Cerita Cinta YUCIA

Cerita Cinta YUCIA
18. Surat Tugas


__ADS_3

Pria itu kembali terpuruk. Kesedihan yang dirasakannya makin bertambah terlebih ketika dirinya telah menyadari bahwa Ciara pernah hadir menjadi bagian dari kehidupan di masa lalunya. Tak begitu banyak yang ia ingat, tetapi Yudha berasumsi bahwa dirinya dan Ciara telah berbagi banyak hal entah tentang apa pun. 


“Hancur, sial. Semuanya sudah hancur. Akulah yang mengacaukan semuanya. Padahal Ciara mencoba mendekatiku lagi hanya karena ia ingin kembali mengenalku sebagai Yudha yang dulu, tapi sialnya aku tak tahu itu. Aku benar-benar telah membuatnya sengsara,” sesal Yudha. 


“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa mencaci dan memakinya, aku tak pernah sekalipun menghargai niat baiknya. Aku benar-benar biadab dan jahat,” lanjutnya. 


Yudha benar-benar telah menyesali perbuatannya ketika semuanya telah terlambat. Pria itu hampir saja menjatuhkan air matanya jika tak buru-buru memgusapnya dengan cepat. Dadanya memang terasa sesak, tenggorokannya terasa tercekat, tetapi ia berusaha untuk tak menangis saat ini. Sudah cukup ia menangis karena ditinggal kekasihnya, jangan sampai ia kembali menangis karena menyesali perbuatannya sendiri. 


Ketika Yudha hendak membenarkan posisi tidurnya, dari luar seseorang memanggil namanya seraya mengetuk pintu dengan cukup keras. 


“Tuan Muda,” panggilnya dengan lantang. 


Yudha langsung terduduk. Ia langsung turun dan membuka pintu kamarnya. Seorang asisten rumah tangga baru terlihat sudah berdiri di depan kamarnya seraya menyodorkan amplop putih ke arah Yudha. “Tuan Muda, ini ada surat dari asrama,” ujarnya. “Tadi tukang pos kemari memberikan ini, jadi saya langsung membawanya saja. Ini pasti penting untuk Tuan muda, ‘kan?” Wanita itu tersenyum ramah. 


“Terima kasih.”


“Sama-sama.” Wanita itu langsung pergi, tak lama dari itu Andri yang baru selesai makan menghampiri putra semata wayangnya tersebut.


Yudha langsung mengambil dan menyobeknya. Dilihatnya sebuah kertas ukuran A4 putih dengan tulisan resmi di dalamnya yang meminta Yudha untuk kembali bertugas di luar pulau pada sebuah desa yang diduga menjadi tempat persembunyian beberapa kelompok penjahat yang hendak melakukan perlawanan pada negara. 


“Apa itu?” tanya Andri penasaran. 

__ADS_1


“Besok aku akan kembali bertugas dan mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi aku tidak bisa memastikannya, sih, seberapa lama. Yang pasti aku tidak akan di sini lagi,” jawab Yudha cepat. 


“Ayah senang mendengarnya, hati-hati.”


Detik berikutnya Yudha langsung berbalik  ke kamarnya untuk membereskan barang-barang penting miliknya. Dia dan beberapa temannya akan bertemu di pelabuhan fajar nanti, oleh sebab itu ia tak memiliki waktu untuk kembali menangis lagi. Ia memang belum tahu cara bagaimana untuk menemui Ciara, tetapi ia hanya perlu untuk kembali pada kenyataannya. 


--


Di atas kapal, pria itu menatap lautan yang luas. Di lantai bawah, ada banyak teman-temannya yang beristirahat di sana. Mereka menaiki kapal ini pagi sekali, dan sekarang hingga sore belum sampai juga. Wajar jika banyak yang kelelahan. 


Saat sekitar satu jam kemudian, kapal berhenti di pelabuhan. Segera Yudha dan banyak anggota mulai turun di sebuah desa yang sangat asing. Mereka memang sudah keluar pulang dan telah meninggalkan pulau kelahirannya jauh di belakang sana. 


