
Leo memutar bola malas mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari sahabatnya itu. Tapi ia memang belum menceritakan tentang perkenalannya dengan Hani, biasanya kalau ada masalah atau hal yang penting Leo selalu menceritakan semuanya kepada Daniel.
"Woy, jawab dong! Malah bengong." Daniel mengejutkan Leo lagi.
"Astaga, Niel. Sepertinya lo punya hobi baru, ya! Hobi mengejutkan orang," ucap Leo terlihat kesal.
"Salah sendiri, kenapa lo malah bengong saat gue tanya," sahut Daniel.
"Ya kan lagi proses, Bro. Pasti akan gue ceritain semuanya sama lo. Sabar dikit, Bos!" jawab Leo.
"Jadi dimana lo ketemu cewek itu, Bro? Lo yakin dia cewek baik-baik?" tanya Daniel.
Ia memang selalu mencemaskan kondisi sahabatnya itu saat Leo berkenalan dengan seorang wanita, karena peristiwa yang dialami Leo sangat buruk terakhir kalinya bersama wanita, maka Daniel selalu memperingatkan Leo kalau ia sedang dekat dengan seorang wanita lagi. Leo juga selalu meminta pendapat Daniel tentang wanita yang ia ajak berkenalan, walaupun keputusannya tetap ada di tangan Leo, tapi setidaknya ia meminta pendapat kepada sahabatnya itu.
"Gue belum pernah ketemu sama Hani, Bro!" sahut Leo.
"Hani?"
"Ya! Namanya Hani," jawab Leo.
"Hmm nama yang bagus. Bisa gue tebak kalau orangnya imut dan sederhana," ucap Daniel sok tau.
"Sotoy lo, Niel. Gue aja belum pernah ketemu sama dia," Leo berujar kesal.
"Ya udah temui, Bro. Tunggu apa lagi? Nunggu lo bangkotan dulu ngejomblo?" tanya Daniel dengan nada mengejek.
"Gue sedang menunggu waktu yang tepat, Bro. Lagian Hani juga bukan cewek sembarangan yang mau di ajak ketemuan begitu saja, kami juga gak pernah membahas itu saat chatingan," jawab Leo membuat Daniel memijit pelipis.
"Astaga, Leo. Manusia terbuat dari apa sih, Lo? Zaman sekarang masih aja takut ketemu ama cewek. Pantas aja lo jomblo terus, ya pepet dong, jangan kasih kendor! Pokoknya gue siap kawal sampai halal!" ucap Daniel dengan semangat.
"Hm mulai lebay nih pak penghulu, gue aja belum kepikiran kesana. Iya kalau Hani mau diajak ketemu, kalau enggak gimana dong, Bro?" tanya Leo sedikit cemas.
__ADS_1
"Ya lo harus cari cara lain biar tuh cewek mau ketemu ama lo! Buat dia terkesan sama lo! Buktikan kalau lo benar-benar ingin mengenalnya lebih jauh!" jawab Daniel memberikan saran.
"Benar juga sih, Bro. Lo emang ahli dalam memberikan ide untuk mendekati cewek, gue salut ama lo," ucap Leo.
"Kecil kalau masalah itu, Bro. Yang penting lo bisa bahagia dengan cewek yang lo suka, maka gue juga akan ikut bahagia sebagai sahabat lo," balas Daniel.
Obrolan kedua sahabat itu berlanjut, setelah puas berbincang, Daniel pamit pulang dari mess tempat tinggal Leo.
Ya! Leo tinggal di sebuah mess atau tempat tinggal khusus karyawan laki-laki yang disediakan oleh perusahaan untuk mereka. Semenjak Leo memutuskan untuk pergi dari rumah bu Rita dan pak Heru, ia mencari pekerjaan yang cocok dengan keahliannya.
Beruntung Leo bisa menemukan pekerjaan yang cocok, sekaligus yang mempunyai tempat tinggal khusus untuk para lelaki. Jadi Leo tidak perlu repot lagi untuk mencari tempat tinggal, selain untuk menghemat biaya, Leo juga bisa berkenalan dengan para karyawan lainnya yang satu mess dengannya.
