
Setelah sosok kakek itu menghilang dan kami berterimakasih kepada kakek tersebut kami melanjutkan tugas kami untuk berjaga pada malam itu tapi putri memilih untuk ikut menemani kita bergadang karena dia bilang susah tidur karena masih ke pikiran dengan apa yang terjadi pada dirinya seharian ini, waktu sudah menunjukan pukul 02.45 aku lihat putri sudah tertidur dan lutfi juga terlihat sudah tidur dengan menyenderkan kepalanya ke pundak rendi setelah itu aku dan vivi membakar kembali singkong yang masih tersisa satu dan membuatkan minuman hangat buat rendi juga, setelah sudah singkong matang dan kopi juga sudah siap aku dan vivi langsung saja memberikan kopi dan membagikan singkongnya pada rendi.
"terimakasih ya, maaf enggak bisa bantuin tadi" kata rendi berterimakasih
"udah santai saja ren" jawabku
"al.?" kata rendi memanggilku
"ada apa..?" jawabku balik bertanya
"ini yang buat kopi siapa..?" tanya rendi
"oh kopinya yang buat vivi memangnya kenapa..? enggak cocok dengan lidahmu ya ren..?" jawabku menjelaskan dan balik bertanya
"bukan enggak cocok ini mah pas banget racikan gula dan kopinya" jawab rendi
"syukur kalau kamu suka" jawabku
"pantas saja kamu suka banget kalau di buatin kopi sama vivi" kata rendi meledek
"kalau aku yang buat kamu juga tahu sendiri kan ren buatanku bagaimana..?" jawabku balik bertanya
"iya lah kalau buatan kamu pasti cuma cocok dengan lidahmu saja al" jawab rendi
"maksud kamu bagai mana ren..?" kok cuma cocok sama lidahnya ali saja" tanya vivi penasaran
"iya vi ali kan sukanya yang pahit begitu jadi cuma cocok dengan lidahnya saja" jawab rendi menjelaskan
"pantesan kalau aku buatin bilang kopi sama gulanya banyak kopinya sedikit" jawab vivi menjelaskan
"ren..?" kataku memanggil rendi
"kenapa al..?" jawab rendi
"buatan lutfi bagai mana..? cocok enggak di lidahmu" kataku bertanya
"cocok cocok saja sih cuma sedikit terlalu manis buat aku" jawab rendi
"udah ren tidak usah komplain kan dia juga suadah baik dan perhatian sama kamu" jawab vivi
"iya juga aku juga sudah senang banget meskipun dia bersikap dingin dia masih perhatian denganku" jelas rendi
Tiba tiba rudi bangun dan menyapa kami dan ikut gabung dan aku bilang untuk membawakan selimut vivi di tas karena putri tertidur di depan tenda
__ADS_1
"yo teman teman selamat pagi buta" sapa rudi
"baru bangun kamu rud" tanya rendi
"hehehe iya ren" jawab rudi
"rud bawakan selimut di atas tasnya vivi" kataku
"buat apa..?" kata rudi bertanya
"sudah bawa saja kesini" jawabku
"loh dia putri kan..? kenapa bisa di sini..? bukanya dia sudah pulang..?" tanya rudi bingung
"iya tadi dia kembali kesini diantar sosok kakek kakek yang biasanya bantuin kita" jawabku menjelaskan
"kok bisa..? terus dimana nanang..?" jawab rudi balik bertanya
"enggak ada yang tahu nanang di mana sekarang yang jelas dia terpisah sama putri" jawab rendi menjelaskan
"wih ada singkong bakar, buat aku ya" kata rudi
"iya kamu makan saja" jawab vivi
"sudah tidak apa apa kan masih ada punya kamu kita bagi berdua saja" jawab vivi
"baru juga bangun tidur sudah disuruh melihat kemesraan mereka" kata rudi
"kamu masih enak rud kalau aku hampir sepanjang malam melihat mereka berdua mesra mesraan"
"kamu masih enak di temani lutfi tadi la ini aku sendiri" jawab rudi
"sudah kalian berdua enggak usah iri nanti pagi masih ada waktu" jawabku
