CAHAYA UNTUK SYARIEF

CAHAYA UNTUK SYARIEF
BAB 34


__ADS_3

" Tidak, ingat kak, aku adalah istri adikmu, aku adalah aduk iparmu" kata cahaya sambil menolehkan kepalanya ke lawan arah, menghindari muka Hendra yang sudah sangat dekat.


Hendra menyeringai " Aku tidak peduli, apapun yang ku inginkan pasti harus aku dapatkan, meski itu milik adikku sendiri."


"Tapi kak, ini perbuatan zina, dosa kak, dan saat ini aya sedang hamil anak mas Arif, tolong lepaskan aya, mohon cahaya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu, tenang aku akan bermain secara lembut, asal kamu menurut" kata hendra lagi.


Saat hendra hendak mencumbu Cahaya ada yang berteriak di luar.


"Aya, apa kamu di dalam, aya?" teriak syarif yang datang tepat waktu.


"Maass to tolg..." hendr segera menutup mulut cahaya dengan tangannya. "ehmmm" Hendra mendekap mulut cahaya dengan rapat, dia mengangkat tubuh cahaya dan meletakkan di bahunya, hendra menggendong cahaya seperti karung beras.


Pusing, mual campur aduk yang cahaya rasakan saat ini.


"Maa, tolong" dengan sekuat tenaga Cahaya berteriak memanggil nama syarif.


Di luar, Syarif mendengar suara istrinya minta tolong, dia segera mendobrak pintu besar tersebut , dobrakan pertama dan kedua gagal, tapi syarif masih terus berusaha.Syarif menoleh ke samping, dia melihat kursi teras di depan jendela kaca, syarif langsung mendapatkan ide dia mengambil kursi tersebut dan melemparkannya ke kaca besar yang ada di depannya.


"Pyar " Suara kaca pecah menggema. Syarif tidak peduli apakah dia akan terkena kaca atau tidak. Syarif berlari masuk, dia melihat sekelebat bayangan hendra menggendong istrinya di pundaknya menuju ke belakang.


"Hendra, tunggu lepaskan cahaya!" perintah syarif, tapi hendra tidak menggubris, dia terus melangkah menuju ke pintu samping. Mungkin dia berencana kabur lewat pintu samping. tubuh cahaya sudah lemas dan akhirnya ibu hamil itu pingsan di gendongan Hendra.


"Cih bocah sialan itu mengganggu saja." gerutu hendra. Hendra meletakkan tubuh cahaya di sofa dan dia menatap Syarief dengan tajam.


"Mau apa lo, mengganggu kesenangan orang saja" sinis Hendra.


"Lepaskan istri ku, kamu mau bersenang senang, silahkan, masih banyak di luar sana yang mau menjadi budak nafsumu, tapi bukan istri orang" kata Syarif dengan lantang.


"Tapi gue suka dia, jadi jangan campuri urusan gue" kesal hendra.


" Sori, ini menyangkut keselamatan orang yang saya sayang, jdi maaf, meskipun kamu kakakku, aku tidak akan menyerah" jawab syarif.


Hendra maju ke depan hendak memukul Syarif, tapi segera di tangkis oleh syarif. perkelahian tidak bisa di elakkan lagi. Kakak beradik berkelahi memperebutkan cahaya.

__ADS_1


Tak selang lama Radit Datang. membawa polisi.


Polisi segera melerai keduanya.


"Tangkap bajingan ini pak, dia mau memperkosa istri saya" ucap syarif. Muka kedua pria ini sama sama bonyok.


Polisi membawa hendra, dan meminta syarif dan radit menjadi saksi.


"Saya harus bawa istri saya ke rumah sakit pak,takut terjadi apa apa pada dirinya dan kandungannya, biar kak radit dulu yang menjadi saksinya". ucap Syarif. dia mengambil jilbab cahaya yang terjatuh di lantai dan memakaikannya barulah menggendong cahaya ala bridalnya me mobil untuk di bawa ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit dia segera memanggil dokter.


"Dr tolong istri saya, dia pingsan dan dalam keadaan mengandung" kata syarif cemas.


"Perawat segera membawa Cahaya ke dalam ruang UGD serta memanggil dr kandungan.


di luar, syarif sangat mencemaskan cahaya dan bayinya, dia mondar mandir di depan pintu, menanti kabar yang belum jelas.


