
Setelah aku dibawa ke rumah mewah itu aku disuruh untuk beristirahat di sebuah kamar yang sangat besar bahkan kamar itu hampir saja sama besar dengan rumah kami yang sangat sederhana. Tapi walaupun aku disuruh dengan kamar yang sangat besar dan juga bagus itu aku tetap saja teringat kepada ibu dan juga saudaraku yang lainnya. Aku ingin pulang, aku tidak ingin tinggal di rumah mewah ini.
"Hei, Leo. Apa yang kau lakukan di sini? Ayo cepat sana pergi ke kamarmu untuk istirahat karena nanti kita akan pergi ke acara keluarga dan kau harus ikut ke sana nanti," titah bu Rita padaku dengan suara keras.
Aku tak hanya karena selama ini ibu tidak pernah membentak kami dan ibu selalu berkata lemah lembut kepada kami semua. Walaupun bapak terkesan bicara sangat keras dan kasar, akan tetapi ibu tidak pernah melakukan itu kepada kamu dan sekarang orang asing itu malah berani membentakku. Hal itu membuatku semakin takut saja tinggal di rumah besar ini.
"Sudahlah, Ma. Jangan bicara sekeras itu kepadanya dia itu masih kecil dan kita harus mengajarinya dengan sabar tentang semua yang harus dia lakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan di rumah ini. Leo kan baru saja datang ke rumah ini tentu saja dia belum paham tentang peraturan yang ada disini, Ma" bela pak Heru.
Walaupun pak Heru membelaku tapi tetap saja aku tidak merasa senang karena ia juga ikut andil dalam membawaku jauh dari ibu dan ibu dan juga semua saudara-saudaraku. Walaupun usiaku masih kecil tapi aku sudah bisa merasakan kenyamanan atau tidaknya tinggal bersama seseorang dan kenyamananku hanyalah tinggal bersama dengan keluargaku. Tapi mereka menyebut bahwa aku bukan lagi anggota keluarga di rumah ibuku dan sekarang ini keluargaku adalah mereka.
"Mama sangat kesal dengan anak ini. Susah banget mengerti dan pikirannya itu sangat kolot. Tidak ada gunanya juga terus mengingat keluarga miskin itu. Lagi pula Sekarang dia sudah tinggal bersama kita dan sebentar lagi dia akan merasakan kemewahan yang tiada tara. Lalu apa gunanya lagi mengingat-ingat mereka. Papa urus saja anak ini jangan sampai mama sampai stres dibuatnya padahal dia baru tinggal satu detik di rumah ini," ucap bu Rita dengan kesal.
"Baiklah, Ma. Papa akan memberitahu Leo bagaimana dia harus bersikap di rumah ini dan apa saja yang harus ia lakukan nanti. Sekarang mama istirahat saja di kamar, biar papa yang mengurus semuanya dan mengantarkan Leo ke kamar untuk istirahat," sahut pak Heru.
__ADS_1
Bu Rita hanya menangguk dan mendengus kesal. Setelah itu ia berlalu ke kamarnya tanpa berkata apapun lagi dan aku sekarang sudah tinggal berdua bersama pak Heru.
"Ayo, Nak. Papa antar ke kamarmu. Nanti papa akan temani Leo disana sampai tertidur," ajak pak Heru.
"Tidak usah ditemani, Pak. Aku bisa tidur sendiri nanti karena di rumah kami juga aku sudah biasa tidur dengan kakak-kakakku dan ibu juga mengajarkan kami untuk tidak menjadi orang yang penakut. Bapak tidak perlu menemaniku, bapak juga silakan istirahat," jawabku.
Aku tidak tahu harus berkata apa kepada pak Heru. Pak Heru adalah orang yang baik jika dipandang dari sisi lain dan dia juga tidak berkata kasar seperti istrinya Bahkan dia bicara sangat lembut kepadaku. Aku tidak tahu itu hanya akting saja agar aku betah di rumah ini atau memang beneran seperti itu sikapnya.
Aku hanya mengangguk saja karena saat ini aku tidak butuh apa-apa selain dari rasa keinginanku untuk pulang ke rumahku.
"Apa kau tidak butuh sesuatu sebelum papa pergi ke kamar?" tanya pak Heru lagi setelah ia berjalan beberapa langkah.
"Ya, aku butuh sesuatu, Pak," jawabku pada pak Heru.
__ADS_1
"Katakan saja, Nak. Semua yang kau inginkan akan diberikan. Apa kau mau mainan yang mahal dan yang sedang viral saat ini?" tanya pak Heru.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat.
"Oh bukan. Lalu apa, Nak? Apa kau lapar dan mau makan? Katakan saja apa makanan yang kau inginkan. Papa akan suruh pelayan memasak makanan itu," tanya pak Heru lagi.
Lagi-lagi aku menggelengkan kepala. Karena memang bukan itu yang aku inginkan saat ini.
"Lalu apa yang kau inginkan, Nak? Katakan saja. Kau adalah anak kami sekarang, jadi semua yang kau inginkan akan dikabulkan," ucap pak Heru.
"A-aku hanya ingin pulang ke rumah ibuku, Pak. Apakah itu bisa dikabulkan, Pak?"
Bersambung.
__ADS_1