"iya dah iya" jawab rudi
Setelah itu matahari pun terbit dan kami langsung membangunkan yang lain rudi dan aku di suruh untuk menyiapkan sarapan karena setelah sarapan kita semua langsung berkemas dan pulang, setelah semuanya sudah matang dan sudah siap kami semua langsung sarapan
"selamat pagi cantik" kata rudi menyapa ayu
"selamat pagi juga rud" jawab ayu selesai cuci muka
"tadi malam tidurnya nyenyak tidak..?" kata rudi bertanya
__ADS_1
"apaan sih pagi pagi sudah enggak jelas saja kamu" jawab ayu
"jangan begitu dong ay, ini aku sudah buatin kamu coklat panas buat balikin mood kamu" kata rudi memberi segelas coklat
"iya makasih" jawab ayu dingin
"put ikutan makan sini" kata vivi mengajak
"em enggak usah bekal itu bekal kalian aku enggak enak kalau ikut makan" jawab putri
"sudah tidak apa apa, ikutan makan sini masih banyak juga kok" jawab ayu
"iya put ikutan makan sini" ajak sinta
"baiklah" jawab putri
"ini coklat panas buat kamu" kata vivi memberikan segelas
"rud..?" panggilku
"apa..?" jawab rudi
"nanti balik ikutin pohon yang di ikat dengan akar ya" kataku memberi tahu
"memangnya kenapa..?" tanya rudi
"kamu kenapa rud kayak tidak mood gitu" tanya dewa
"oh enggak apa apa" jawab rudi dingin
"sudah enggak usah murung kamu rud, ini aku buatin kopi kesukaan kamu" kata ayu memberikan segelas kopi
seketika sikap rudi berubah dan moodnya balik
"mungkin pagi pagi sudah di cuwekin sama ayu jadi begitu" kata rendi
"eh makasih banyak ya ay" jawab rudi kesenengan
"nanti habis makan bagi tugas ya" kata rendi memberi tahu
"baiklah" jawab semua
"nanti beresin sisa makanan, membuat tandu sederhana, dan bongkar tenda sekalian berkemas" kata rendi melanjutkan
__ADS_1
setelah makan kami melakukan tugas yang sudah di beri tahu sama rendi agar bisa cepat cepat pulang dan untuk perjalanan pulang pemimpin kelompok berganti aku karena rudi tadi di kasih tahu tidak mau mendengar dan yang bawa tandu dan jenazah bergantian aku, rudi, rendi. dan dewa, setelah lumayan lama berjalan aku memutuskan untuk istirahat dan mengambil air di sungai kecil untuk persediaan air minum, setelah terasa cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan kami hingga tak terasa sudah hampir keluar dari hutan tapi saat melihat sekeliling putri, sinta, dewa, dan lutfi melihat nanang bengong, terdiam dan terlihat ketakutan, aku pun menyuruh dewa dan rendi untuk menghampiri nanang dan tidak memperbolehkan putri dan vivi terlalu dekat kepadanya karena mungkin bisa terulang kejadian kemari dan saat nanang menyadari dan melihat vivi dan putri dia langsung berlari ke arahnya dan terlihat memiliki niat jahat kepada putri dan vivi sontak di hentikan oleh dewa dan rendi, dari pada semakin rusuh akhirnya aku dan yang lain pergi dulu, rudi dan dewa menyusul dari belakang sambil memegangi nanang, setelah keluar dari hutan dan kami menuju tempat penitipan sepeda motor kami berpapasan dengan polisi hutan yang kebetulan sedang joging di jalan arah kami menuju penitipan kami langsung saja meminta bantuan pada polisi hutan tersebut karena kami semua mengendarai sepada motor dan polisi hutan itu juga mau membatu kami dengan suka rela, setelah vivi dan jenazah vika di naikan ke mobil polisi hutan itu aku menyuruh rudi dan ayu untuk mengabari keluarga vivi yang ada di rumah