
Suara berisik di kanan kirinya tidak mampu membuat Salma mengalihkan pandangan dari seorang pemuda di depannya ini. Tubuh tinggi dan badan yang atletis. Hidung mancung dan berkulit bersih tanpa noda.
"Terkejut dengan kehadiran saya nona?" celetuknya sambil tersenyum manis.
Salma melotot setelah melihat dengan jelas siapa manusia di depannya ini. "ZULKIPLI??? Lo? Ngapain di sini?"
"Ya sekolah lah. Lo pikir mau tidur?" jawab Zafir sewot.
Melihat interaksi yang mereka lakukan membuat beberapa siswi yang menonton mulai berbisik-bisik.
"Weh itu mereka saling kenal?"
"Yang bener aja?"
"Huhu dia anak ketua yayasan. Idola gue udah sama yang lain."
"Jangan-jangan yang di post beberapa hari lalu di Twitter itu Salma?"
"Iya gue liat lagi di post terakhirnya dia ngetag akun Salma deh."
"Demi?"
Sementara itu Zafir tidak peduli. Dia tetap acuh mendengarnya. Kini dia hanya ingin fokus kepada Salma.
"Lo ikut gue. Dan lo balik ke kelas. Istirahat nanti kalian dateng ke ruang BK," ucapnya yang membuat gerombolan murid-murid itu kini terpecah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Salma menatap punggung Zafir heran. "Lo mau bawa gue kemana Zulkipli?"
Zafir menghela nafas. "Ganti baju. Lo mau masuk kelas dengan keadaan basah gitu? Apalagi baju seragam hari ini putih. Lo tau kan apa yang gue maksud. Mau bikin harga diri lo jatuh?" Salma menundukkan kepalanya.
"Lo bawa baju ganti?" tanya Zafir.
Salma pun mengangguk. "Bawa, tapi baju olahraga. Bentar lagi upacara. Apa iya upacara pakek olahraga?"
Zafir terlihat memutar otaknya. Tak lama kemudian ia menelepon seseorang untuk membawakan seragam ganti untuk Salma. Sementara itu Salma hanya memperhatikan setiap gerak-gerik Zafir.
"Lo hutang penjelasan sama gue," celetuk Salma.
"Penjelasan yang mana?" tanya Zafir.
"Ya ini? Sejak kapan lo sekolah di sini? Dua tahun sekolah di sini, gue nggak pernah tuh liat lo," jawab Salma.
Zafir pun duduk di depan Salma. "Lo masih inget soal gue yang emang juga lagi liburan di Turki? Waktu di sana, kakek bilang ke ayah kalau perusahaan cabang di kota ini harus di urus. Akhirnya gue sekeluarga pindah ke sini buat menetap. Dan kebetulan lo sekolah di SMA ini kan, jadi gue ikut deh."
"Dan soal status lo di sini?" tanya Salma.
"Anak ketua yayasan?" tanya Zafir memastikan. Salma mengangguk mantap.
"Itu emang bener. Bokap gue pemilik SMA ini. Gue juga sering dateng waktu acara HUT sekolah," lanjutnya.
__ADS_1
Salma mengernyitkan dahi. "HUT? Perasaan lo nggak ada deh. Dulu gue itu OSIS, pastinya turut berkontribusi soal HUT."
"Lo yang nggak liat aja kali. Lupain dah nanti lo kepikiran," ucap Zafir.
Tak lama kemudian seorang perempuan datang kepada mereka. Ia menyodorkan baju seragam dengan lengan panjang sekaligus dengan hijabnya. "Nih kak, seragam yang lo mau," ucapnya.
Zafir pun menerimanya. "Thanks Le, lo masih ada baju kan?"
Perempuan bernama Alea itu mengangguk kecil. "Ini gue masih punya seragam ini terus nanti juga ada jadwal olahraga jadi tenang aja."
Salma menatap interaksi keduanya. Seolah-olah mengamati ada apa di keduanya. Zafir yang menyadari itu pun mengambil langkah.
"Dia Alea saudara sepersusuan gue," ucapnya mengenalkan Alea. Salma mengernyitkan dahinya.
"Iya saudara sepersusuan. Itu ketika seseorang disusui oleh ibu yang sama. Tapi mereka lahir dari rahim yang berbeda," lanjut Zafir.
"Kok bisa?" tanya Salma yang semakin penasaran.
Zafir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ceritanya panjang deh pokoknya. Dan intinya gitu, lo ganti baju dulu sana."
Salma pun mengangguk dan pergi ke dalam toilet untuk ganti baju. Setelah Salma pergi Zafir dan Alea terlihat berbincang.
"Lo pindah ke sini gak bilang-bilang," celetuk Alea.
"Dadakan makanya nggak bilang," jawab Zafir.
"Dia? Cewe lo?" tanya Alea.
"Gue pergi ya, bentar lagi upacara dimulai," pamit Alea. Zafir mengangguk sebagai jawaban.
Setelah beberapa langkah menjauh dari toilet. Alea menghela nafasnya. Meratapi ketidakmungkinan yang tak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Karena semesta tidak merestui.
