
Hani kembali menghentikan langkahnya ketika seseorang memanggilnya dari belakang, Hani kembali menoleh dan melihat bahwa Mak Surti, pemilik kosnya sedang berlari ke arahnya.
"Ada apa, Mak? Apa ada yang bisa aku bantu, Mak?" tanya Hani dengan sopan.
Mak Surti sudah menganggap anak-anak kosnya sebagai anaknya sendiri dan terkadang juga ia sering memasakkan makanan untuk mereka semua dan mereka juga sering makan bersama. Mak Surti menganggap semua anak kosnya itu sebagai teman dan juga sebagai tempat ia bercerita, jika ia sedang mengalami sesuatu ataupun jika ia sedang merindukan anak-anaknya.
Mereka semua menjadi pengobat rindu dan pelipur lara baginya. Mak Surti juga sangat sayang kepada Hani, karena Hani selalu mendengarkan semua cerita Mak Surti, dan selalu memberikan solusi kepadanya.
"Tidak, Nak! Ini Mak ada sedikit makanan untukmu! tadi pagi Mak sengaja memasak banyak untuk kita semua dan ternyata kau ada kelas pagi ini. Tadinya Mak ingin kita sarapan bersama pagi ini, tapi karena kau harus kuliah, Mak membungkuskan makanan untukmu saja!" jawab Mak Surti.
"Terima kasih banyak, Mak! Aku memang belum sempat sarapan karena tadi bangun kesiangan. Sekarang juga buru-buru ke kampus karena sebentar lagi kelasku akan dimulai. Untung saja Mak menyiapkan bekal ini dan aku juga bisa makan setelah kelas nanti berakhir. Terima kasih, Mak!" jawab Hani dengan bahagia sambil menerima bungkusan makanan dari Mak Surti.
__ADS_1
Ia selalu menganggap Mak Surti sebagai ibu kedua baginya, karena semenjak ia tinggal di kos itu untuk pertama kalinya saat ia menginjakkan kaki di kota asing itu dulu, maka tujuan utamanya yaitu mencari kos-kosan yang harganya terjangkau dengan biaya yang diberikan oleh ibunya dari kampung.
Untung saja saat itu Hani bertemu dengan Mak Surti saat Mak Surti sedang berbelanja di pasar. Bis yang dinaiki Hani kebetulan turun di dekat pasar, jadi Hani waktu itu memutuskan untuk mencari makanan di pasar dulu sebelum ia mencari kos-kosan.
Beruntung saat itu ia bertemu dengan Mak Surti yang sedang kerepotan untuk membawa barang belanjaannya yang cukup banyak. Dengan senang hati Hani membantu Mak Surti untuk mengangkat semua barang belanjaannya itu ke atas angkot yang akan ditumpang oleh Mak Surti untuk pulang.
Setelah berbincang-bincang, ternyata Mak Surti mempunyai kos-kosan khusus untuk mahasiswi dan juga di sana tinggal beberapa orang mahasiswi bersamanya. Seperti sudah berjodoh dan sudah ditakdirkan untuk bertemu, akhirnya Hani tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari tempat tinggal di kota asing itu.
Di kosan itu juga Hani bertemu dengan Pipit. Saat Hani belum mengetahui apapun tentang kota asing itu, ia selalu dibantu oleh Pipit. Mulai saat itu mereka bersahabat, sampai sekarang persahabatan itu masih terjalin erat. Mereka berdua sudah seperti saudara yang dipertemukan di perantauan, bahkan mereka juga sering sekali berbagi makanan ataupun uang jika salah satunya belum mendapat kiriman dari orang tuanya.
Semua itu dilakukan oleh Hani dan juga Pipit demi cita-cita mereka bisa tercapai. Mak Surti juga punya andil yang besar dalam mewujudkan impian dari anak-anak kosnya yang datang dari berbagai daerah itu.
__ADS_1
"Hei, kok malah bengong, Nak? Katanya ada kelas pagi!" tegur Mak Surti pada Hani.
"Eh Iya, Mak! Kalau begitu aku pamit dulu, Mak!" jawab Hani, jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang sepuluh, Hani hanya punya waktu sepuluh menit untuk ke kampus.
"Sesekali telat apa salahnya, Han!" gurau Pipit dari dalam.
"Ngeri, Mbak! Dosenku yang satu ini gak bisa diajak bercanda dan tidak ada nego!" jawab Hani sambil berlari agar ia segera sampai di kampus sebelum dosen galak itu datang duluan ke kelasnya.
Ting.
Nong.
__ADS_1
Jam delapan kurang semenit, Hani memasang jurus langkah seribu menuju kelas. Nafasnya sudah sesak karena berlari dari kos. Makanan yang dibungkus Mak Surti pun menjerit karena merasa terguncang saking Hani terburu-buru.