
Dari kecil, Hani memang tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang seorang ayah, karena sejak ia masih dalam kandungan ibunya selama 6 bulan ayahnya harus pergi meninggalkan mereka di dunia ini mengarungi hidup dengan penuh liku-liku tanpa kehadiran sosok pelindung untuk mereka lagi.
Waktu kecil, Hani selalu bertanya kepada ibunya bagaimana sosok ayahnya itu sewaktu masih hidup? Apakah sama dengan sosok ayah dari teman-temannya yang selalu menemani mereka di waktu senggang untuk bermain? Ibunya selalu berderaian air mata ketika Hani menanyakan tentang pahlawan mereka yang sudah terlebih dahulu pergi menghadap sang Ilahi.
Malik Aditama, adalah sosok laki-laki yang sangat penyayang dan juga bertanggung jawab kepada keluarganya. Malik bekerja sebagai awak kapal di sebuah kapal pelayaran penumpang antar wilayah, yang akan pulang setiap sekali tiga hari.
Tapi pada suatu hari cuaca sangat buruk, badai juga menerpa kota tempat mereka tinggal. Akan tetapi demi sebuah tanggung jawab pekerjaan, Malik harus tetap pergi untuk berlayar, karena hari ini penumpang mereka lumayan banyak yang akan berangkat ke wilayah yang berbeda-beda. Karena tidak mau mengecewakan pelanggan mereka, maka mereka memutuskan untuk berangkat dengan tetap memperhatikan cuaca, agar semua penumpang yang ikut di dalam kapal itu bisa selamat sampai di tujuan.
Semua penumpang sudah sampai di tempat tujuan sehari setelah Malik dan juga yang lainnya mengantarkan ke wilayah yang berbeda-beda. Namun malang tidak dapat dielakkan, takdir tidak bisa ditebak dan ditentukan oleh kita sebagai manusia biasa,
Karena kita hanya mengikuti apa yang sudah digariskan oleh takdir kita dari Yang Maha Kuasa.
Takdir jodoh antara Malik Aditama dan juga Riana Saputri harus berakhir hari itu dengan terdengarnya kabar buruk yang meluluh lantahkan hati Riana. Bagaimana tidak, di saat ia sedang hamil besar, suaminya harus pergi meninggalkannya sendiri di dunia ini, saat itu Hani masih dalam kandungan ibunya Riana, usia kandungan Riana waktu itu masih 6 bulan.
Tangisan dan juga ratapan pilu Riana menjadi-jadi saat melihat jasad suaminya sudah membiru ketika petugas tim SAR membawa jasad itu pulang ke rumah mereka. Saat dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan penumpang ke tujuan mereka masing-masing, cuaca semakin memburuk, badai semakin kencang, petugas dan awak kapal situasi itu sehingga mereka tidak bisa lagi mengendalikan keadaan, kapal yang mereka tumpangi itu terbalik dan tenggelam.
Karena cuaca yang sangat buruk, tugas tim SAR kesulitan untuk mengevakuasi para korban. Dua jam setelah kapal itu tenggelam, barulah petugas tim SAR baru bisa bergerak untuk melakukan evakuasi. Hanya tujuh dari sepuluh jasad korban yang ditemukan, selebihnya korban dinyatakan hilang dalam pencarian tim SAR.
Tapi tapi beruntung jasa Malik masih bisa ditemukan oleh tim SAR walaupun jasadnya sudah tidak utuh, seluruh tubuh Malik sudah membiru karena ia terjepit di salah satu jendela kapal. Riana menjerit pilu melihat kondisi suami yang sudah tidak bisa mendengarkan segala keluh kesahnya itu.
__ADS_1
Semenjak kepergian Malik untuk selamanya, Riana sendirian mengurus kehamilan yang sudah semakin besar, Riana harus bekerja mencari kehidupan agar bisa tetap makan setiap hari, karena semenjak ia menikah dengan Malik, mereka memutuskan untuk hidup mandiri di kota yang mereka pilih. Karena hidup di kampung halaman juga sangat tidak mungkin, keahlian dan juga pekerjaan Malik di kota tempat mereka tinggal tidak bisa diabaikan. Kondisi orang tua Riana juga yang pas-pasan, tidak memungkinkan untuk mereka menumpang hidup bersama mereka.