Sepuluh menit berlalu barulah seorang dr wanita keluar ruangan.


"Anda suami pasien?" tanya dr.


"Sepertinya pasien mengalami syok berat, dan guncangan yang hebat, tekanan darahnya sangat rendah dan lemas, tapi untunglah kandungannya kuat, jadi masih bisa bertahan, bapak jangan membiarkan ibu hamil muda bekerja keras, dan berfikir keras, kasihan kalau tidak kuat, bisa berpengaruh pada janin yang dia kandung" kata dr tersebut agak sewot, dr tersebut salah faham dikiranya syarif yang membuat dia seperti itu.


"Maaf dok, apa maksudnya, sya tidak mengerti, istri saya baru saja mendapat musibah, dia akan di perkosa. untung saya datang tepat waktu." kesal Syarif.


"Oh maaf pak, saya salah faham, barusan juga ada ibu hamil yang keadaannya seperti pasien dan keguguran, karena suaminya masih menyuruh dia bekerja keras, maaf sekali lagi." ucap dr dengan penuh penyesalan.


"Iya, apa boleh saya masuk?" tanya syarif, yang sudah bisa menata emosinya.


"Silahkan, sebentar lagi akan di bawa ke ruang perawatan, Bapak bisa masuk, dan menemani istri bapak. Tapi istri bapak masih belum sadar. Nanti setelah beliau sadar akan ada pemeriksaan lebih lanjut, takutnya akan ada trauma Akibat yang dialami barusan." kata dr.


Syarif mengangguk patuh, dia memasuki ruang UGD. menemani cahaya.


"Pak, pasien akan di pindahkan ke ruang perawatan, bapak menginginkan yang kelas berapa?" tanya petugas.

__ADS_1


"Kelas 1 pak" jawab syarif.


Tak lama kemudian cahaya di pindah me ruang perawatan, yuni dan rosa juga hadir di sana.


"Kak, saya harus ke kantor polisi, membuat laporan atas kejahatan kakak sya, tolong nitip cahaya pada kalian berdua." pamit syarif .


"Iya mas arif, aya sudah seperti adik kami sendiri, jadi jangan khawatir, mas arif segera urus semuanya ya" jawab yuni.


Di kantor polisi Radit yang membuat laporan dan memberi kesaksian peristiwa yang mereka ketahui pada polisi.


Sampai syarif datang.


"Bajingan, sebaiknya kamu mendekam disini selamanya" kesal syarif.


"Haha, kesaksian kalian tidaklah kuat, gue yakin paling lambat besok gue akan keluar dari sini." jawab hendra tersenyum miring.


Tapi mereka tetap menuntut Hendra.


* * *


Sore hari cahaya baru sadar, dia masih lemah dan sering ketakutan. Tapi malah hendra sudah di bebaskan oleh polisi karena jaminan yang besar.


"Rif, hendra baru saja bebas, dia mengeluarkan jaminan yang besar untuk kebebasannya" carita Radit yang baru saja mendapat telpon dari pengacara yang dia sewa, tapi masih kalah dengan uang .


"Sial, memang hukum de negara itu sangat lemah, banyak oknum yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada keadilan." geram Syarif.


"Lalu kita harus bagaimana?" tanya radit lagi.


Syarif meremas rambutnya dengan kasar, dia tidak tega melihat cahaya yang masih ketakutan, dan sering mengeluarkan keringat dingin.


Seperti sekarang, calon ibu muda itu masih merintih takut. Syarif dengan lembut mengusap kepalanya.


Dari luar pintu kamar rumah sakit terbuka. muncullah, si brengsek hendra pengacaranya.


"Halo kakak dan adikku, bagaimana, benarkan kalau gue akan bebas, lihat sekarang , tidak sampai esok hari gue sudah keluar, hahaha" kata hendra dengan sombongnya.

__ADS_1


Syarif yang emosi akan menonjok kakaknya yang brengsek itu, tapi di halangi oleh radit.


" Sabar, ini rumah sakit, kita lihat saja dulu apa mau dia" kata Radit menenangkan adik bungsunya tersebut.


__ADS_2