“Yudha, ayo cepat! Kita harus segera sampai di penginapan sebelum malam,” ajak salah satu teman. 


Sekitar satu jam kemudian, mereka sampai di depan bangunan tua yang cukup luas dan kumuh. Mereka langsung turun untuk masuk ke dalamnya. 


“Kita di sini dulu sampai ada arahan lain dari atasan. Kita tidak tahu bagaimana keadaan malam nanti, tapi kita memiliki tugas untuk membuat aman masyarakat. Jadi, sebisa mungkin kita mengawasi daerah ini untuk sementara waktu. Tidak bisa dipastikan di mana para kelompok lawan akan menginap, tetapi bisa jadi tak jauh dari sini,” salah satu dari mereka berkata saat Yudha sedang sibuk memperhatikan bangunan rumah ini yang beberapa bagiannya sudah ada yang runtuh.


“Siap,” jawab mereka dengan tegas. 


“Dan jangan membuat kecurigaan. Kita tak boleh mencolok,” tambahnya. 

__ADS_1


Setelah mendapatkan beberapa arahan, mereka langsung masuk menempati kamar masing-masing. Di rumah itu terdapat lima kamar sehingga satu kamar bisa diisi oleh dua orang. Yudha tidur dengan anggota lain yang cukup ia kenal dengan baik sehingga pria itu tak perlu melakukan kenalan lagi.


“Desa ini benar-benar pelosok banget, ya. Di mana orang-orang sini membeli belanja bulanan?” tanya temannya itu seraya mengeluarkan botol minum dari tas. 


“Itu juga yang kupikirkan, karena sejak perjalanan dari laut, aku tidak lihat adanya pedagang atau kaki lima yang lewat. Apa mungkin ada penjual keliling yang mungkin berjualan? Karena tidak mungkin jika benar-benar kosong, pasalnya sesepi apa pun tempat ini menurut kita, masih banyak penduduknya,” balas Yudha mencoba berasumsi. 


“Mungkin.”


Yudha mencoba keluar meninggalkan temannya di kamar, sementara dia menuju teras mencari udara segar. Sesaat, ia kembali teringat pada Ciara yang entah berada di mana. Namun sekarang ia tak mau mengulangi kesalahan yang sama, ia tak mau akibat dari suasana hatinya yang tak menentu dapat merugikan dirinya di kemudian hari. Ia tak mau kejadian saat ditinggalkan Erina terulang saat ia ditinggalkan oleh Ciara. 


“Yudha, sebaiknya kamu istirahat dan tidur. Kalau kamu di sini terus, kamu bisa dicurigai oleh orang yang lewat,” ujar Dani yang sudah berdiri di belakangnya. 


Yudha menoleh, “Aku hanya mencari angin dan mencari keajaiban,” jawabnya. 


Dani terkikik geli mendengar jawaban Yudha. “Hei, lain kali kalau ada apa-apa kamu bisa bercerita padaku. Bukannya aku sudah bilang ini padamu, ya? Tak baik memendamnya sendiri. Lagi pula kita sudah berteman sejak pertama kali bertemu, jadi jangan sungkan padaku,” tegas Dani lagi. 


Yudha tersenyum. Sebenarnya senang ia berada di sini karena Dani memang sangat baik, tetapi ia tak pandai menceritakan apa yang ia rasakan pada orang lain meskipun itu adalah temannya sendiri. Sejauh ini tak ada satu orang pun yang menyimpan cerita Yudha, pria itu lebih suka memendamnya sendiri daripada harus dibagi. 


“Ayo masuk, nanti tutup pintunya. Kita harus segera istirahat sebelum besok keluar untuk berjaga,” pinta Dani seraya memukul pundak Yudha. 


Pria itu mengangguk, lantas menutup pintu dan kembali menuju kamarnya. Sebenarnya agak disayangkan saat ia tak satu kamar dengan Dani, tetapi beginilah memang pembagiannya. Satu sama lain harus berbaur dan tidak diperkenankan untuk membuat kelompok sendiri. Semuanya harus saling bekerjasama dan membantu yang kesulitan. 

__ADS_1


 


__ADS_2