Canda Berujung Asmara

Canda Berujung Asmara
Bab 3 Bapak Tega


__ADS_3

Ibu semakin terlihat penasaran apa yang akan dikatakan oleh bapak berjenggot itu, begitu juga dengan aku dan semua saudaraku. Kami semua menantikan lanjutan dari kata-kata pak Heru tersebut.


"Begini bu Maya, kami dan suami bu Maya sudah sepakat untuk memberikan keringanan bagi keluarga ini, karena tanggungan keluarga ini sangat banyak. Jadi kami ingin mengadopsi salah satu dari anak bu Maya dan pak Roki" jelas bapak itu.


Deg.


Jantungku seketika berdetak kencang karena mendengar perkataan dari pak Heru, ibu juga sangat syok mendengar hal itu. Kilat amarah terlihat jelas di wajah ibu.


"Apaa? bapak bilang apa barusan? apa saya tidak salah dengar?" tanya ibu bertubi-tubi.


"Tidak bu Maya, itu sudah kami putuskan bersama dengan suami bu Maya, pak Roki" jawab pria itu enteng.

__ADS_1


Ibu menatap bapak dengan tatapan minta penjelasan. Tapi bapak hanya diam saja dan malah terlihat sangat santai. Bagaimana bisa ada bapak seperti itu, terlihat tanpa beban sedikitpun disaat salah satu anaknya hendak dibawa pergi oleh orang asing.


"Pak. Apa maksud dari semua ini? jawab pak?" tanya ibu pada bapak yang hanya diam saja.


"Sudahlah buk. Pak Heru dan bu Rita hanya ingin membantu meringankan beban kita saja, apa salahnya sih buk salah satu anak kita tinggal bersama mereka. Bapak sudah lama kenal dengan pak Heru dan bu Rita, dan bapak sangat tau jika mereka adalah orang yang baik. Jadi ibu tidak perlu khawatir anak kita akan menderita, mereka ini belum di karuniai anak buk, kasihan mereka dan kita sudah memiliki banyak putra dan putri. Apa salahnya berbagi?" ujar bapak dengan santai.


Wajah ibu sudah semakin merah karena menahan amarah.


"Itu sebabnya aku ingin meringankan bebanmu Maya, karena aku lihat kau terlalu susah selama ini mencari makan untuk semua anak-anak ini. Apa salahnya kita membiarkan pak Heru dan bu Rita mengadopsi salah satu diantara mereka. Nanti juga kita tetap bisa menjenguknya jika kita kangen" ujar bapak bersikeras.


"Tidak pak, anak-anakku bukanlah barang yang mau diberikan begitu saja pada orang lain. Lagipula aku masih bisa mencukupi kebutuhan anak-anakku walaupun tanpa bantuanmu, pak. Kalau ingin mengadopsi anak kenapa tidak ke panti asuhan saja. Disana lebih banyak pilihan anak mana yang kalian sukai. Tapi jangan anak-anakku" ucap ibu histeris.

__ADS_1


Kami semua juga sangat ketakutan melihat ibu yang menangis histeris, ditambah lagi kami sangat takut mendengar pasangan suami istri itu akan membawa salah satu di antara kami. Entah siapa yang akan mereka pilih, tapi satu hal yang pasti. Tidak akan ada yang mau ikut bersama dengan pasangan suami istri kaya raya itu.


"Tapi ini sudah menjadi keputusan kami dengan suami ibuk, dan kami sudah membuat perjanjian. Jika kalian melanggar maka kalian harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi" ancam wanita yang ingin menjauhkan kami dari ibu itu.


"Apapun konsekuensi akan saya terima asalkan anak-anak saya tidak dibawa pergi" balas ibu dengan berani.


"Tapi sayangnya suami ibu sudah menandatangani surat perjanjian dengan kami dan itu tidak akan bisa batal begitu saja" sahut wanita itu lagi.


"Perjanjian apa yang telah kalian buat tanpa sepengetahuanku hah? dan anakku yang mana yang telah kalian perjual-belikan? dan kau pak, kau sungguh bapak yang sangat tega. Kau adalah bapak terkejam di dunia" ujar ibu masih histeris.


Wanita itu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada ibu. Ibu segera merebut kertas itu dan membaca isinya. Air mata ibu mengucur semakin deras sewaktu membaca surat itu. Kilat amarah juga semakin besar di wajah ibu. Apa sesungguhnya isi surat itu?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2