Canda Berujung Asmara

Canda Berujung Asmara
Bab 2 Rasa apa ini?


__ADS_3

Pov Leo


Namaku Leo. Aku adalah seorang perantauan yang dipaksa untuk hidup mandiri. dari kecil bisa dikatakan tidak pernah merasakan namanya kasih sayang keluarga. Orang tua yang seharusnya memberikan perlindungan dan didikan dengan penuh cinta dengan teganya membuangku seolah aku ini sampah yang menjijikkan.


Masih jelas ku ingat waktu masih berumur enam tahun. Awal mula hidupku menjadi seperti sekarang. Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku, karena dengan kejadian itu aku jadi dihadapkan dengan perjalanan hidup yang berliku.


FLASHBACK ON.


Saat itu aku dan kelima saudaraku sedang asyik bermain dihalaman rumah, lalu datanglah sebuah mobil mewah dan berhenti tepat dihadapan kami. Aku dan kelima saudaraku terkejut karena yang keluar dari mobil itu salah satunya adalah bapak.


Kami sontak berlari mengejar bapak yang baru keluar dari mobil di iringi dua orang lainnya. Sepasang suami istri yang tidak ku kenal. Mendengar suara mobil yang datang ibu yang sedang sibuk memasak pun sudah ikut keluar melihat siapa yang datang bertamu.


Sama halnya denganku dan kelima saudaraku, ibu juga masih bengong dan menyerngitkan dahi melihat siapa yang datang bersama bapak.


"Silahkan masuk pak Heru, bu Rita. Buk, ayo dong persilahkan tamunya masuk, kok malah bengong" ucap bapak membuyarkan lamunan ibu yang sedang bengong.


"Ehh maaf pak, bu. Mari silahkan masuk" jawab ibu mempersilahkan tamu yang tidak dikenal itu.


Bapak pun mengiring kedua tamu itu kerumah dengan senyum sumringah, senyum yang bahkan sangat jarang sekali kulihat selama ini.


"Silahkan bu, pak duduk dulu. Maaf keadaan rumah kami hanya seperti ini" ucap ibu sambil mengembangkan tikar pandan yang sudah setengah lusuh.

__ADS_1


Beginilah kondisi rumah kami, jangankan kursi, tikar pandan yang kami punya pun tikar yang dibawa ibu dari kampung. Nenek lah yang menganyamnya.


Setelah tamu itu duduk, ibu permisi ke ke dapur dan tidak lama sudah kembali dengan membawa tiga gelas teh hangat.


"Silahkan di minum dulu pak, bu, seadanya saja" ucap ibu lagi sambil meletakkan gelas di hadapan tamu itu.


"Wah.. Jangan repot-repot bu Maya, kami kesini hanya untuk silaturahmi saja kok" Jawab wanita yang bernama Rita tersebut.


Bisa kulihat dengan jelas caranya memandang minuman yang ibu bawa dengan tatapan jijik. Tapi senyuman masih mengembang dibibirnya, walaupun ku lihat itu adalah senyuman keterpaksaan.


"Benar yang dikatakan istriku bu Maya, gak usah repot-repot," kali ini yang berkata adalah suami wanita itu. Ia tersenyum dan menyikut pelan tangan istrinya yang sedang menatap teh sederhana buatan ibuku itu.


"Maaf ya, bu Rita. Kami tidak punya kipas angin di rumah ini. Jadi kalau bu Rita kepanasan, jendelanya bisa kita buka" usul bapak masih dengan nada ramah.


Tapi wanita itu malah menatap tidak suka pada bapak. Bapak merunduk sudah seperti dimarahi guru matematika saja, entah apa yang terjadi pada bapak?


"Jadi bagaimana dengan perjanjian kita, pak Roki? saya rasa tidak perlu berlama-lama lagi basa-basi nya karena kami juga masih punya banyak pekerjaan setelah ini" ujar wanita itu lagi pada bapak.


