
Ibu segera mengambil kertas itu dari bu Rita dan mulai membacanya. Bisa ku lihat wajah ibu merah padam melihat isi dari surat itu.
"Apa-apaan ini, pak? kenapa bapak tega melakukan ini pada anak kita? dia itu darah daging kita pak, kenapa bapak tega membiarkan ia pergi dengan orang lain. Apa sebegitu matinya hatimu untuk memberi nafkah pada keluarga kita pak?" tanya ibu pada bapak yang masih terlihat santai.
"Mereka itu bukan orang lain, Maya. pak Heru dan bu Rita ini adalah teman lamaku. Jadi tidak perlu khawatir tentang kondisi anak kita saat bersama mereka. Kehidupan mewah sudah menanti disana" ujar bapak lagi.
"Tapi bagiku mereka adalah orang lain, pak. Dan aku ini tidak mau jika sampai anak-anakku terpisah dariku, pak. Tolong bukalah hatimu sedikit untuk melihat bahwa anak kita masih kecil, pak. Jangan korbankan perasaan anak kita demi uang, pak" ujar ibu masih berusaha menasehati.
Tapi bapak yang sudah berhati batu itu, sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan bapak. Sekarang kami sangat takut, siapa yang akan dibawa oleh pasangan suami istri itu.
"Jadi apakah kami bisa membawa anak itu sekarang? karena kami masih punya banyak pekerjaan" tanya wanita sombong yang berlagak kaya itu.
"Tidak bu Rita. Tolong jangan pisahkan aku dari anakku, Leo"
Duaarrr....
Duniaku seakan runtuh seketika mendengar ucapan ibu. Ternyata akulah yang sudah dijual oleh bapak kepada pasangan suami istri itu. Tapi kenapa harus aku? sebegitu tidak inginkah bapak padaku?
Air mataku mengalir deras, aku sangat sayang pada ibu dan bapak. Aku juga menyayangi semua saudaraku, tapi kenapa aku ingin dipisahkan dari mereka dan kenapa bapak tega padaku.
"Tidak bu, pak. Aku tidak mau pergi dan tidak mau jauh dari ibu. Aku janji tidak akan nakal, tapi biarkan aku tetap tinggal bersama ibu dan bapak" aku memohon pada bapak agar bapak membatalkan perjanjian itu.
Tapi bapak hanya diam saja, bapak tidak menggubris sedikitpun apa yang aku katakan. Ibu menangis sejadi-jadinya karena melihatku bersimpuh di kaki bapak. Aku sangat takut jika aku sampai jauh dari ibu dan bapak. Aku belum mengenal pasangan suami istri itu, dan wanita itu juga terlihat sangat sombong.
__ADS_1
"Ayo pa, kita berangkat sekarang," ajak wanita yang bernama bu Rita itu lagi.
"Ayo, nak. Ikut bersama kami, kau akan tinggal di rumah baru dan juga keluarga baru. Di sana banyak mainan, kau pasti akan betah disana," bujuk lelaki itu padaku.
Walaupun usiaku masih kecil, tapi aku tidak mau dibujuk dengan mainan begitu saja. Aku ingin tinggal bersama ibu dan juga semua keluargaku. Bukan tinggal bersama mereka.
"Tidak. Aku tidak mau, jangan bawa aku pergi. Aku ingin tinggak bersama ibu," ujarku memohon.
"Ayo pa, gendong saja. Nanti juga dia akan berhenti merengek kalau sudah melihat kondisi rumah kita" sahut bu Rita.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Pak Roki" pamit lelaki itu.
Bapak tersenyum lebar, ibu yang sedang meronta di dalam pegangan bapak menatapku dengan penuh rasa iba. Aku juga berada dalam gendongan lelaki itu, tubuhku terlalu kecil untuk melawan badannya yang besar dan tetap itu.
"Jangan bawa adikku..." kak Yola mengejar kami sambil menarik baju pria yang menggendongku. bu Rita menatap tidak suka pada kak Yola.