Itu sebabnya Riana dan Malik memutuskan untuk hidup mandiri di kota seberang. Tapi sekarang Riana harus berjuang sendirian tanpa sosok suami dan juga pendamping dalam hidupnya, ia juga harus kuat dan tegar demi bayi yang ada di dalam kandungannya.
Setelah kelahiran Hani, hidup Riana kembali berwarna. Bayi yang menjadi penyemangat hidupnya itu membuat dia bisa bangkit kembali dan semangat hidupnya kembali berkobar.
"Kenapa aku tidak punya ayah, Ibu?" pertanyaan yang satu itu selalu membuat Riana berderai air mata.
"Kau punya ayah, Nak!" jawab Riana menjawab pertanyaan putri kecilnya itu.
"Tapi dimana ayahku sekarang, Ibu? Kenapa ayah tidak pernah bermain denganku? Apa ayahku pemarah, Ibu?" pertanyaan gadis kecil yang masih polos itu membuat Riana semakin tidak bisa menyembunyikan duka lamanya karena kehilangan suami tercinta.
"Ayahmu ada di surga, Nak! Ayahmu tinggal bersama Tuhan!" jawab Riana.
"Wah, Ayahku hebat, Bu! Aku juga mau tinggal bersama Tuhan, Bu! Kapan kita akan ke rumah Tuhan, Ibu?" tanya Hani lagi.
"Nanti kalau kita Sholat, maka kita akan bercakap-cakap dengan Tuhan, Nak! Hani harus berdo'a agar ayah di sayang oleh Tuhan!" ucap Riana lagi.
"Iya, Bu! Nanti aku akan berdo'a agar ayahku tidak dimarahi disana, aku juga kan berdo'a agar ayah mau pulang sebentar jika tidak aku yang akan pergi ke rumah Tuhan untuk bertemu ayah, Aku..."
__ADS_1
"Ssstttt! Sudah cukup, Nak! Sekarang ayo kita tidur dulu, nanti setelah bangun, baru kita berdo'a lagi agar bisa bertemu ayah suatu saat nanti!" ucap Riana memotong kalimat putrinya itu.
Bagaimana mungkin ia akan rela jika putri kesayangannya itu juga harus menghadap Tuhan sekarang? Hani adalah satu-satunya harta yang ia punya setelah kepergian suaminya. Sekarang anak itu malah ingin pergi menemui ayahnya di Surga. Riana bahkan tidak sanggup untuk membayangkan itu.
Setiap hari ia berjuang mencari kehidupan untuk dirinya dan putrinya Hani. Riana tidak pernah merasa lelah dalam mencari nafkah, ia juga tidak pernah mengeluh saat sekaligus merangkap sebagai ayah dan ibu bagi Hani. Riana selalu berusaha agar Hani tidak pernah merasakan kalau ia tidak punya ayah. Riana selalu mempunyai cara agar putrinya itu bisa puas dengan jawaban yang ia berikan saat Hani bertanya tentang ayahnya.
Begitulah hari-hari yang mereka jalani berdua, Hani yang semakin hari semakin mengerti dengan keadaan yang sebenarnya, tidak pernah lagi membahas tentang ayahnya. Ia sudah tahu kalau selama ini ibunya selalu menahan duka setiap kali ia bertanya tentang ayahnya.
Hani semakin tumbuh dewasa, ia bertekad kuat ingin membuat ibunya bahagia dengan kesuksesannya. Hani berjuang dengan giat dalam pelajarannya, siang malam Hani selalu mengulang pelajaran agar ia semakin paham. Hingga akhirnya Hani bisa lulus SMA dengan hasil yang membanggakan, Hani juga dapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas di Kota Jakarta. Demi cita-citanya, Riana harus merelakan putrinya itu jauh sementara darinya.
*****
Tringgg...
Tringggg...
Dering ponsel mengejutkan Hani, membuyarkan lamunannya tentang masa kecilnya yang selalu merindukan sosok ayah.
Bersambung.
__ADS_1