Meskipun suaminya sudah berkali-kali memberikan kode kepadanya tapi tetap saja wanita itu berbicara sesuka hati. Aku semakin tertarik dengan percakapan itu, apalagi bapak yang kelihatannya sangat takut dengan wanita berpakaian mewah itu.


"Kenapa sih, Pa? memangnya apa yang salah dengan pertanyaanku. Bukankah kita kesini memang ada tujuan tertentu, jadi tidak perlu banyak basa-basi, apalagi sampai ingin membuka jendela karena suasana gerah. Nanti yang ada tetangga malah kepo dengan pembicaraan kita dong, pa. Makanya langsung ke inti pembicaraan saja" ujar wanita itu lagi ketika suaminya menegur lewat kode.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya bapak, ibuk. Tapi saya belum paham arah pembicaraan bapak dan ibu dari tadi. Saya juga baru melihat bapak dan ibu ada di desa ini, apakah bapak dan ibu warga yang baru pindah?" tanya ibu ikut bersuara.


"Oh bukan, bu. Kami ini adalah teman lama pak Roki, suami bu Maya. Kami kesini mau silaturahmi dengan teman lama sekalian mengunjungi anak-anak" jawab suami dari wanita itu.


Entah kapan mereka pernah mengunjungi kami sebelumnya dan sekarang malah mengatakan ingin mengunjungi kami. Bapak berjenggot tipis itu sangat membingungkan menurutku.


"Baiklah kalau begitu pak. Tapi tadi saya dengar, ibu Rita bilang kalau kalian kemari ada tujuan tertentu. Kalau boleh tau tujuan apa yang dimaksud, pak?" tanya ibuku dengan sopan dan lembut.


Ibu memang selalu bicara lembut seperti itu pada semua orang walaupun bapak sering berkata kasar pada ibu. Terkadang ingin rasanya aku melempar bapak dengan sendal jepit kebanggaanku yang sudah beberapa kali di jahit oleh ibu karena sudah sering putus. Tapi usiaku masih terlalu kecil untuk melawan bapak, ibu juga selalu menasehati kami agar tidak melawan bapak selagi bapak tidak melakukan kekerasan pada kami.


Tapi sikap bapak yang kasar pada ibu terkadang membuatku ingin melupakan usiaku dan segera membalas perbuatan bapak itu. Suatu hari nanti setelah aku dewasa, aku pasti tidak akan membiarkan ibu disakiti oleh bapak lagi.


"Begini bu Maya. Sebenarnya kami sudah mendengar semua cerita hidup bu Maya dan keluarga di desa ini. Pak Roki sudah menceritakan semuanya kepada kami sebagai teman lama. Dan sebagai seorang teman, kami sangat tergugah ingin membantu keluarga ini keluar dari kesulitan. Itu sebabnya kami membuat kesepakatan dengan pak Roki" terang bapak berjenggot tipis itu lagi.


Ibu tampai masih menunggu perkataan dari pria itu selanjutnya, sementara bapak terlihat santai saja dan tidak menampakkan kecemasan apapun. Justru bapak terlihat sangat bahagia dan wajahnya sangat cerah hari ini.


"Maaf sebelumnya pak Heru, bu Rita. Tapi saya benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Bisa bapak jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan kesepakatan apa yang telah bapak dan ibu lakukan bersama suami saya tanpa melibatkan saya? jika ini menyangkut hidup saya dan anak-anak saya, tentu saya harus mengetahui segalanya dengan jelas. Sekarang bapak bisa jelaskan apa yang sedang terjadi sebenarnya?" tanya ibu lagi mulai terlihat kesal.


Bapak mendelik tidak suka karena ibu berkata seperti itu. Laki-laki itu tampak mengatur nafas dulu sebelum melanjutkan pembicaraan. Aku dan semua yang hadir di ruangan itu tidak sabar pmenunggu kelanjutan ucapan dari pak Heru.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2