Tapi sama halnya denganku, kak Yola juga kalah tenaga dari orang-orang itu, tubuhnya yang gempal dengan mudah di tepis oleh bu Rita.
"Sana kau urus adikmu yang lain. Apa kau mau juga jika mereka aku bawa hah?" bentak wanita itu pada kak Yola.
Kak Yola menggeleng dengan cepat, dan segera berlari menghampiri saudaraku yang lain. Tapi kak Yola masih menatapku dengan bersimbah air mata.
Kak Yola sangat sayang pada kami semua. Jika ibu pergi ke pasar untuk berjualan sayur atau pergi ke ladang milik tetangga untuk bekerja, kak Yola lah yang mengurus kami semua. Kak Yola tidak pernah mengeluh untuk menjaga kami meski kak Yola selalu mengomeli kami jika kami nakal. Tapi kak Yola sangat tulus pada kamu adik-adiknya. Kak Yola tidak pernah makan sebelum memastikan kami semua mendapat makanan terlebih dahulu.
__ADS_1
Kak Yola juga sering bolos sekolah karena harus menjaga adik kami Dante yang masih kecil. Terkadang kami membantu menjaga Dante yang masih berumur 1 tahun jika kak Yola pergi ke sekolah. Tapi jika adik Dante rewel, maka kak Yola akan libur sekolah. Sedangkan ibu, sebelum hari terang, ibu sudah pergi ke pasar untuk berjualan sayuran. Nanti setelah sayuran itu habis, ibu akan pulang dan mencari pekerjaan tambahan dari tetangga kami.
Bapak hanya menghabiskan waktu di luar saja, entah apa yang dilakukan oleh bapak. Bapak tidak bekerja membantu ibu, tapi bapak juga sering memarahi ibu jika makanan tidak ada di rumah. Padahal ibu seharian sudah bekerja memenuhi kebutuhan kami semua, tapi bapak masih tega memarahi ibu.
Aku tersadar dari lamunan saat aku sudah dimasukkan ke dalam mobil mewah di halaman rumah kami. Jujur saja, aku dan semua saudaraku belum pernah naik mobil mewah seperti ini. Dan sekarang akulah yang pertama kali menaiki mobil mahal ini. Tapi aku sama sekali tidak senang, aku tidak mau naik mobil jika harus berjauhan dengan keluargaku.
Ibu masih meronta dan bapak memegang ibu dengan kuat. Ibu tidak bisa melawan bapak karena tenaga ibu kalah jauh dibandingkan bapak.
"Kembalikan anakku..." teriak ibu histeris.
Bapak menutup mulut ibu dan membentak ibu dengan keras.
"Diamlah Maya. Malu sama tetangga, kau sudah seperti orang gila, padahal Leo akan tinggal di rumah yang mewah mulai sekarang" bentak bapak.
Tetangga yang menyaksikan hanya diam saja. Mungkin saja mereka tidak mau ikut campur dengan urusan keluarga kami, karena bapakku adalah orang yang sangat kasar. Jadi tidak ada yang berani melawan bapak.
"Ayo cepat tutup pintunya, pa. Kita berangkat sekarang, daripada wanita stress itu membuat kita malu," ujar bu Rita.
"Ibuku bukan wanita stres. Kalianlah yang jahat karena sudah menjauhkan aku dari ibu" protesku.
Aku tidak terima jika mereka menghina ibuku. Walaupun usiaku masih kecil, tapi rasa ingin membela ibu sangat besar dalam diriku.
"Diamlah anak kecil. Jangan panggil dia ibu lagi karena sekarang kami ini adalah orang tuamu, dan kau tidak boleh lagi mengingat mereka, kami keluargamu sekarang karena bapakmu sudah menyerahkanmu pada kami" ujar wanita yang sombong itu.
__ADS_1
Aku sangat benci dengan bapak, kenapa bapak tega melakukan ini padaku. Dan kenapa bapak se begitu benci padaku, bukankah aku ini juga adalah anak kandungnya. Tapi bapak malah memberikan aku pada orang lain.
Bersambung.