'Andai lo sama gue bisa sama-sama kak. Tapi sayang kita udah saudara sejak aku lahir. Semesta, kamu nggak adil,' ucap Alea dalam hatinya.
Setelah bel istirahat berbunyi Salma dan Wenda kini sedang berada di ruang BK. Sesuai dengan janji mereka kepada Zafir.
"Setelah saya lihat CCTV sekolah dan mendapat keterangan dari beberapa murid. Saya memutuskan bahwa kalian berdua bersalah. Karena itu saya akan memberikan kalian hukuman. Untuk kamu Wenda, skors tiga hari," ucap bu Rani selaku guru BK.
Wenda tidak terima dengan keputusan itu. "Bu? Saya nggak terima. Cuma guyur dia pake air bersih loh bu. Masa iya harus skors?"
Bu Rani menatapnya tajam. "Kamu pikir itu tindakan sepele? Itu tindakan bullying. Jika kamu tidak ingin di hukum makanya jangan cari gara-gara. Atau mau langsung DO aja?" Mendengar kalimat DO membuat Wenda tidak lagi membantah.
"Dan untuk kamu Salma. Kamu saya beri hukuman membersihkan lapangan basket mulai hari ini, besok dan lusa saja," lanjutnya.
Salma melotot mendengarnya. Lapangan basket cukup luas dan di sampingnya terdapat pepohonan yang sudah pasti akan terus menggugurkan daunnya.
"Bu? Nggak ada yang lebih ringan apa?" tanyanya.
"Itu udah yang paling ringan Salma. Atau mau bersihin seluruh toilet?" tanya bu Rani.
__ADS_1
"Ih nggak deh bu. Lapangan aja, deal ya," jawab Salma.
"Yaudah deal. Wenda silahkan kembali ke kelas. Dan kamu tetap di sini. Karena ada yang ingin saya bicarakan," ucap bu Rani sambil menunjuk Salma. Wenda pun keluar dari ruang BK dengan muka yang masam.
Salma mengernyitkan dahinya. "Kenapa bu?" tanyanya.
"Sebenarnya saya sudah memikirkan ini dari lama. Tapi saya suka lupa mau beritau kamu. Jadi SPP kamu udah nunggak dua bulan. Kamu bilang ke papamu ya. Untuk pembayaran serahkan kepada wali kelas," ucap bu Rani.
"Loh kenapa bu Rani nggak bilang langsung aja?" tanya Salma.
"Saya sudah mengirim pesan kepada asisten papamu cuma tanggapannya selalu sibuk. Kalau kamu bilang sendiri, mungkin beda cerita. Jadi saya minta tolong sama kamu ya," jawab bu Rani.
Salma mengangguk. "Ya sudah bu, saya permisi. Bel masuk sebentar lagi bunyi."
"Iya Silahkan."
Salma keluar dari ruang BK. Menyisakan rasa penasaran yang begitu membuncah. Selama ini ia tidak pernah mendapat keluhan mengenai SPP yang telat bayar.
'Ck yaudah deh nanti aja bilangnya ke papa' ucapnya dalam hati.
Di ujung koridor lantai dua tepat dimana kelasnya berada. Tiba-tiba dikejutkan dengan Zafir yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Lo bisa nggak sih sekali aja nggak ngagetin orang. Lama-lama gue serangan jantung nih," keluh Salma. Sementara itu Zafir hanya memamerkan deretan giginya.
"Sorry. Kelas lo yang mana?" tanya Zafir.
"Kelas XI.2" jawab Salma singkat.
"Wah gue juga masuk kelas itu. Bareng aja ga si," ucap Zafir.
Salma menggedikkan bahunya acuh. "Kenapa baru sekarang masuk kelas? Harusnya kan sehabis upacara tadi."
"Masih males masuk kelas, kantin dulu. Power of murid pindahan," jawab Zafir dengan tatapan yang bangga.
"Serah lo dah. Males gue, bye." Salma pun berjalan mendahului Zafir.
Bu Citra selaku pengampu pelajaran bahasa Indonesia memasuki ruang kelas XI 2. Salma terlihat antusias karena mata pelajaran bahasa Indonesia adalah mata pelajaran favoritnya.
"Selamat siang anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru. Saya amati dia ini telah menggemparkan antero sekolah kita. Silahkan masuk," ucap bu Citra.
Melihat siapa yang masuk tentu membuat Salma lebih malas. Siapa lagi kalau bukan teman menyebalkannya, Zafir.
"Kenalin gue Zafir Ashraf Hayyan. Semoga kita bisa berteman," ucapnya memperkenalkan diri. Seketika kelas yang awalnya hening kini menjadi ramai. Apalagi para murid-murid perempuan.
"Sudah-sudah diam. Zafir kamu bisa memilih dimana mau duduk. Ada dua bangku kosong," ucap bu Citra.
Zafir pun mengangguk dan berjalan menuju meja Salma. "Gue bisa duduk di sini?" tanyanya.
"Terserah lo Zulkipli gue capek," jawab Salma dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
Zafir pun duduk di meja samping Salma. Ia mengamati temannya itu. Ada ekspresi kecewa yang dapat ia rasakan.
"Lo gapapa?" tanyanya yang membuat Salma tersentak.