Canda Berujung Asmara

Canda Berujung Asmara
Bab 6 Namaku LEO GAVIAN!


__ADS_3

Aku menatap pak Heru dengan penuh harap karena tadi dia mengatakan bahwa ia akan mengabulkan semua permintaanku dan keinginanku saat ini itu hanya satu yaitu ingin kembali ke rumah orang tuaku walaupun nantinya bapak pasti akan memarahi diriku habis-habisan tapi setidaknya di sana ada ibu dan juga saudara-saudaraku yang lain yang bisa membuatku nyaman dan juga merasa terhibur.


"Maaf, Nak. Tapi kalau untuk permintaan yang satu itu bapak tidak bisa mengabulkannya karena kau sudah menjadi anak kami sekarang dan selamanya kau akan tinggal bersama kami sesuai perjanjian antara kami dan juga ayahmu. Tapi kalau kau meminta hal lain, pasti papa akan mengabulkannya sekarang juga. Katakan saja apa yang kau inginkan selain pulang ke rumah orang tuamu?" tanya pak Heru.


Pupus sudah harapanku mendengar jawaban dari pak Heru. Berarti sampai kapanpun aku tidak akan bisa lagi tinggal bersama ibu. Bapak Sungguh Tega memberikanku kepada orang ini tanpa memikirkan sedikitpun perasaanku yang tidak nyaman tinggal bersama orang asing mulai dari itu aku semakin membenci bapak karena Bapak bukan hanya membedakan kasih sayang antara aku dengan saudaraku yang lain, tapi bapak juga tega membiarkanku pergi dan hidup bersama orang lain.


"Tidak, Pak. Aku tidak butuh apapun lagi sekarang. Aku mengantuk, bolehkah aku tidur?" tanyaku mengalihkan pembicaraan demi menyembunyikan rasa kecewaku.


Aku tidak bisa menyalahkan pak Heru karena pak Heru dan juga istrinya tidak akan melakukan ini jika bapak tidak menyetujuinya. Kalau bapak menyayangiku pasti bapak tidak akan pernah melakukan perjanjian atau memberikanku kepada orang lain. Aku memang tidak tahu apa isi perjanjian itu karena waktu itu usiaku memang masih sangat kecil dan belum bisa membaca, tapi aku bisa melihat dari ekspresi ibu saat membaca isi dari perjanjian itu yang mengisyaratkan bahwa ibu tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakanku tinggal bersama pak Heru dan juga bu Rita. 


"Baiklah, Nak. Kalau begitu sekarang istirahatlah di kamarmu. Kalau kau butuh sesuatu panggil saja papa di kamar atau minta bantuan bi Inah di dapur," ucap pak Heru.


Aku mengangguk menanggapi ucapan pak Heru. Setelah itu pak Heru pergi ke kamarnya dan aku pun masuk ke dalam kamar yang besar dan juga mewah itu. Kamar yang besar dan mewah itu terasa sangat sepi dan juga kosong karena aku tidak tahu harus berbuat apa sendirian di sini. Jujur saja aku sangat jarang yang namanya tidur siang karena aku lebih suka bermain dengan kakak-kakak dan juga adikku atau teman-teman kami yang lain, dibandingkan tidur siang seperti ini. Tapi di rumah mewah ini aku tidak tahu harus berbuat apa dan juga harus berbicara dengan siapa. 


Tok. 


Tok. 


Tok. 


Pintu kamarku kembali diketuk saat aku baru saja membaringkan tubuh di kasur empuk yang ada di kamar itu, dengan malas aku kembali berdiri untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Rasanya sangat malas sekali jika yang datang itu adalah bu Rita karena aku tidak suka sikap sinisnya itu dan juga perkataannya yang kasar.

__ADS_1


Ternyata dugaanku salah, yang datang bukanlah bu Rita tapi seorang wanita paruh baya yang pakaiannya sangat sederhana seperti yang selalu ibu kenakan setiap hari.


