Canda Berujung Asmara

Canda Berujung Asmara
Bab 1 Sapaan Pertama


__ADS_3

Ditemaram malam, Hani duduk terdiam diberanda rumah yang sudah hampir setengah tahun ia tempati untuk menggapai sebuah harapan yang selama ini ia idamkan. Ya. sepetak rumah kos yang ia tinggali bersama beberapa teman seperjuangan yang juga berambisi besar untuk mewujudkan cita-cita dimasa depan. Hani adalah gadis yang berasal dari desa datang menuju kota untuk menyelesaikan jenjang pendidikan di sebuah universitas.


Malam itu seperti biasanya Hani duduk diam dengan segala kegabutannya, bolak balik beranda Hp entah apa yang membuatnya nyaman akan hal itu. Disaat itulah muncul notifikasi dilayar handphone nya itu. Nomor asing tak dikenal menyapanya.


"(Hai)" begitulah kata yang tertera dilayar notif itu.


Dengan iseng pula Hani membalas sapaan tersebut. itung-itung buat nambah temanlah pikirnya.


"(Hai juga)" balas Hani.


"(Boleh kenalan gak? namaku Leo. nama kamu siapa?)". balas seseorang itu.


"(idih, belum juga diwajab boleh apa enggak udah sebut nama duluan) " balas Hani lagi dengan emoticon tertawa.


"(Hehe.. namanya juga usaha nambah teman siapa tau jodoh.. wkwkwk. Ya udah nama kamu siapa nih?)". tanya pria itu lagi.


"(Hani)".


"(Wowwww... belum juga kenalan udah manggil hani2an. sooosweettt)" balasan Leo membuat Hani tepuk jidat.

__ADS_1


"(Namaku Hani, bukan manggil kamu hani)" balasan dengan emoticon tangan terkepal pun melayang.


"(Hehe... kirain manggil hani tadi. Ya udah maaf ya. jadi kita resmi jadi teman nih)" canda pemuda itu.


"(Ya belumlah. Kamu pikir semudah itu jadi teman. harus ada tahapan dulu kali. ibarat mau ke lantai 20 nih ya, kan harus melaui banyak tangga dulu. Ya kali langsung terbang kesana)" ujar Hani.


"(Ya elaaaahh.. Zaman sekarang masih aja ribetin masalah tangga. tinggal pencet tombol aja udah sampai lantai 20)" sepertinya Leo tak mau kalah dengan Hani.


'Busyeeet nih anak, ada ada jawabnya' ucap Hani dalam hati.


"(Ya itu sih gak menikmati proses namanya, tinggal enak aja udah. Nggak ada perjuangan sama sekali. Hidup itu ya harus berproses dong)" jawab Hani tak kalah cerdik.


"(Okeee deal..)" jawab Hani.


Lalu percakapan diantara kedua insan tersebut berlanjut, pemuda asing diseberang sana ternyata mampu membuat kegalauan malam Hani berubah jadi senyum sumringah yang terpancar diwajahnya. Bak pungguk berhasil menggapai bulan, bak padang pasir tandus mendapat setitik siraman air yang membuat sejuk.


Begitu juga malam Hani, entah rasa apa yang muncul dikala itu, yang pasti malamnya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Pemuda asing yang mampu membuat hatinya nyaman itu adalah Leo. Pria mandiri yang hidup sebatang kara. Bukan tak mempunyai keluarga, tapi keadaan ekonomi lah yang membuatnya seperti itu.


Leo berusaha mengubah takdir hidupnya menjadi lebih baik dengan hidup diperantauan. Ia akan membuktikan kepada dunia bahwa ia bisa menjadi sosok yang dibanggakan keluarga. Ya. keluarga yang dengan tega menelantarkannya hanya karena alasan ekonomi.

__ADS_1


*****


Seuntai senyum dibibir Hani ternyata mencuri perhatian Pipit sahabatnya. Pipit melirik heran karena tak biasanya sahabatnya tersebut seperti itu.Tak bisa menahan rasa penasarannya akhirnya ia bertanya.


"kamu kenapa sih Han, dari tadi nyengar nyengir gak jelas, kesambet ya?" tanya Pipit tanpa basa-basi.


Mereka memang sudah terbiasa seperti itu di dalam kos. Bahasa yang kadang di anggap kasar oleh orang lain sering terlontar di dalam ruangan yang menjadi saksi bisu perjuangan para gadis dari berbagai daerah itu.


Tapi entah didengar atau tidak, pertanyaan Pipit sahabatnya itu hanya menjadi angin malam yang nompang lewat ditelinga Hani hingga membuat pipit kesal dan membiarkan Hani dengan kesibukannya.


"Mungkin otaknya mulai gak waras kali" ujarnya mengibur diri sambil beranjak ke kamarnya.


Sementara Hani masih dengan kesibukannya membalas pesan Leo. Bahkan sampai larut malam pun ia bahkan tidak menyadari itu, padahal besok ia harus pagi-pagi pergi ke kampus untuk mengikuti kelasnya.


*****


Dilain tempat, Leo juga ternyata merasakan hal serupa dengan Hani. Setelah lelah bekerja seharian dengan pikiran yang tak karuan, lelahnya sedikit terobati dengan cerocos canda gadis yang baru saja ia kenal itu. Leo juga tidak mengerti apa yang beda dari gadis itu, yang ia tahu pasti saat itu ia mulai merasa nyaman walaupun hanya melalui sebuah pesan dari Hani.


Leo merasa ada yang berbeda dari Hani, ia mulai merasakan ketulusan dalam kata-kata yang bahkan bisa dianggap kasar dari Hani, tapi Leo yakin kata-kata itu di ucapkan hanya untuk sebuah gurauan. Leo pun tak sungkan lagi untuk melayangkan berbagai candaaan dalam bahasa yang bisa menggelitik hati Hani.

__ADS_1


Sungguh, sapaan pertama malam itu mampu membuat hidup kedua insan itu sedikit berubah. Yang biasa hanya ada kata galau sekarang wajah mereka seolah bisa melukiskan sebuah senyuman dengan candaan yang tiada kenal waktu. Malam semakin larut, gemerlap cahaya bulan redup redam menghiasi warna baru dalam kehidupan Leo dan juga Hani.


__ADS_2