Berbeda dengan pertemanannya dengan Daniel, mereka berkenalan pada saat pertama kali masuk bekerja karena mereka sama-sama karyawan baru waktu itu. Tapi Daniel tidak tinggal di mess karena ia sudah menikah dan Daniel memilih tinggal di kontrakan bersama istri dan juga anaknya yang masih berusia 1 tahun.
Daniel sering berkunjung ke mess tempat tinggal Leo dan juga teman-temannya untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain juga. Keadaan itu berlangsung hingga sekarang.
*****
Tring.
Sebuah notifikasi pesan masuk membuat Leo mengurungkan untuk memejamkan matanya.
"[Masih hidup, Lo?]" tanya Hani di pesan itu.
"[Menurut, Lo?]" balas Leo sedikit cuek.
Padahal yang terjadi sebenarnya ia sangat senang karena Hani menghubunginya duluan, itu artinya gadis itu tidak melupakan dirinya setelah seharian mereka melakukan aktivitas masing-masing.
"[Gue kira udah almarhum. Abis seharian lo kayak mati suri, gak ada kabar!]" balas Hani dari seberang.
"[Ciee, kangen ya?]" balas Leo sambil menahan senyuman bahagianya. Rasa lelahnya sudah sirna saat ia chatingan dengan Hani.
__ADS_1
"[Apaan sih, Lo! Ga jelas banget,]" Hani berkilah. Padahal ia memang sedang merindukan gurauan dari pemuda yang sudah beberapa waktu kenal dengannya.
"[Ngaku aja napa sih? Pakai acara malu-malu meong segala! Kalau kangen, gue datang nih kesana!]" goda Leo lagi.
"[Idih, apaan! Hari sudah malam, Boy. Di kosan gue mana terima tamu malam-malam. Yang ada mak Surti ngusir gue entar,]" balas Hani.
Di kosan tempat mereka tinggal memang tidak menerima tamu selepas Maghrib, apalagi yang datang datang bertamu itu lawan jenis mereka. Mak Surti, pemilik kos menerapkan aturan itu untuk mendisiplinkan anak kosnya.
"[Berarti kalau siang boleh dong main kesana?]" tanya Leo membuat Hani salah tingkah sendiri.
"[Ya gak gitu juga. Kan kita belum kenal lama,]" balas Hani.
"[Makanya gue kesana, biar kita bisa kenalan lebih jauh. Sapa tau jodoh! wkwkwk,]" balas Leo dengan emoticon tertawa.
"[Jodohku musuhku dong! Kita kan udah janji buat jadi musuh sejati!"] canda Hani mengingatkan gurauan mereka saat dulu pertama kali berkenalan.
"[Ya bagus, dong! Itu namanya canda berujung asmara!]" balas Leo dengan hati berdebar mengetik kata asmara.
"Huu, Dasar lu ya. Ga jelas, sumpah!]" Hani gak tau lagi harus membalas apa, hatinya sama berdebarnya dengan Leo ketika membaca kata asmara itu.
"Makanya diperjelas dong, Hani body sweety!]" balas Leo semakin membuat Hani bersemu merah.
Pipit lagi-lagi heran melihat teman sekamarnya itu senyum-senyum sendiri, tapi Pipit tidak menegur kali ini. Terakhir kali ia bertanya pada Hani, hanya dianggap angin lalu oleh Hani saking asyik berbalas pesan dengan Leo.
"Btw, lo udah makan malam?" tanya Hani mengalihkan pembicaraan.
Ia tidak sanggup jika harus membahas tentang asmara lagi disaat hatinya berdebar tidak karuan, tapi tidak membalas pesan Leo juga tidak mungkin, ia masih nyaman mengobrol bersama pria itu.
"Tadi udah makan gorengan dibawakan oleh teman. Lo udah makan?" tanya Leo membuat Hani merasa tersanjung karena diperhatikan seperti itu.
Perhatian yang belum pernah ia rasakan dari seorang lelaki sepanjang hidupnya. Seorang ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama sekaligus memberi kasih sayang yang utuh padanya malah harus terlebih dahulu pergi jauh dan tidak akan bisa kembali lagi. Hani tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memanggil "Ayah".
__ADS_1
Bersambung.