"Maaf mengganggu, Den. Bibi hanya ingin melihat keadaan aden. Apa aden butuh sesuatu?" tanya wanita paruh baya itu.


Dia juga memanggilku dengan panggilan aneh, mungkin dia belum tau namaku.


"Bibi ini siapa? Namaku bukan Aden, tapi Leo," ujarku.


"Hehe maaf, Den Leo" sahutnya.


"Namaku Leo Gavian, bukan Aden Leo," protesku lagi.


"Baik, Den Leo Gavian," ujarnya lagi membuatku semakin kesal.


"Astaga anak ini, aden itu kan panggilan hormat pada anak majikan. Dasar kolot, kampungan banget," ucap bu Rita yang sudah datang dengan wajah kesal.


Sedangkan bibi yang tadi memanggilku aden hanya diam menunduk seperti orang yang ketakutan. Mana ku tahu kalau aden itu adalah panggilan untuk anak majikan. Selama ini aku tidak pernah mendengar orang memanggil yang lain dengan sebutan aden, tapi orang-orang selalu memanggil dengan nama yang diberikan kepadanya.


"Maaf, Buk. Aku tidak tau," ujarku takut-takut.


"Lagian bukannya tidur, kau malah berdebat dengan bi Inah. Dasar pembangkang!" omel bu Rita lagi.

__ADS_1


"Ada apa sih, Ma? Kok ribut-ribut begini, suara mama sampai terdengar ke kamar lo," pak Heru juga sudah datang.


Aku merasa sedikit lega karena aku tidak hanya berhadapan dengan bu Rita sekarang.


"Ini, Pah. Anak ini terlalu kampungan, masa panggilan aden saja dia tidak tau, Pa. Gimana nanti kita akan mengenalkan dia kepada keluarga besar kita, pasti dia akan membuat kita malu," ujar bu Rita terlihat kesal.


"Sudahla, Ma. Leo kan juga baru datang ke rumah ini dan dia belum tahu bagaimana cara bersikap dan juga panggilan sehari-hari di rumah ini. Biarkan dia belajar dan memahami semuanya secara pelan-pelan. Papa yakin sebentar lagi Leo akan paham semua tata cara yang diterapkan di dalam keluarga kita, karena Leo adalah anak yang pintar. Jika mama terus memarahi dan mengomelinya, Leo tidak akan betah tinggal bersama kita. Ingat, Ma! Leo adalah anak kita sekarang," ucap pak Heru memperingatkan bu Rita.


"Ck. Tapi mama sangat kesal melihat sikap kolotnya itu, Pah. Bi Inah juga tidak menjelaskan pada anak ini," bu Rita sekarang gantian mengomeli bi Inah.


"Maaf, Nya. Tadi bibi baru mau menjelaskan pada den Leo, tapi nyonya sudah datang duluan," sahut bi Inah.


"Oh jadi kamu menyalahkan saya sekarang?" tanya bu Rita dengan tatapan kesal. 


"Bu-bukan, Nya. Bukan itu maksud saya, Nya" jawab bi Inah gagap.


"Sudah, Ma sudah. Ayo kita kembali ke kamar, biarkan Leo istirahat. Tadi papa yang menyuruh bi Inah untuk melihat keadaan Leo di kamar, barangkali Leo butuh sesuatu dan Leo masih segan atau malu mengatakan pada kita," jelas pak Heru.


"Ck, ya sudah terserah papa saja. Mama capek dan mau istirahat sekarang. Urus saja anak ini agar dia tidak membuat kita malu saat acara pertemuan keluarga nanti," ucap bu Rita. Setelah itu dia berlalu dari hadapan kami. 


"Jangan diambil hati perkataan mama Rita, Nak. Dia galak tapi hatinya sangat baik, sebentar lagi pasti Leo akan betah bermain dan bergurau dengan mama Rita," ujar pak Heru.

__ADS_1


Aku hanya bisa mengangguk, aku tidak tau harus berkata apa. Aku juga tidak tau apakah aku akan betah seperti yang dikatakan pak Heru tadi.


Bersambung.


__ADS_2