Canda Berujung Asmara

Canda Berujung Asmara
Bab 10 Rencana Bertemu


__ADS_3

Dering ponsel membuyarkan lamunan Hani tentang masa kecilnya yang penuh liku-liku dan juga penuh kerinduan kepada sosok ayahnya, tapi semua kasih sayang penuh selalu bisa didapatkan oleh Hani dari ibunya. Ibunya tidak pernah membiarkan Hani kesepian, ibunya selalu mempunyai berbagai macam cara untuk membuat Hani melupakan sejenak kerinduan kepada sosok ayahnya.


"[Di read doang, Astoge!]" pesan masuk dari Leo datang setelah ponsel Hani berdering.


"[Ya, Maaf! Tadi aku lagi ke toilet bentar, udah kangen aja!]" balas Hani meledek.


"[Siapa juga yang kangen? Gue cuma mastiin lo gak kesambet!]" balas Leo.


Percakapan pun kembali berlangsung di antara mereka hingga hampir larut malam.


"[Gimana jadinya? Besok kita bisa ketemu?]" tanya Leo dengan penuh harap, tangannya sebenarnya gemetar saat mengetik kalimat itu, takut Hani akan menolak.


Leo dag dig dug menunggu balasan dari Hani. 


"[Boleh! Kebetulan besok juga malam minggu, khusus malam minggu boleh berkunjung sampai jam 9 malam di kosan kami!]" balas Hani membuat Leo melambung tinggi saking bahagia mendengar hal itu. 


Akhirnya setelah sekian lama, ia besok akan bertemu dengan sosok wanita yang sudah mampu menggetarkan jiwanya itu. Leo tidak sabar untuk menunggu besok malam, putaran waktu sangat lambat terasa baginya.

__ADS_1


"[Oke! Besok setelah Maghrib gue kesana, lo mau dibawain apa besok?]" tanya Leo, ia ingin membuat pertemuan pertama mereka berkesan dan penuh kenangan.


"[Gak usah bawa apa-apa! Tapi kalau maksa martabak keju juga boleh!]" balas Hani bergurau.


Tapi bagi Leo, itu adalah informasi yang sangat penting. Besok ia akan mencari martabak keju paling lezat untuk dibawa ke tempat kosan Hani.


*****


"Woyy, Bangun! Bangun! Makanya jangan begadang terus, hari ini lo ada kelas pagi, kan?" omel Pipit pada Hani yang masih betah bergelumun dalam selimut, mimpinya masih terasa hangat dan nyaman.


"Ayo bangun, Han! Udah jam setengah delapan lewat noh. Lo kuliah jam 8 pagi ini kan?" Pipit kembali menarik selimut Hani.


"APA? JAM SETENGAH DELAPAN LEWAT, MBAK? Aduh, aku bisa telat nih, Mbak! Mana dosennya pagi ini Pak Januar, pasti gue di omelin nanti!" Hani mencerocos tanpa henti, Pipit menatap sambil berkacak pinggang.


"Siapa suruh tidur kayak kebo! Udah dari subuh gue bangunin, lo bentar bentar mulu!" ucap Pipit kesal.


"Hehe, maaf, Mbak Cantik! Makasih ya udah selalu perhatian ama Inces!" ucap Hani lebay, Pipit berekspresi mual melihat tingkah Hani.

__ADS_1


"Ya udah sana cepat mandi! Ngapain masih bengong disini?" tegur Pipit lagi melihat sahabatnya itu masih belum mau bergerak.


"Iya, Mbak e! Ini juga udah mau mandi, marah-marah mulu deh. Entar cepat ubanan!" ledek Hani sambil berlari ke kamar mandi, jika tidak maka Pipit tidak akan mengampuninya. 


Pipit mendelik sebal ke arah Hani, ia sudah menganggap Hani sebagai adiknya, usia mereka juga hanya terpaut 1 tahun. Hani dan Pipit sudah bersahabat sejak Hani tinggal bersama mereka di kosan itu 2 tahun yang lalu. Di antara penghuni kos itu, Hani dan Pipit lah yang paling akrab.


"Aku berangkat dulu, Mbak! Mbak Pit kuliah jam berapa?" tanya Hani melihat Pipit masih santai sambil menonton berita selebritis.


Fasilitas di kosan mereka memang lumayan lengkap, pemilik kos itu juga ikut tinggal bersama mereka. Mak Surti yang saat ini hanya hidup sebatang kara, karena anak-anaknya memilih hidup merantau. Sedangkan suami Mak Surti, sudah meninggal 3 tahun yang lalu.


Mak Surti hanya ditemani oleh anak-anak kos setiap hari, Mak Surti juga orang yang tidak perhitungan, namun sikap tegasnya membuat anak-anak kos segan padanya.


"Gue kuliah jam 10, Han! Pagi ini mau kelarin tugas makalah dulu!" jawab Pipit, sambil mengunyah kacang goreng kesukaannya.


"Masih bisa santai ngemil kacang tuh, Mbak! Kalau gitu aku duluan, Mbak!" pamit Hani.


"Ehh, Tunggu sebentar, Hani!" cegah seseorang menghentikan langkah Hani.

__ADS_1


__ADS_2