun pergi mengunjungi sekaligus ziarah makam Sultan Ahmed.


Seusai shalat Dzuhur di masjid biru, Salma dan Zafir pun beristirahat di taman Sultan Ahmed.


"Lo laper?" celetuk Zafir.


"Menurut lo aja, ini udah jam satu siang. Ya laper lah," jawab Salma sewot.


Zafir terkekeh kecil. "Yaudah kita cari makan."


"Lo bawa kendaraan emangnya? Cape juga jalan," ucap Salma.

__ADS_1


"Bawa kok. Lo sama gue ga bakal capek," jawab Zafir.


"Yakin? Ini aja gue udah capek ngadepin kelakuan lo," ucap Salma.


"Terserah lo deh, gue capek debat. Mau isi tenaga dulu, lo balik apa ikut gue nyari makan?" tanya Zafir.


Salma tampak berfikir. "Ikut aja deh," jawabnya. Mereka pun pergi menuju restoran terdekat.


..........


Lima belas menit telah berlalu Salma dan Zafir kini tengah berbincang membicarakan hal random dan terkadang berdebat kecil. Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Kemudian pelayan itu menyajikan pesanan mereka.


"Thank You," ucap Salma kepada pelayan itu.


"Ayo makann," lanjut Salma berseru senang. Zafir hanya tersenyum kecil melihat kelakuan teman barunya itu. Eh teman?



Layar handphone Zafir terlihat berkedip berkali-kali. Banyak sekali notifikasi yang muncul di handphonenya. Bahkan Salma yang sedang fokus dengan makanannya pun merasa terganggu dengan hal itu.


"Itu Handphone lo kenapa? Rusak?" tanya Salma.


"Sembarangan, gak ya. Biasalah seleb, sekali post banjir netizen," jawab Zafir enteng.


"Widih, emang lo post apan?" tanya Salma.


"Makanan."


Handphone Zafir bergetar, menampilkan nama mama di layar.


"Halo? Iya kenapa ma?" tanya Zafir saat telepon tersambung.


"Kamu kapan pulang? Udah selesai jalan-jalannya?"


"Udah, ini aku lagi sama temenku. Bentar lagi aku pulang kok ma," jawab Zafir.


"Yaudah kalo gitu, hati-hati."


Sambungan terputus.


"Lo barusan ngomong apa? Temen? Gue ga salah denger?" ucap Salma memastikan.


"Lo gak salah denger, bukannya kita temenan ya?" tanya Zafir balik.


"Mana ada? Belum! Orang lo belum ngajak gue temenan," jawab Salma.


"Yaudah ulang ya. Will you be my friend Susan?" ucap Zafir.


"Yes, Zulkipli," jawab Salma.

__ADS_1


"Azek di terima, apa gue harus pargoy?"


"WOY! SESAT!"


__ADS_2